Hujan Kedua

Langit bagai telah murka. Awan hitam berarak seakan sangat cepat. Seketika petala-petala langit berubah jadi hitam pekat dan padat. Gelagat kambing dan ternakan lainnya menggeliat. Mereka lari pontang-panting cari tempat berteduh. Jauh berbeda dengan Syakubat. Remaja berusia empat belas itu selalu duduk di rangkang halaman rumahnya jika mendung sedang memayungi kampung segala kampung. Hatinya kian senang saat hujan akan turun. Kali ini pun ia sedang tersenyum sumrigah menyambut hujan mengguyur.

“Syakubat, masuk Nak. Emak sayang kamu, Nak.”

Tegur-anjur dari tetangga dan emaknya tak didengar. Semakin ditegur semakin tergiur Syakubat untuk menyambut hujan. Syakubat tidak takut jika sakit akibat disiram air hujan. Malah dengan hujan itu jika ia punya penyakit akan sembuh. Tubuhnya kian bersih malah. Bukankah dalam air hujan itu mengandung natrium clorida, garam dapur yang bisa mencegah penyakit kaki gajah, begitu sanggahnya ketika siapa pun melarangnya. Entah benar.

“Brum!”

Rintikan hujan jatuh menerjang setiap atap-atap rumah, gundukan-gundukan tanah, pokoknya semua yang berdiri dan hidup di bumi. Bunyi gemuruhnya begitu berdentam bagai batu jatuh dari petala-petala langit.

Syakubat menadahkan kedua tangan seraya kepala mendongak ke langit. Sekujur tubuhnya sudah pasti basah kuyup. Sayup-sayup terdengar Syakubat melafalkan sesuatu. Cuma saja ucapannya kurang bisa disimak. Suara gerak guyuran hujan mengalahkan suaranya.

***

Siang itu Syakubat pergi ke ladang bersama ayahnya. Ia selalu mengikuti ke mana ayahnya pergi. Akan merewel jika dipantang. Setiap menyusuri pematang, Syakubat berloncat-loncat girang. Sekilas ia nampak bagai kodok raksasa sedang melompat-lompat di sawah.

“Syakubat.. Janganlah melompat-lompat. Kalu tidak dengar, tidak akan Ayah beliin patung kura-kura Ninja dan rencong.”

“Enggak mau enggak mau. Syakubat ingin segera dibeliin kura-kura Ninja dan rencong. Syakubat ingin seperti kura-kura Ninja membela kebenaran. Tapi dengan menggunakan rencong seperti pahlawan Teuku Umar.”

“Ya sudah kalau begitu. Jangan lompat-lompat lagi. Nanti terjatuh patah kaki bagaimana menjadi kura-kura ninja?”

“Ah, ayah.”

Seketika langit menggelap, abu-abu. Ayah Syakubat maklum saja, sebab angin bertiup dari utara ke selatan. Lagi pula saat itu lagi musim hujan. Katanya, jika mendung datang diiringi kehadiran angin yang meniup kencang ke arah selatan, itu alamat akan turun hujan. Maka ia mengeluarkan kresek hitam dari saku celana batik tuanya.

“Syakubat, pakai ini di kepala. Hujan akan turun sebentar lagi.”

Syakubat lugu meraih kresek biru itu. Lalu dikenanya sebagai pelindung kepala dari air hujan.

“Ayah, Ayah. Kenapa kepala harus dilindungi dari air hujan? Bu guru Syakubat bilang, air hujan itu mengandung garam. Kata Bu guru, kadar garam itu bisa mencegah penyakit kaki gajah. Kaki Ayah kan seperti kaki gajah?”

“Oh, anak pintar. Benar Bu guru bilang. Tapi kaki Ayah bukan kaki gajah Syakubat. Kaki Ayah memang besar sejak lahir. Ini nikmat Tuhan wahai Syakubat.”

“O, begitu ya. Tapi kaki Ayah kayak pisang goreng ya..”

“Ah, Syakubat ini. Tahu aja. Nah, rintik hujan mulai jatuh. Segera tutup kepalamu.”

Hujan pun turun mengguyur jagat raya. Syakubat dan ayahnya tak takut petir menyambar. Lagian hujan dalam beberapa hari terakhir jarang ada petir. Paling-paling cuma letupan guntur yang terdengar dari ujung langit.

Ayah Syakubat terkesiap sektika. Beberapa lelaki berbadan kekar tak diduga sudah berdiri di depannya. Seorang di antara mereka memegang sepucuk pistol. Selebihnya bertangan kosong. Sepertinya Ayah Syakubat mengenal rupa mereka.

“Hei, Maun. Hari ini kau tak bisa lari.”

“Apalagi mau kalian, kawan? Dua bulan lalu sudah kuberikan pistol itu, masih belum cukup? Cuma itu yang kusembunyikan.”

“O, berani membantah kau Maun!”

“Bug!”

Maun terjatuh ke dalam genangan air sawah. Airnya berkecipak terbang hingga menyapu wajah kalut Syakubat.

“Keparat. Jangan pukul ayahku.”

“Duk!”

Syakubat terpelanting ke pojok sawah ditendang seorang dari mereka.

“Sekarang katakan, di mana kau simpan senjata bekas konflik dulu?”

“Bukan kah kita sudah berdamai? Bukankah senjata sudah dimusnahkan?”

“Memang, tapi kami membutuhkan senjata itu sekarang.”

“Hei, kawan. Buat apa senjata? Ini bukan lagi zaman bersenjata.”

“Ah, kami tak peduli alasan kau. Beri tahu kami di mana kau sembunyikan AK-47 itu?”

“Enggak ada. Titik.”

“O. Tum!”

“Ayah…!”

Syakubat melotot benci pada empat lelaki itu. Dia bangkit dan berlari ingin menabrak mereka. Percuma, belum apa-apa ia sudah jatuh tersandung pematang.

“Haha. Bocah bodoh. Fuih! Yok, cabut.”

Syakubat hanya bisa menatap ayahnya mengambang di genangan air sawah. Air kuning kecoklatan sudah memerah. Darah terus mengalir deras dari kepala Maun, sederas air langit yang masih mengguyur. Syakubat bangkit lagi, perlahan.

“Ayah..! Jangan tinggali Syakubat. Ayah belum beliin Syakubat patung kura-kura ninja dan rencong. Ayah, bangun.”

Syakubat mendekap kepala ayahnya yang menyisakan lubang menganga dari dahi tembus ke belakang kepala. Ia mengguncangkan kepala ayahnya. Tiada tahu menahu dengan darah yang terus mengalir. Bulir air mata tercurah bak hujan lebat yang masih mengguyur.

“Akan kubalas kalian nanti. Akan kutusuk kalian dengan rencong Teuku Umar.”

Syakubat seketika menatap garang ke arah gerak para lelaki tadi, meski yang nampak hanya sekat putih kumpulan rinai-rinai hujan. Ia menggigit gigi sendiri seraya mengepalkan tangan. Rasa ingin balas dendam berkecamuk di hatinya.

***

Syakubat masih seperti sedia kala. Duduk bersila dalam rinai-rinai hujan seperti sedang bermunajat. Kali ini tatapannya menyorot tajam ke arah sawah nun jauh di sejauh ia memandang, di kaki perbukitan.

“Syakubat, masuk Nak. Emak sudah persiapkan pisang goreng.”

Syakubat tak menggubris. Lakonnya di atas rangkang semakin matang.

“Geretum. Srret!”

Syakubat terpelanting ke depan pintu rumah. Ranting-ranting merah petir menggelegar meletup di atas kepalanya, sehingga ujung ranting itu turut mencambuk tubuh Syakubat.

Emak Syakubat pun tersentak bak orang baru sadar dari lumpuh bertahun-tahun. Ia bangun dan menjenguk ke luar rumah.

“Syakubattt. Anakku. Anakku, hu hu.”

Perempuan yang sudah menjanda dua tahun itu tersentak lalu tumbang tergeletak. Hening.[]

(Telah dimuat Harian Aceh)

Istana Sempit, Banda Aceh, Oktober 2010

Penulis; mahasiswa KPI-Jurnalistik Fak. Dakwah IAIN Ar-Raniry

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s