Gerimis untuk Sahabat Kami

“Keluarganya beranggapan, Murdani meninggal karena mereka tidak menyanggupi mahalnya biaya  operasi yang ditawarkan RSUZA”

Sekarang jam 7 lewat 30 menit. Padahal janjinya jam 7 pagi “teng”. Tapi mana “teng” itu. Entah. Namun tak berapa lama, beberapa mahasiswa lain dari unit 3 JLK 09 ditambah seorang dari unit 2 pada berkumpul di halaman sekolah bantuan Samsung itu.

Kami hendak ke Sawang, Aceh Utara. Segera kami menaiki dua mobil rental.

Jam satu siang kami berhenti di masjid Al Muslim, Bireun. Salat sebentar. Lalu melanjutkan perjalanan. Dan berhenti lagi di persimpangan menuju kec Sawang. Kami makan siang dulu.

Usai makan, rehat sekejap, lalu berangkat lagi. Kami menempuh jalan bebatuan dan penuh debu sebelum menyentuh tanah kampung Bralieng.

“Eh, itu tu kuburan Si Murdani,” Nihrasiyah yang pernah sekali kemari menunjuk makam di tepi jalan saat kami melintas sebuah jurong (lorong) desa Bralieng. Penduduk setempat juga menyebut kampung ini Krueng Aji.

Kami tiba di muka rumah almarhum sekira jam 3 sore. Kelihatan dari luar begitu sepi. Suasana rumah berukuran sekitar 7 x 8 m itu berdiri seperti tidak sedang berduka cita.

Hai, ka beudoh, na jamee. (Hai, bangun, ada tamu),” samar terdengar kalimat ini dari dalam rumah.

“Ini salah kita, tidak memberitahu keluarga almarhum lebih dahulu.” Ujar seorang kawan.

“Kan, sudah aku bilang tadi. Kenapa tidak kalian kabari?” Lebih kurang begitu kata Indah yang menumpangi mobil berbeda dengan saya.

“Bukan begitu, kami sengaja tidak memberitahukan agar orang rumah tidak repot-repotan nanti,” sahut Nihrasiyah yang semobil dengan saya. Namun saya memilih diam saja sembari membayangkan keluarg Murdani dengan sosok sesungguhnya Murdani.

Tamong, Neuk. Ayah Murdani ka geujak mita eumpeun kameng anyoe (Masuk, Nak. Ayah Murdani sudah pergi mencai makan kambing barusan),” Penghuni rumah keluar.

Lalu kami bersalaman. Segera kami dipersilakan masuk dan duduk bersila di lantai yang sudah digelar beberapa lembar tikar, seadanya. Kami berusaha menciptakian suasana hening, ikut berduka. Kami mencoba seramah mungkin di rumah sederhana alamarhum, di rumah yang berpaflon terpal tipis era 80-an.

Na keuh maksud kedatangan kamoe keunoe, jak peuturi droe dan jak bersilaturrahmi dengon keluarga Murdani, sekaligus kamoe doakan rakan kamoe, Murdani.. Kamoe lakee meu’ah nibak ahlul bait karna teulat kamoe kunjong, sebab wate uro meninggai nyan kamoe di gampong maseng-maseng. (Adalah maksud kedatangan kami kemari, untuk memperkenalkan diri dan bersilaturrahmi dengan keluarga Murdani, sekaligus kami doakan rakan kami Murdani. Kami mohon maaf pada ahlul bait karena telat kami berkunjung, sebab saat hari meninggal itu kami di kampung masing-masing),” ucap Jufriadi, juru bicara kami, terbata-bata. Sepertinya, dia tak kuasa menahan sedih akibat kontak batin.

Lalu emak almarhum, Nyak Nu (begitu disapa) membalas orasi Jufriadi dengan baik. Ada semburat duka di muka Nyak Nu.

Setelah itu, kami membaca Yasin dan berdoa yang dipimpin Tengku Hidayatullah As-Sunny.

Dari pantauan saya, selama Teungku Hidayatullah memanjatkan doa buat almarhum, ada seorang kawan yang menangis meusok-meusok alias sesenggukan. (Saya rahasiakan). Beberapa lagi hanya basah matanya. Namun saya seperti tidak bisa mengeluarkan airmata. Padahal sudah sekuat tenaga berusaha untuk menelurkan setitik air saja. Tapi tak kecapaian.

Usai ritual itu, kami berbincang-bincang sebentar dengan keluarga.

Aneuk lon rubah aleh dibeupok lee gop. Saweub saboh tuboh jih hana meudarah watee kamoe kalon di rumoh saket Zainal Abidin. Jih cuma reuloh bagian dalam ulee menurot peuriksa dokto (Anak saya jatuh entah ditabrak orang dari belakang. Sebab sekujur tubuhnya tidak berdarah waktu kami perhatikan di rumah sakit Zaibal Abidin. Dia Cuma rusak bagian dalam kepalanya menurut hasil periksa dokter),” cerita Nyak Nu.

“Tapih meunyo takalon honda jih yang cuman reuloh bagian likot, mungkin dibeupok lee gop dari likot. Apalagi na sidroe saksi dipeugah, Murdani dibeupok lee honda gop dari likot. Leuh nyan yang beupok jih diplueng laju (Tapi bila kita melihat motornya yang hanya rusak di bagian belakang, kemungkinan ia ditabrak orang dari belakang. Apalagi ada seorang saksi bilang, Murdani ditabrak dari belakang oleh pengendara lain. Setelah itu, penabrak segera lari),” kata seorang saudara kandung almarhum.

Watee nyan Murdani mantong meunafah. Pihak RSUZA lakee operasi ulee jih deungon biaya 50 juta u wateuh. Sedang kamoe cuman sanggop bayeu 50 juta u miyup. Akhe jih Si Murdani meuninggai kareuna han sanggop kamoe bayeu operasi (Saat itu Murdani masih bernafas. Pihak RSUZA minta operasi kepalanya dengan biaya 50 juta ke atas. Sementara kami cuma sanggup membiayainya 50 juta ke bawah. Akhirnya Si Murdani meninggal karena tidak sanggup kami biayai operasi),” Nyak Nu menambahkan. Sedih.

peumeu’ah Murdani meunyo na meusangkot-paot dengon utang-piutang. Aneuk lon nyoe mita peng kedroe untuk biaya kuliah keudroe. Kamoe han ek peusikula jih. That putoh ilon. (Maafkan Murdani bila ada bersangkut-paut dengan utang-piutang. Anak saya ini mencari uang sendiri untuk membiayai kuliahnya sendiri. Kami tak sanggup membiayai kuliahnya. Miskin sekali saya.” Ujar Nyak Nu lagi, air mata meleleh dari sudut matanya.

Di luar, langit mendung menumpahkan gerimis. Beberapa di antara kami pun tak tahan melelehkan gerimis air matanya.

Sebelum hari kecelakaan itu, Murdani sempat mengatakan pada orangtuanya, “Mak, uroe raya nyoe hana lon woe u Sawang (Mak, hari raya ini–Idul Fitri 1431 H–saya tidak pulang ke Sawang).”

Nyan keuh peusan terakhir jih (itulah pesan terakhirnya),” kenang Nyak Nu.

Menurut Nyak Nu, Murdani terakhir kali berada di kediaman orangtuanya pada 10-27 Juli 2010. Saat itu ia pulang dari Banda Aceh untuk menyambut pesta pernikahan kakak kandungnya. Dan di hari terkahir itu, ia bermaaf-maafan dengan semua orang terdekatnya.  Pula ia menyempatkan diri bersenang-senang dengan keponakannya.

Murdani aneuk muda yang got that. Akrab ngon mandum ureung yang disapa seulama udep jih. Galak membantu. Meutuah that jih (Murdani pemuda yang baik sekali. Akrab dengan semua orang yang disapa selama hidupnya. Suka membantu. Teladan sekali),” bilang Kek Banta Gadeng, sepupu emaknya mak Murdani.

Menurutnya, pada 17 Agustus 2010 (hari meninggal Murdani), jenazah dipulangkan jam 6 sore dari Banda Aceh dan tiba di Sawang jam 12 malam. Jasad anak keenam dari tujuh bersaudara pasangan Nyak Nu dan Abu Bakar itu selesai dikebumikan pada jam 2 dinihari.

***

Kami bergerak dari rumah duka menuju makamnya. Sekitar 300 meter dari rumah sederhananya. Ditemani keluarganya, kami melihat batu nisan pemuda pemberani dan neko-neko itu yang terakhir kalinya. Sebagian kawan meminta maaf di atas batu nisannya, sambil bersedih diri.

Semoga engkau mendengar permohonan maaf dia, saya, engaku, mereka, dan kita. Semoga engkau melihat kedatangan kami. Semoga kunjungan kami menjadi lentera bagimu Murdani. Semoga doa kami menjadi teman baikmu di alam kubur. Sampai jumpa kawan di suatu hari nanti.

 

 

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Gerimis untuk Sahabat Kami”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s