Tidak Mahal Engkau Bungsu

BUNGSU duduk bersama perempuan-perepuan putik lainnya. Berjejer di panggung desa beralaskan papan jati dan beratapkan daun nyiur muda. Bungsu baru saja dibalut kain beludru yang bertaburkan manik-manik manis, begitu pula teman manggungnya. Tampak paras mereka putih kontras warna jemari mereka yang hitam. Tapi tak peduli, ketika seeorang lelaki muda bersila di hadapan yang kedua lengannya memeluk Rapai dengankain hitam-kuning yang melilit jidatnya. 

Orang-orang pada berkemas-kemas menunggu tubuh perempuan-perempuan berparas permai itu meliuk-liuk, termasuk Bungsu yang menjadi sajian hangat bak kenduri raya bagi pemuda desa. Sedang para bocah berlarian di hadapan panggung.

Angin senja bergemuruh bertingkah gemulai para perempuan di atas panggung yang mnghayunkan ke kanan dan ke kiri. Kepala mereka mengangguk-angguk, menggeleng-geleng, mengikuti lantunan syair yang dibacakan Syeh, lelaki muda penabuh Rapai.

Gerakan perempuan bak menabur benih padi dengan lengan yang dikepak sambil bernyanyi,:

//Bukon le sayang takalon bueh/ kaputeh-puteh lam laot raya/ Bukon le sayang takalon wareh/ jenggot kaputeh seumbahyang hana// (Sungguh sayang kita lihat buih/ putih-putih sudah dalam samudra/ Sungguh sayang kita lihat kaum/ jenggot sudah putih salat tiada//).

Sair-sair itu telah membuat para lelaki yang sebelumnya hanyut dalam terpaan gelombang perempuan-perempuan itu, mulai membisu sambil meraba-raba dagu. Para lelaki tertua diam merunduk. Karamlah nafsu pria-pria itu ketika Bungsu dan kawan-kawannya kembali berlekuk bak gelombang yang menyapu buih-buih ke bibir pantai keheningan, hadirin pun larut akan pertunjukan itu hingga tengah malam. Suatu malam yang mengisyaratkan esok hari mulai panen padi.

Usai sudah panen padi. Bungsu duduk di atas kursi rotan sambil menggoyang-goyangkan tumit kakinya yang pecah-pecah, namun kukunya mengkilap dan bulat-bulat. 

Duapuluh tahun berlalu, Bungsu sudah dime tanda (dipinang) berkali-kali oleh satu setengah lusin lelaki bujangan maupun duda-duda buangan. Heran, Bungsu tak menerima satu pun jeulamee  yang ditawarkan sejumlah lelaki itu. Kini, usianya menginjak angka empat puluhan. Dia hanya bisa duduk termenung di atas kursi roda di teras rumah kayu milik emaknya. Merenungkan masa-masa dia menari di atas panggung desa. Tapi kini ia harus menggantungkan kedua kakinya setelah Odong-odong menggilasnya kemarin sore hari. Matanya berkaca-kaca seperti meratapi keegoisannya

* Makmur; adalah mahasiswa tinggal di Jalan Bahtera, Lorong  Intan Kampung Mulia, Banda Aceh.

Telah dimuat Serambi Indonesia

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s