Gampong Bersyariat, Alah Bisa Karena Dipaksa

Gampong merupakan satu di antara berbagai sarana untuk menumbuhkan sesuatu. Lalu mengembangkannya. Gampong juga bagian dari pemerintahan. Lantas bagaimana jika gampong-gampong di Aceh dijadikan pusat penegakan syariat islam? Apa yang harus dilakukan. Dan bagaimana agar masayarakat dapat menerima dan melaksanakan penerapan syariat itu dengan baik? Hal-hal konkret apa yang harus dilakukan?

Menurut hemat saya, ada beberapa cara yang harus ditempuh. Pertama sekali, pemerintah baik dari provinsi hingga ke geuchik harus bekerjasama. Harus saling berkomunikasi dengan baik. Harus seiya sekata. Kemudian ke semua jenjang pemerintahan itu harus berkomunikasi lagi dengan alim ulama atau cerdik pandai, dan dengan orang-orang dayah di Aceh. Orang pemerintahan harus duduk semeja dengan orang dayah demi mencari solusi dalam penegakan syariat islam di tingkat gampong. Kedua lini ini harus berkolaborasi sehingga menghasilkan sebuah cara konkret untuk menerapkan syariat islam. Hasil pertemuan itu bisa dengan membentuk sebuah tim khusus pemantau penegakan syariat islam. Nantinya tim tersebut akan bertugas sebagai tempat pengaduan masyarakat (mediator) dan turun langsung ke gampong-gampong.

Kedua, saluh satu tawaran saya, yakni setiap gampong harus diperbaharui tradisi lama. Di antaranya, setiap malam atau hari, kalau keberatan, minimal seminggu sekali setiap gampong yang tersebar di tanah Aceh harus diadakan kajian agama. Memang beberapa gampong di pelosok sudah mencobanya. Namun lambat laun yang hadir ke kajian itu memudar oleh kesibukan masing-masing. Yang perlu dilakukan sekarang, pemerintah melalui pihak camat atau kabupatan turun langsung untuk mengawasinya. Karena untuk jaman sekarang mesti berlaku pepatah (pelesetan) ini, seperti kata kawan kami dari FLP Aceh, “Alah bisa karena dipaksa”. Kesadaran diri tak ada lagi sekarang. Niscaya perlu dipaksa untuk menerapkan syariat islam, tapi tidak dengan kekerasan. Salah satu paksaan itu bisa dengan menetapkan aturan: setiap warung atau sejenisnya dan tempat keramaian harus ditutup sebelum magrib sampai setelah isya. Jeda segitu tak lama rasanya.

Ketiga, antara gampong yang satu dengan lainnya harus saling berkomunikasi juga. Misalnya, setiap seminggu atau sebulan sekali, antar mukim atau pun antar camat mengadakan pertemuan untuk membahas sejauh mana syariat islam sudah dijalankan di masing-masing gampong. Pertemuan ini bisa dihadiri oleh masing-masing geuchik atau lurah atau wakilah. Kemudian hasil pertemuan ini dilaporkan ke pihak yang lebih tinggi, ialah ke tim khusus pemantau penegakan syariat islam yang dibentuk pemerintah tadi. Kalau perlu tim khusus itu digaji pemerintah agar lebih gigih dan sungguh-sungguh.

Toh, saya rasa dengan cara-cara tadi syariat islam akan tegak di gampong-gampong di seluruh Aceh. Kita berharap, jangan sampai negeri ini seperti kata Nyak Kaoy, na geuchik lagee boh pik hana sagoe, na waki lagee keubiri gatai asoe, na rakyat hudah huduh lale keudroe. Mandum lale bak let peukateun donya, hana soe le yang pike keu uroe dudoe. Maksudnya, baik pemimpin dari tingkat desa hingga pemerintahan tertinggi, juga rakyat, masing-masing sibuk sendiri. Semuanya kejar kesenangan dunia, tidak ada lagi yang pedulikan agama.

Penulis; mahasiswa KPI-Jurnalistik Fak. Dakwah IAIN Ar-Raniry

**Opini singkatku ini dimuat di tabloid Gema Baiturrahman, bisa juga diakses di http://www.gemabaiturrahmanonline.com

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s