Salah Jurusan

Ketika mengetahui lulus di pilihan kedua, yakni ilmu komunikasi, Siti patah semangat. Hasrat Siti sejatinya ingin lulus di pilihan pertama: pendidikan bahasa Inggris. Sebab gadis asal Sigli itu ingin menjadi seorang guru bahasa Inggris.

Lalu Siti bilang sama orangtuanya bahwa ia tak mau kuliah di ilmu komunikasi, ia sama sekali tak suka komunikasi. Hatinya berteriak, “Kenapa aku tak lulus di bahasa Inggris. Malu dong sama Sarah, kawanku. Kenapa Sarah bisa lulus? Kenapa aku tidak?” Sampai jelang pendaftaran ulang mahasiswa baru, Siti masih tak mau menerima kenyataan itu. Ia khawatir salah jurusan kelak.

Tak pelak, orangtua Siti mendesak agar Siti mengikuti saja apa adanya. Siapa tahu ada hikmah di balik itu semua. Lagipula orangtuanya sudah menjual sepetak tanah demi membiayai kuliah Siti, mereka pasti tak mau merugi diri dan melihat putrinya itu menganggur. Lagian, disuruh kawin usai tamat sma juga tak mau. Ya, maka wajib kuliah, kata ayah-emak pada Siti.

Setelah berpikir-pikir tujuh keliling, Siti akhirnya mau juga menerima saran orangtuanya. Ia jadi kuliah di jurusan komunikasi. Meski setengah hati saat awal-awal kuliah, gairah belajarnya membaik lambat laun. Tahun pertama kuliah, Siti sudah bisa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik bila dibandingkan dengan sewaktu ia masih sekolah di kampung.

Saat semester tiga, orangtua Siti menganjurkannya untuk mencari kerja sampingan. Penghasilan orangtuanya mulai terkikis seiring bertambahnya usia mereka, sehingga kian tua kian lemah, kian kurang sanggup menggarap sawah. Wah! Siti tak patah arang. Dengan senang hati ia mencari kerja yang tidak mengganggu kegiatan kuliahnya. Tak berapa lama, ia diterima di suatu usaha produk kecantikan muslimah. Ia lulus wawancara karena kata penguji, Siti dapat berkomunikasi dengan baik. Bisa jadi, setiap orang yang ditawarkan akan membeli dengan mendengar kata-kata bujukannya yang halus tapi tak memaksa.

Bukan itu saja, saat semester empat, berbekal komunikasi yang baik, Siti diterima sebagai pengajar di salah satu TPA. Bangga benar Siti, ia sudah jadi guru meski sebatas mengejar ngaji anak-anak. Dan, ia juga telah hidup mandiri. Tak lagi berwajah muram saat akhir bulan karena tidak dikirimi uang dari kampung. Dan kemarin Siti berkata, “Tuhan telah memberikan aku jurusan yang tepat. Aku cinta komunikasi. Terimakasih ayah dan emak.”

Oleh Makmur Dimila

(Telah dimuat di Harian Aceh di rubrik Cang Panah)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s