Keraguan Perginya Penghibur Tanah Ilmu

Sirine berbuka puasa tak lama lagi bakal melengking. Sore sudah dipungut senja. Penjual sari tebu di depan rumahku beranjak pulang. Aku masih menikmati sisa Senin itu di teras rumah. Sekaligus menonton dan meneliti, berapa persenkah perempuan berpakaian ketat yang melintas kampungku saban hari.

Aku terkejut ketika tiba-tiba pahaku seakan ada yang mengelus-elus. Begitu lembut sentuhannya. Namun agak kutaki. Penasaran. Eh, ternyata telepon genggamku yang telah kuatur-getarkan berdering dalam saku celana kain. Aku pun lega. Sebuah pesan masuk dari Munawar JLK 09. Namun aku bagai kesetrum listrik saat membaca pesannya. Aku tersentak.

“Telah berpulang ke rahmatullah kawan kita bernama Murdani. Akibat kecelakaan di Ulee Kareng tadi pagi.”

Jiwaku berguncang hebat saat  membaca pesan masuk dari Munawar hari keenam puasa Ramadhan 1431 H itu. Aku tak percaya.

“Kawan, jangan bercanda!” balasku.

“Benaran. Aku tanya sama abang tempat dia jualan di Darussalam barusan.”

“Oh, jika memang demikian, terlalu cepat dia meninggalkan kita. Tapi, aku kurang percaya. Bisa jadi itu sandiwaranya. Dia kan suka bikin kejutan?”

“Ah! Percaya tak percaya, itu terserah kau, Mur. Tanya aja sama abang itu.” Abang itu merujuk pada abang tempat Murdani jualan jus.

“Murdani hanya mengendarai motor sendiri pagi itu. Diperkirakan dia terjatuh saat melintas  di jembatan Cot Iri sekitar jam 7 pagi, akibat mengelak lobang di ruas jalan. Diduga juga menabrak tembok jembatan akibat mengebut. Sehingga kepalanya terbentur badan jalan aspal. Kata abang itu lagi, aku lupa namanya, kemudian Murdani dibawa ke RSUZA. Tak lama setelahnya ia menghembuskan nafas terakhir. Dan keluarganya yang datang dari Sawang Aceh Utara segera memulanginya. Sementara motor cepernya rusak lumayan parah.” Munawar mengirim pesan lagi.

Bagus juga Si Munawar bikin laporan, sudah kayak wartawan melaporkan sebuah kecelekaan di koran. Batinku.

Aku lemas seketika. Tubuhku luruh bagai bangunan ambruk. Rata dengan tanah duka. Aku membayangkan hari-hari dengannya hingga terakhir aku berjumpa dengannya sebelum meugang (megah) puasa Ramadhan. Aku membayangkan salahku padanya. Aku sering berselisih dengan lelaki pemberani itu. Ya, menurut kami, dia itu pemberani. Dia itu apa adanya. Pekerja keras. Penghibur. Tidak Pelit. Seyogianya aku menyukai pria macam dia, meski aku paling tidak suka ketika ia marah. Sedikit kena, ia langsung menyerang. Bagai menghadapi sarang tawon.

Murdani itu tidak cengeng. Dia kuliah dengan biayanya sendiri tanpa buah keringat orangtua. Bahkan ia bilang padaku suatu hari, kalau ia kuliah tidak diketahui orangtuanya.

Aku rasa, semua mahasiswa angkatan 2009 pasti ingat dia. Ketika ospek, dia paling sering mencari perhatian. Menghibur siapa pun meski konyol terkadang. Apalagi dengan kendaraan khasnya, motor modifikasi bergenre ceper, berwarna coklat manggis yang disematkan mawar merah di pangkal setangnya. Sungguh romantis. Sempat aku menungganginya sekali, dan aku merasakan keromantisan itu. Namun itu tinggal kenangan belaka.

Dan, aku amat menyesal tidak mengabulkan permintaanya,  buka puasa bersama dua hari sebelumnya. Aku malah tidak membalas smsnya. Aku terlalu cuek padanya. Arogan. Tidak perhatian pada kawan. Aku menyesal sekali. Sedih. Itulah manusia, ketika sudah tiada baru menyesal, batinku.

Aku sampai tak mengejar berbuka lebih cepat hari itu. Tak seperti hari biasa, aku yang paling duluan duduk di depan jamuan. Memperhatikan berbagai penganan. Baik rumahan maupun punya bibir jalan. Bahkan aku bayangkan, bagaimana cara pembuat penganan meremas-remas tepung. Terkadang aku hilang selera makan ketika membayangkan pembuatan timphan. Katanya, tepung itu diremas-remas pakai tangan telanjang. Ah, sok bersihkah aku? Begitu terkadang batinku menyahut. Namun petang itu, aku seperti lupa menunaikan ritual itu.

Rasa-rasanya, menggigit sebiji kurma bagai menggigit papan. Menyeruput teh bagai meminum urin. Nasi yang masih mengepulkan asap kegurihan bagai basi di lidahku. Mengunyah ayam goreng ala Upin-Ipin bagai mengunyah-kunyah kayu. Semua serba tak enak.

Bleh that, kon tapajoh ju kon!” Semprot emakku.

Aku tak peduli. Hanya Murdani aku bayangkan. Murdani, aku berdosa padamu. Maafkan aku. Batinku saat itu.

***

Usai pulang salat tarawih. Aku kirimkan pesan duka cita buat semua kenalanku dan Murdani pada semua mahasiswa IAIN Ar-Raniry, terutama jurusan kami, Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) konsentrasi Jurnalistik.

Daun muda telah gugur,

Setangkai.

Daun muda telah gugur

di musim hujan

di aspal hitam kejam

Daun muda telah gugur

di musim hujan

di pagi suci, mulia.

Daun muda pergi,

mati.

Sekali mati,

mati sekali!

Daun muda telah gugur

daun muda bernama Murdani

daun muda telah pergi

Selamat jalan Murdani

 

“Aku tak percaya.” Balas Indah. Pesan bernada serupa dikirim pula oleh Maria, dan beberapa kawan lain.

 

“Daun yang bersemayam kan abadi, dia tak hanya berlalu dan hilang digenggam masa, dia akan terus melihat sosok nyawa seperjuangan di tanah ilmunya.. Kuyakin dia kan berkata, “Kawan-kawan, mana persembahan buatku, bukan hanya doa yang kuinginkan, tapi secercik harapan di saat suatu hari menyaksikan kalian memakai baju toga, dengan memegang hasil buah imajinasi yang di kata pengantar tertulis kata, Murdani, ‘sosok penghibur di tanah ilmu kami’… Raihlah itu”

Begitu balas bang Khalis KPI 06 yang sangat berarti bagiku dibanding lainnya. Cicipi dan cecaplah setiap kalimat-kalimat itu, batinku.

 

***

Di SMA Adi Dharma Kp. Keuramat, kampus pengungsian kami setelah perencanaan Pak Rektor merehab gedung lama di Darussalam, namun sampai hari ini belum dikerjakan. Saat masuk kuliah pertama usai berlebaran. Seorang rekan perempuan membuka topic bicara sembari menunggu dosen masuk.

 

“Eh, kemarin kan, hari merebaknya kabar Si Murdani  meninggal, aku ditelfon seorang pria. Katanya dari Poltabes Banda Aceh. Dia minta mengirimkan pulsa ke Murdani untuk menghubungi keluarganya. Tanyanya begini, adek kawannya Murdani ya? Ya, aku jawab. Kata polisi itu lagi, Si Murdani ditahan. Dia hanya luka lecet. Tidak parah.”

 

“Yang benar In?” Tanyaku penuh bimbang, seraya menyimak capung yang melintas-terbang di depanku, dekat daun nyiur yang bergoyang-goyang di halaman kampus.

“Benar duhai Makmur.” Sahut Indah, sungguh-sungguh.

“Aku tak percaya. Orang BEMAF sudah ke rumah almarhum kemarin. Mereka sudah samadiah. Sudah menjumpai dengan orangtuanya. Sudah melihat batu nisannya. Kamu masih tidak percaya?”

“… Kan, aku polisi itu bilang? Ya sudah lah. Kita kapan melayat?”

“Dalam minggu ini, kata kawan-kawan lain.” Tutupku.

 

(Catatan buat pembaca: Mari menulis setiap apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Niscaya kita akan merekam sejarah. Setidaknya seperti di atas. Semangat!)

 

 

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s