Gle Gapui di Mata Langit

Oleh Makmur Dimila

Kotak-kotak cahaya lampu berjejeran di utara, selatan, barat, dan timur perkampungan sewaktu aku berdiri di bukit ini, memandang ke bawah. Kerlap-kerlip bintang menggelayut di langit segala lapisan langit. Sesekali gemuruh angin malam menampar wajahku sampai-sampai sejumput rambut panjang menutupi mata kananku.

Ini malam Jumat. Malamnya orang-orang kampung di kaki bukit, pula di sekeliling bukit ini. Sebentar lagi orang-orang itu akan hadir kemari. Untuk apa? Tunggu sebentar. Aku memutar badan dulu. Aku melangkah dulu ke dekat panggung itu. Panggung apa? Tunggu sebentar. Aku mengatur nafas dulu.

Rupa-rupanya beberapa lelaki muda tengah mempersiapkan pencahayaan di sekitar panggung. Sebagian membaluti dinding panggung dengan kain warna bergaris merah, kuning, hijau, dan hitam. Hanya satu dinding, di bagian timur panggung. Alasnya hitam. Atapnya berwarna merah. Panggung itu berukuran tak lebih dari tujuh kali lima meter.

“Selamat datang di malam pertunjukan budaya Aceh”. Rangkaian kata-kata itu menempel pada sehelai kain yang digantung di ujung atap panggung bagian depan.

Rupa-rupanya aku tengah berada di Gle Gapui, begitu mereka menyebut bukit ini. Kata mereka lho, setiap malam Jumat di Gle Gapui digelar pertunjukan bernuansa budaya Aceh. Yang mengisi panggung bukanlah seniman atau masyarakat dari luar Gle Gapui apalagi dari luar Aceh, tapi orang-orang yang sebentar lagi akan datang kemari.

Sungguh kumohon, semoga ini malam hujan tidak kena tugas membasahi tanah Gle Gapui dan sekitarnya.  Biarkan bulan dan bintang ikut menonton pertunjukan ini. Jam yang terlilit di tangan kiriku menunjuki angka 8. “Tes, tiga, dua, satu, suaraku mencoba,” sepotong suara keluar dari mulut seorang operator melalui toa. Diulangnya dua kali lagi. “Ka bereh nyoe (Ini sudah siap),” ujar pria berpeci hitam di utara panggung.

Sejenak hening. Hanya kicauan burung rimba dan nyanyian jangkrik yang terdengar. Tak berapa lama, kepala-kepala manusia bergerak-gerak hingga terlihat tubuh mereka sampai ke ujung sandal jepit. Tetua maupun pemuda dari berbagai desa hadir. Ibu-ibu menggendong anaknya. Remaja putra dan putri bercengkrama sambil berjalan kemari. Anak-anak berloncat-loncat sambil memandang bintang berekor jatuh”.

Sekemampuanku menaksir-naksir, jumlah orang dari kampung segala kampung itu sekitar tiga ratusan. Bagiku ini lumayan banyak, tapi entah berapa menurut bulan dan bintang, pula menurut taksiran jangkrik.

Mereka memadati tanah Gle Gapui. Rata-rata duduk bersila di rerumputan yang hijau lebat.  Mereka mengelilingi panggung kecuali di sisi timur. Tak bisa kulihat wajah mereka yang berdiri seperti kedinginan di saf paling belakang.

“Selamat malam semuanya… Mari kita saksikan dan ambilkan hikmahnya dari pertunjukan malam ini,” suara merdu perempuan protokol menyapa kami. Belum apa-apa hadirin sudah bertepuk tangan, tak sabar menyaksikan.

Tarian ranup lampuan dari desa di kaki bukit mengawali acara. Musik-musik yang ditabuh pria di tepi panggung sungguh membuat hadirin tidak ribut, mereka terdiam dan ada yang goyang-goyang kepala, tapi bukan goyang kepala goyang badan mendengar lagu dangdut. Hadirin menghayati syair-syair yang dialirkan dalam tarian penyambut tamu itu. Sesekali sorak penonton menggema, mengusir bangau yang sedang tidur di pucuk pepohonan jati.

Entah kenapa, Gle Gapui tiba-tiba ikut bergoyang, dan bergetar. Penonton pada panik dan berdiri semua. Aku mencoba tidak panik, aman-aman saja. Sementara yang manggung ikut turun hendak berlari, begitu juga hadirin hendak berlari. Mulut mereka mengeluarkan kaliamat-kalimat suci.

“Mohon jangan pulang dulu, ini teguran bagi kita. Mungkin ada di antara kita yang sering meninggalkan salat. Segeralah insaf. Insaf neuk, cupo, mawa, abu, adoe, dan aduen (nak, kakak, nenek, kakek, adik, dan abang),” saran lelaki berpeci hitam. Kata-katanya membuat orang kembali memutar badan dan duduk diam meski was-was.

Dilanjutkan beberapa tarian, seperti seudati, likok pulo, dan tarek pukat. Setelah itu giliran penyair dari desa timur bukit. Empat pria naik ke panggung. Aku yang tadi duduk di saf terdepan diajak mereka manggung, ditawar berbalas pantun. Aku pun rela, aku rela bila naik pentas apalagi ada bunga-bunga desa yang menonton. Sungguh aku ingin menunjukkan kebolehanku, memantik hati mereka. Mulailah kami. Kerap kali penonton terbahak-bahak mendengar celoteh kami.

Entah kenapa, tiba-tiba lampu tidak menyala. Teguran untuk siapa lagi ini. Gulitalah tempat ini, di sekeliling Gle Gapui juga demikian. “Soe na me panyot atau sente (Siapa ada bawa lentera atau senter)?” Seorang penyair menanyakan hadirin dari atas panggung. “Panyot hana (tidak ada) tapi sente na, cuman kabeh batre (cuma sudah habis baterai),” jawab beberapa lidah hadirin.

Kami jadi gaduh. Anak-anak menangis. Bulan dan bintang pun meredup ketika kami butuh cahaya mereka.

Hore, hore.. Lampu ka hu lom (menyala kembali)…” Anak bersorak ria. Sekarang lampu sudah hidup kembali. Kami mengatur saf kembali, melanjutkan beberapa hikayat lagi.

Angin malam semakin mencucuk tulang. Merinding. Kami turun. Tepuk tangan penonton memecah keheningan malam. Kini giliran para pesandiwara. Semacam seni udara (teater) akan dipertunjukkan. Naiklah beberapa orang dari desa sagi utara dan selatan Gle Gapui.

Mereka mulai bersandiwara. Sebelumnya mereka mengajakku ikut bersandiwara juga, tapi kutolak, suaraku sudah parau. Biarkan orang lain menginjak-nginjak lantai panggung. Berbilang menit penonton tertawa menyaksikan mereka.

Tapi entah kenapa mereka mempertanyakan langit, “pakon na geulanteu teungoh tanonton nyoe, rudok nyan lom (kenapa ada petir tengah nonton ini, mendung itu lagi..,” ucap beberapa penonton. Rintik hujan menyentil-nyentil tanganku. Rintikan hujan kian keras dan besar. Suara kambing menolak hujan di mana-mana, dan suara katak memohon hujan juga di mana-mana. Aku tak bersuara tentang hujan. Aku biarkan kemudian suara kilat mencambuk tanah Gle Gapui dan sekitarnya.

Sementara orang-orang berlari tak menentu arah. Seketika panggung kecil ini disesaki penonton. Tak ada tempat berteduh lain. Namun sebagian penonton berteduh diri di bawah pohon-pohon waru dan beringin yang memaku tanah bukit ini. Ada beberapa anak bersikeras bermain hujan, membangkang apa kata orang tua. Aku tak mau menegur mereka, biarkan halilintar menegurnya.

Di tengah-tengah hujan ini, bulu di seluruh anggota tubuh kami berdiri. Lalu samar terdengar suara aneh. Seperti bunyi ringkikan kuda. Dari bawah bukit anjing menyalak. “Bek rioh bek yo, kameu ratep (Jangan riuh jangan takut, tolong berzikir),” anjur pria berpeci hitam tadi pada kami. Anak-anak itu pun berlari pontang-panting. Mereka ketakutan dan mencari orang tuanya.

Dalam berlari-lari itu, empat orang anak tersambar petir. Mereka terpelanting ke hadapan kami. Apa hendak kami katakan. Kami diam tanpa kata. Tak peduli hujan, tak peduli setan, semesta hadirin yang sudah terpisah-pisah berlari kemari. Mengerubuni jasad anak-anak itu. Terdengar berbagai ungkapan dari mereka. Ada penyesalan, ratapan, makian, teguran, anjuran, simpati, kecewa, dan sebagainya. Tapi lidahkau tidak ingin bersilat.

Setelah puas meledak-ledak, kini letupan guntur dan petir berlari jauh ke sana. Semakin kecil terdengar, tapi gaduh dan gundah hadirin semakin besar terdengar. Hujan sedikit reda. Gerimis hujan membersihkan darah dari tubuh anak-anak yang sudah gosong itu. Tak tahan isak tangis orang tua.

Selepas kejadian malam itu, Jumat malam di Gle Gapui sepi. Mereka tidak lagi mengadakan pertunjukan. Sempat kusarankan menggelarnya di selain malam Jumat, tapi mereka menolak. Tak ingin lagi terjadi seperti itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga tahun berganti tahun, cahaya Jumat malam Gle Gapui padam.

Akan tetapi, sejak 10 tahun setelah kejadian itu, malam segala malam di Gle Gapui kembali bercahaya. Tidak hanya Jumat malam, tapi semua malam apalagi malam Minggu. Namun aku sangat heran. Tak bisa kupendam rasa heran dan benciku. Risih sekali. Rupa-rupanya generasi penduduk di kaki bukit Gle Gapui dan sekitarnya setelah tragedi Jumat malam itu berubah drastis. Mereka menghiasi malam Gle Gapui bukan dengan suatu pertunjukan budaya atau apa, tapi dengan hiasan yang tak bisa kuberi nama. Pernah kedapatan beberapa kali adegan mesum di sana oleh anggota WH, polisi syariat islam.

Kalau siang hari, Gle Gapui yang kini dipenuhi kios-kios dan warung-warung, pula ada kampus di bukit itu, dipenuhi pemuda-pemudi. Mereka bersandiwara dengan alur berbeda di sana. Ada kebut-kebutan, juga menjadi tempat pertemuan manusia berpasang-pasangan.  Entahlah. Biarkan sekali lagi, guntur dan kilat menegur mereka. Biarkan mata langit mempelototi Gle Gapui beserta isinya.[]

Dimuat di Harian Aceh, bisa juga diakses di http://www.harian-aceh.com

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

One thought on “Gle Gapui di Mata Langit”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s