Biji Nangka

Suatu masa, sewaktu awan merah telah berlalu pada langit senja, bintang gemintang menggelayut di langit muram, bulan menebar senyum paling ramahnya, semesta manusia pemimpi terlelap dalam selimut tebalnya, dan jangkrik melantunkan nyanyian orkestra malam, maka dua manusia berkepala sarung selalu melanglang dalam sudut-sudut kampung Baro.

Suatu masa, dua manusia berkepala sarung itu selalu berkelana menyusuri jalan setapak kampung Baro. Setiap di sepertiga malam, mereka melangkah pelan sekali ketika melewati pos ronda yang diisi tetua kampung, terkadang mereka merangkak pelan sekali ketika melewati rumah panggung, dan tak jarang mereka berjongkok hati-hati sekali ketika melewati rumah permanen kampung. Setiap di sepertiga malam, mereka mengincar  kambing segala jenis kambing, lembu segala jenis lembu, unggas segala jenis unggas, kecuali beo segala jenis beo. Tubuh mereka bergetar  ketakutan ketika melewati rumah yang memelihara beo.

Suatu masa, saban pagi orang dusun segala dusun kampung Baro riuh dan cek-cokan. Anak-anak yang suka memelihara ternak menangis sedu-sedan sambil duduk berselonjoran menggosok-gosok kaki pada badan jalan. Jika pagi ini, kandang segala kandang kambing orang dusun Jambe kosong melompong menyisakan bulatan-bulatan hitam kecil seperti biji jomblang. Maka pagi esok, kandang segala kandang unggas dusun Mamplam kosong melompong menyisakan bulu-bulu yang berserakan dan kulit-kulit telor yang pecah-pecah. Dan pagi lusa, kandang segala kandang lembu dusun Langsat kosong menganga menyisakan tumpukan-tumpukan tanah yang berbaur kotoran kering membentuk piring-piring. Maka semesta orang kampung Baro pun bertanya-tanya, siapa gerangan yang telah mengosongkan kandang segala kandang ternak kampung Baro.

Suatu malam, semesta orang kampung Baro pun sepakat untuk pura-pura tidur. Maka beberapa tetua yang meronda sepakat pura-pura tidur di pos ronda hingga subuh datang. Mereka menyiapkan biji nangka yang telah direbus bini masing-masing dan seteko kopi untuk melawan lapar dan kantuk.

Lalu di sepertiga malam, dua manusia berkepala sarung itu datang penuh hati-hati seperti biasa. Mereka hendak mencuri anak kambing yang baru dibeli seorang yang rumahnya bersebelahan dengan pos ronda. Mereka pun mulai menjamah kandang. Pada saat bersamaan dua kakek di pos ronda terbangun dan menyandarkan punggung di dinding pos ronda. Kakek itu lapar lalu memakan biji nangka. “Ho kapueng, kumemeh keuh. Ho kapueng, ho kapueng (Mau lari kemana, kumakan kalian. Mau lari ke mana, ke mana)?!” Kakek berujar keras sambil mengunyah biji nangka yang berlari-lari di gusinya yang tak lagi ditumbuhi gigi.

Tiba-tiba, brah-bruh, brah-bruh, dua manusia berkepala sarung itu lari pontang-panting dari dalam kandang. Mendengar suara gaduh itu, kakek memukul-mukul sehasta bambu yang digantung pada pos ronda. “Tak-tok, tak-tok, tak-tok. Pencuri.. Pencuri..” Kakek berteriak sekeras-kerasnya memecah keheningan malam. Seketika lampu rumah segala rumah menyala. Maka semua penghuni keluar dengan sepotong kayu di tangan mereka masing-masing. Dua manusia berkepala sarung tadi terkejut melihatnya. Sungguh tidak seperti lazimnya. Mereka pun tak tahu lagi harus lari ke mana. Orang kampung Baro sudah mengepung. “Ampun.. ampun..” Teriak kedua manusia berkepala sarung itu. Orang kampung Baro marah besar, lalu menghajar mereka membabi-buta. Setelah jera, kain sarung kotak-kotak yang membaluti separuh tubuh dan wajah yang dilobangi pada bagian mata dan mulut mereka dilepas. Adalah kedua manusia berkepala sarung itu ternyata pemuda kampung Baro, anak fulan bin fulin. Maka semesta orang geleng-geleng kepala seakan tak percaya. “He he he, biji nangka membawa berkah,” celutuk kakek tadi.

(Telah dimuat Harian Aceh di rubrik Cang Panah)

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s