Baluem Bilidi

Emak Ari bilang, baluem bilidi mendiami sungai kampungnya. Emaknya pernah melihatnya dulu saat hendak mandi di sungai, pula hendak belajar berenang di arus yang dalam dan tenang. Emaknya melihat makhluk seperti tikar pandan yang menggulung-gulung, menari-nari di bibir sungai. Emaknya mendekatinya. Kaget. Makhluk itu sudah seperti gulungan kain dan perlahan membenamkan diri ke dasar sungai. Menghilang. Kemudian muncul lagi dengan bentuk seperti ember besar telungkup. Seterusnya makhluk itu muncul-tenggelam seperti mencari perhatian emaknya yang anggun saat itu. Masa itu emak Ari masih remaja, masa-masa ia dilirik beraneka ragam lelaki sebelum dinikahi ayahnya ketika usia emak 18 tahun.

Di pagi sepi itu, emaknya mengeluarkan bintik-bintik bening di jidat lebarnya. Kalut. Lalu pulang dan menceritakan pada kakek Ari apa yang dilihatnya, “Abu, Imah tidak ja-ja-jadi mandi. I-i-i-imah lihat makhluk a-a-aneh tadi di sungai.” Bilang emak Ari tersendat-sendat, gagap. “Bentuknya?” Tanya kakek Ari. “Em-em-ember telungkup, Abu.” Kakeknya manggut-manggut pelan, seraya megelus-elus jenggot.

Segera kakeknya datang seorang diri ke sungai dengan menghunus sebilah parang di tangan kanan dan sebilah sadeuep pemotong padi di kiri. Mentari masih malu-malu mengedarkan sinar saat kakeknya tiba di sungai yang memisahkan kampung mereka dengan kampung Homhai. Kakeknya mengencangkan ikatan sarung yang dikenanya selutut. Lalu ia melutut di tepi sungai. Menanti munculnya baluem bilidi.

Kakeknya paham benar cerita emaknya. Ia pernah mendengar dari ayahnya: sejak puluhan tahun silam baluem bilidi berkeliaran di sungai kampung mereka. Baluem bilidi acap memakan korban. Anak-anak sering mati digulungnya untuk diisap darah dan dieram di dasar sungai. Demikian kata endatunya pada ayah kakeknya. Kata nenek moyangnya pada endatunya juga begitu.

Dalam penantian tadi, kakeknya terkantuk. Kelamaan menunggu sampai-sampai emaknya menyusul dengan harap-harap cemas. “Apa Abu masih hidup?” Batin emak. Saat emaknya hendak menepuk bahu kakeknya, “Bruh! Pum!” kakeknya jatuh ke sungai. Emaknya bilang, baluem bilidi mencengkeram kakeknya sebelum menyeret ke tengah dan mengeramkannya di dasar sungai. Saat itu emaknya hanya terperangah, tahe, sambil melolong minta tolong.

Esok harinya, kakeknya didapati sudah terapung tak bernyawa di tepi sungai kampung Haihai, sungai yang searus dengan sungai kampung mereka. Tubuhnya mengembang bagai bakpau. Pucat. Emaknya menangis meronta-ronta saat itu sampai sembab matanya 5 hari 5 malam. Sejak hari itu, emaknya tak berani lagi ke sungai.

Emaknya juga bilang meski malu-malu, tiga tahun selepas kematian kakeknya, emak dinikahi seorang pemuda tampan. Berotot. Dada bidang. Mata biru. Pemuda itu kemudian jadi ayahnya. Tapi, baluem bilidi menerkam ayahnya 2 tahun silam saat memancing ikan di sungai. Mayatnya ditemukan mengambang di kampung Alahai. Kondisi jasadnya persis seperti jasad kakeknya dulu. “Hebat sekali kau baluem bilidi, tunggu pembalasanku!” Seru Ari saat itu.

Malamnya Ari bermimpi, “Nak, kalau ingin membunuh baluem bilidi, bunuhlah dengan besi putih bening. Tunggu saat matahari terik. Ajak orang sekampung dengan membawa besi itu. Percayalah! Lakukanlah!” Suara itu membisik dalam tidur Ari.

Maka siangnya, Ari dan orang sekampung, tua-muda, memburu baluem bilidi. Mereka berbaris kelilingi tepi sungai. Siaga dengan besi putih bening. Tak berapa lama, muncullah makhluk itu. Lalu mereka menghujam bilah-bilah besi ke hadapannya. Menusuk-tusuknya. Baluem bilidi pun berpekik tersiksa. Bentuknya berubah-ubah saat disengat terik matahari yang dipantulkan besi putih bening, seperti amuba kalau kata guru biologinya. Pada tubuhnya sempat muncul wajah kakek dan ayahnya di penglihatan Ari. Entah itu halusinasinya. Entah. Makhluk itu pun mati.

Maka sampai hari ini, sungai kampung mereka sudah aman selalu. Tak usah takut lagi mandi di sungai kampung. Tak ada lagi yang namanya baluem bilidi, kalaupun ada jangan percaya, kata Ari menutup ceritanya.

Oleh Makmur Dimila

(Telah dimuat di Harian Aceh di rubrik Cang Panah)

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s