Salam dan “www”

Oleh Makmur Dimila

Belakangan ini di Aceh, mengangkat tangan sambil mengucapkan salam kepada sesama muslim sepertinya hampir pudar. Sebagian orang sudah cukup berpegangan bahwa salam itu sunah hukumnya. Sehingga merasa wajar saja bila tidak mengucapkan salam kepada orang yang dijumpai atau dipandanginya. Sebaliknya, kalau diberi salam takutnya tidak dijawab dengan ikhlas. Itu membuatnya malas melemparkan salam, apalagi sambil mengacungkan tangan. Sebagian orang menganggap, mungkin, memberi salam dengan lisan itu malu. Malu karena tak biasa. Atau malu karena suaranya tidak merdu.

Belakangan ini. Seorang anak, kecuali anak sederajat SD, sudah enggan menebar salam kepada orangtuanya ketika keluar dan masuk rumah. Apalagi mencium tangan orangtua. Merasa diri sudah besar dan hanya keluar-rumah sendiri kok, jadi buat apa menyapa salam dan mencium tangan orangtua.

Belakangan ini. Seorang yang pernah digurui meski hanya sepotong kalimat, terkadang enggan memberi salam kepada orang yang telah mengguruinya itu ketika secara tiba-tiba bertatap muka. Mungkin, karena yang mengguruinya itu lebih tua darinya, lantas ia menganggap itu kewajiban yang tua terhadap yang muda. Yakni menasehatinya meski seperti diajari. Sebaliknya mungkin, karena yang mengguruinya itu lebih muda darinya, lantas ia merasa tak patut memberi salam kepada yang lebih muda itu ketika sesekali saling tatap mata atau melirik di luar (jika tak ingin dibilang di lingkungan kampus misalnya). Gengsi.

Belakangan ini. Aneh terkadang. Ketika seorang yang sekarang sudah dewasa atau baru beberapa hari tak berjumpa lagi dengan gurunya karena sudah lulus, membuang muka ketika melihat “mantan” gurunya di suatu karamaian atau di tempat lain. Bukan mengejar dan menemuinya. Lalu mencium tangan dan berlutut bila sesuai dengan situasi dan kondisi (jika tidak mau dikatakan tidak enak dengan situasi dan kondisi). Apalagi kalau seseorang itu sudah berkeluarga. Belum lagi saat hari raya. Sudah jarang murid yang bersilaturrahmi ke kediaman gurunya. Mungkin, waktu cutinya kurang sehingga tak sempat diri untuk itu. Bukankah guru itu sama dengan orangtua murid posisinya bila di lingkungan belajar-mengajar? Homlah.

Belakangan ini. Seseorang atau sekelompok orang dengan berkendaraan melewati jalan perkampungan, sudah jarang sekali menyapa salam ketika sedang melintas di depan pos ronda atau warkop dan sebagainya. Terkadang menutup kaca mobil. Atau malah menambah kecepatan motor. Atau hanya cukup dengan menyungging senyum simpul saja. Mungkin menganggap, “kan lagi mengemudi, takut jatuh nanti.” Atau menganggapnya hanya numpang lewat saja. “Jalan yang dilewati kan jalan negara. Apa pasal menghormati orang kampung tersebut?” Oh, tidak! Demikian tidak benar. Bukankah salah satu kewajiban antar sesama muslim adalah menjawab salam jika diberikan? Ya. “Tapi dia tidak memberi salam?” Ya. Tapi apa salahnya jika orang yang sedang tidak berkemudi lebih duluan memberikan salam kepada pengendara. Alih-alih mengingatkan pengendara itu supaya mengucap salam ketika melintasi di depan seorang atau beberapa muslim.

Belakangan ini. Terkadang menjawab salam lebih pendek dari yang diucapkan. Dalam suatu hadits dijelaskan, menjawab salam sekurang-kurangnya adalah sama atau sederajat dengan apa yang diucapakan. Tidak boleh kurang dari itu, dan sangat boleh dengan lengkap. Misal, “assalamualaikum,” boleh dibalas dengan hanya “waalaikum salam,” dan dianjurkan menjawabnya dengan sempurna. Jika pemberi salam mengucapkan dengan lengkap, “assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”, maka wajib dijawab dengan sempurna pula. Tidak dibolehkan menjawab hanya sebatas kata “waalaikum salam warahmatullah” atau lebih pendek lagi dari itu. “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu.” Qs An Nisaa 86. Yaitu dengan mengucapkan : Waalaikumumssalam warahmatullahi wabarakatuhu. Jawaban ini berlaku bagi individu maupun kelompok.

Benarkah bila saya katakan ucapan salam itu banyak manfaatnya? Selain mempererat atau ingin bersilaturrahmi, ia juga sebagai langkah awal untuk menanyakan pada seseorang ketika kita tersesat di jalan. Nah, kalau kesasar dalam perjalanan, kita dengan terpaksa harus bertanya. Toh, kita harus menyapa orang yang ingin kita tanyakan itu dengan ucapan salam jika tidak ingin ditunjuk ke jalan lebih sesat lagi. Selain sebagai tanda hormat, memberi salam juga sebagai satu di antara cara untuk awet muda. Tentu dengan dibarengi senyum ramah ketika mengucapkan salam. Sehingga, seperti kata seorang pakar kesehatan berdasarkan hasil risetnya, semakin banyak senyum, wajah kita kian awet muda. Jadi, mulai sekarang kita harus “memasyarakatkan” memberi salam tanpa rasa malu dan sebagainya.

“www”

Akhir-akhir ini. Saya entah berapa kali geleng-geleng kepala tanda tak rela ketika membaca pesan masuk dari beberapa kawan di handphone saya, pesan yang disertai dengan jawaban salam, “www”. Begitu ditulisnya. Adalah menyingkat kalimat “waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu”. Sudah kayak situs aja, bukan? Sebagian beralasan untuk menyingkatkan pesan. Ada pula berkata untuk menghemat: karakter, kata, uang, dan waktu. Pula berdalil, “buru-buru”.

Padahal apa susahnya menulis dengan lengkap meski hanya dalam bahasa latin, waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu. Yang artinya lebih kurang, “selamat sejahtera juga kepadamu semoga rahmat dan keberkatan-Nya tercurahkan atasmu”. Sedangkan “www” itu apa artinya bila dikaitkan dengan salam. Bila dalam dunia maya, itu hanyalah kependekan dari world wide web.

Jika sedikit menelusuri lebih dalam, mungkin orang menjawab dengan “www” karena tak mau kalah uniknya dengan pemberi salam. Sebagian menuliskan salam di handphone dengan kata-kata singkat seperti, “as, ass, asl”. Dan mungkin banyak model lainnya. Andai coba kita tafsirkan pula arti itu, sungguh amat melenceng. Dalam bahasa Inggris, kata “as” mengandung arti: laksana, ketika, karena, sebagaimana, sama, sebagai, dan selaku,  tergantung di kalimat apa dan bagaimana digunakan. Sedangkan kata “ass” mengandung arti keledai, lobang anus, dan bodoh. Sungguh kita itu (maaf) bagai keledai, bagai pantat, dan bodoh bila terus menerus menuliskan salam dengan kata “ass” ketika menyahut salam melalui pesan pendek di telepon genggam.

Bicara soal menyingkat kata-kata, akibat selain seperti di atas ialah membodohkan masyarakat dalam menulis. Karena kebiasaan menyingkat dengan dalih biar cepat, masyarakat akan sulit mengembangkan budaya menulis jika suatu saat berkeinginan menjadi penulis. Setidaknya untuk menulis sejarah-sejarah Aceh.

Akhir kata, kita mengharapkan agar saling lempar-sambut salam antar sesama masyarakat Aceh khususnya. Dengan siapa saja umumnya. Tanpa membedakan jabatan dan profesi. Dengan tidak melihat kondisi dan situasi. Saya yakin, ini akan menjadi satu solusi penabalan Aceh sebagai kota bandar wisata islami yang sesungguhnya. Semoga. Assalamualaikum…

Penulis; mahasiswa KPI-Jurnalistik Fak. Dakwah IAIN Ar-Raniry angkatan 2009

**Dimuat di tabloid KONTRAS

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

3 thoughts on “Salam dan “www””

  1. iya, tak ada lagi salam di tepi jalan sambil mengangkat tangan kanan, mungkin perkembangan zaman yang semakin congkak yang sudah menghapus budaya saling sapa itu. ah entahlah.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s