Nasi Malam Jumat

Coba diingat. Sepuluh tahun atau lebih darinya, atawa pekan lalu, di rumah saudara setiap malam Jumat disimpan sekepal nasi dalam sepiring di meja makan. Bukan dusta bukan canda. Tapi ingatlah. Segumpal nasi berteduh rapi di bawah raga, tudung makanan. Ia cuma ada pada malam Jumat saja.

Kata tetua, nasi itu sebagai hidangan untuk menyambut pulangnya seseorang yang telah pergi. Misal, seorang ayah dalam bentuk arwah, katanya, akan pulang ke rumah untuk menjenguk istri dan anak-anaknya. Maka untuk memuliakan tamu, apalagi tamu tak diundang seperti itu, disediakanlah secomot nasi putih di atas meja makan.

Maka jangan heran, bila dulu atau hari ini entah masih ada, biasanya seorang ibu dalam suatu rumah akan memerintahkan bagi pemakan malam yang terakhir untuk menyisakan nasi barang sesuap. Jika tidak, tamu tak akan datang. Dan jika ia benar-benar datang, nasi yang disisakan semalam tak ada lagi saat dilihat paginya. Itu alamatnya, tamu ada datang semalam dan memakan nasi itu. Jika tamu itu arwah seorang ayah, maka penghuni rumah menganggap arwah ayah akan tenang di sana, di kuburan, juga entah di mana.

Setahun lalu, seorang anak yatim korban konflik yang tinggal di desa terpencil bersama ibunya, memakan nasi itu. Tengah malam Jumat itu, sang anak bangun dari tidurnya. Ia hendak buang air. Karena tadi tidak makan gara-gara ditakutkan tak ada sesuap nasi buat tamu, anak itu kelaparan. Lalu ia menunda buang air dan menuju ke meja makan. Perutnya kian keroncongan, tangannya langsung meraba sepiring nasi di meja makan. Setelah makan ia buang air sebelum melanjutkan tidurnya. Saat pagi, ibunya senang melihat piringnya sudah kosong.

Pada malam Jumat berikutnya, anak berusia belasan tahun itu sengaja bangun tengah malam untuk makan sekepal nasi itu. Lalu ia menyisakan sedikit nasi di dalam pinggan duralex itu. Sewaktu pagi ibunya heran, apa arwah suaminya tidak sayang lagi padanya, atau nasinya sudah basi. Ibunya sangsi.

Dan pada malam Jumat berikutnya, anak itu lagi-lagi sengaja bangun tengah malam untuk makan sekepal nasi dalam pinggan. Tapi, malam itu, sang anak hanya menyentuh sebutir nasi saja, sebab sudah basi, selebihnya ia sisakan seperti semula dengan rapi. Maka besok pagi, ibunya terkejut melihat nasinya tak berkurang. Apa arwah suaminya tak sayang lagi padanya. Perempuan itu kian heran. Dan pada Jumat malam selanjutnya, sang ibu mendapati anaknya tengah menyantap nasi dalam pinggan itu. Kemudian membentak-bentaknya. Dan menghukumnya.

Namun sejak saat itu, sang ibu sudah jarang menyisihkan sesuap nasi saja untuk disediakan buat tamu istimewanya. Selain tak sanggup melarang anaknya agar tidak bangun pada tengah malam Jumat untuk makan nasi meski telah dihukum, juga sampai hari ini sang ibu sangat susah mendapatkan beras. Terkadang harus menghutang pada orang.

Simaklah. Jika ibu itu beralasan demikian untuk tidak menyisakan sesuap nasi pada malam Jumat, maka jangan pula percaya perihal menyisakan sepinggan nasi ketika malam Jumat itu benar. Segeralah, kirimkan doa buat almarhum-almarhumah.

(Telah dimuat Harian Aceh di rubrik Cang Panah 9 Des 10)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s