Ujian Apa Syat

Puluhan orang menuju kedai di sudut kampung. Sekira dua lemparan batu dari rumah Apa Syat. Pria-wanita. Tua-muda. Miskin-kaya. Nyaris semua penduduk hadir dan mengerubungi seorang lelaki yang tengah  berkoar-koar di sana, di muka warung kopi kampung Tanjong. Apa Syat mengintip mereka dari bilik tirai jendela, melalui celah remang-remang cahaya petang merangkak malam. Apa Syat sudah pasti mengenal mereka semua, kecuali lelaki itu.

“Ini malam, malam berbeda dari malam segala malam. Beruntunglah mak, ayah, adik, abang, uwak, kakek, dan nenek yang hadir di tempat ini malam.”

Sepertinya suara lelaki itu bergema melalui toa. Lelaki itu pasti penjual obat, batin Apa Syat. Jika benar penjual obat, Apa Syat tak ingin orang kampungnya ditipu penjual obat seperti yang terjadi sebulan silam. Minggu malam itu, semua kepala keluarga kampong Tanjong membeli ramuan-ramuan yang ditawarkan. Namun sehari setelah malam kedatangan lelaki penjaja obat-obat tradisional itu, orang kampong Tanjong mengeluh, termasuk istri Apa Syat yang gatal-gatal sekujur tubuhnya akibat mengonsumsi obat yang ditawarkan lelaki malam itu. Bahkan tetangganya sampai terkelupas kulitnya dua hari setelah memoles ramuan pada panunya. Oh, tidak. Itu tak boleh terjadi lag, pikir Apa Syat.

Apa Syat pun menerka-terka, siapa lelaki itu. Barangkali itu orang gila. Tapi kenapa banyak orang kampungnya bagai terhipnotis oleh kehadirannya. Mungkin ia penceramah. Jika benar penceramah, aku tak ingin melihat tingkah orang kampungku. Bila penyampaiannya nanti tak ada sedikitpun yang lucu, maka semuanya akan pulang tinggali penceramah sendiri di atas mimbar, kecuali Pak Keuchik sama Petua meunasah mungkin. Ah, tidak juga. Sebab tidak ada pengumuman sebelumnya. Apa Syat pun berniat mendatanginya.

Apa Syat berjalan dengan tergesa-gesa. Agak cepat. Hatinya bertanya-tanya, siapa lelaki itu.

“Ini obat bukan sembarangan obat. Penyakit kulit akan sembuh. Penyakit tubuh akan pergi. Penyakit hati akan luruh. Penyakit kambuh akan teratasi. Saya jamin tidak ada efek samping. Kalaulah ada setelah memakainya, uang saya kembalikan. Mari-mari, murah-murah.”

Apa Syat melangkah lebih pesat dalam kedinginan malam.

“Fuh..! Di dalam kotak berbalut kain hitam itu ada seekor merpati. Coba lihat mak-mak. Lebih dekat.” Ujar lelaki itu sambil mengatur pencahayaan hingga jadi remang-remang.

“Nampak, Mak?”

“Tidak.”

“Berarti mata Mak sudah tidak bisa memandangi sinar. Retinanya bermasalah. Obat ini sangat bagus untuk mata seperti itu. Coba saja sekarang. Dicolek dan digosok-gosok saja di mata. Ayo.. ayo. Beli dua gratis satu. Harganya sudah turun lagi sekarang. Dua puluh ribu dapat lima botol. Mari, ini ada obat panu dari luar negeri. Bagus sekali bagi saudara-saudara yang sudah bosan dengan kepanuan. Saya jamin, malam ini juga panu di kulit saudara akan hilang.”

“Teungku, kami akan membeli obat ini jika Teungku duluan yang memakainya. Maaf. Sebelumnya saya ingin memeriksa badan Teungku. Setuju saudaraku semua?” Apa Syat menguji kejujuran lelaki penjual obat.

“Setuju. Setuju!” Sahut orang kampung Tanjong.

Lelaki itu kelihatan salah tingkah ketika hendak diperiksa. Ada ketakutan tersirat di air mukanya.

“Nah, ini apa di leher Teungku? Panuan kan? Banyak amat. Ini lagi, di tangan Teungku. Wah, di dahi ada juga ini.”

Lelaki itu tertunduk. Sepertinya tersipu dan terpukul.

“Bagaimana saudara-saudara yang kuhormati? Sudah lihat sendiri bukan? Teungku ini mau menipu kita. Dia sendiri panuan, malah menawarkan kita obat panu. Tentu kita tidak mau mengalami lagi penipuan seperti bulan lalu bukan? Sekarang apa yang kita lakukan untuk lelaki penipu ini?”

“Bunuh saja dia! Ayo, hajar.” Sahut beberapa orang.

“O, tidak. Belum dibolehkan main hakim sendiri. Andai Teungku ini seorang dari keluarga kita, apa mau membunuhnya? Tidak kan? Makanya, kita bawa saja Teungku ini ke polisi.”

Mereka terdiam. Lalu sebagian pulang. Sebagian lagi menemani Apa Syat membawa penjual obat ke kantor polisi.

Penulis; mahasiswa KPI-Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry dan pengurus acehjurnal.com

(Telah dimuat Harian Aceh di rubrik Cang Panah)

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s