Mereka Curi Toa Kami

Rupa segala rupa perempuan bersuara lantang menuntut keadilan di depan gedung megah. Mereka meninju-ninju langit segala langit. Tak sedikit mereka minta orang-orang di dalamnya keluar. Jika tak mau, mereka akan menunggu di halaman sampai tiga hari tiga malam.

Tadi pagi seorang perempuan itu  bercerita. Dulu, saat konflik rumahnya dibakar dan  suaminya ditembak. Sejak saat itu ia harus hidup bersama seorang anaknya, dengan berpindah-pindah karena tak  punya saudara untuk sekedar numpang tidur. Untuk bisa hidup, ia sering mengemis. Itu sebabnya siang kamis itu ikut ke gedung megah untuk minta keadilan

Aku pun mengambil toa tua. Bersama pemuda-pemuda berpakaian seragam tegak di halamannya. Kami berunjuk rasa melalui toa tua warisan ayah aku bersuara lantang. Kami berteriak dengan harapan akan terbisik lewat celah gedung megah yang orang-orang di dalam sedang bersukacita.

Seorang berkacamata keluar dengan mantap berdiri di depan kami dikawal orang-orang berseragam. Aku berteriak sekerasnya menghempas-hempas lewat toa tua untuk mengajukan tuntutan, “Bapak,  mau benar-benar membantu para perempuan korban dari  konflik ini”. Namun si Bapak bungkam, hanya kilat-kilat tak berdentam yang menyambar dari mulut kamera.    “Ini kan sudah akhir tahun. Tak mungkin kita kejar lagi. Kita agendakan tahun depan saja,” ketusnya enteng.

Serta merta aku meradang sambil berseru; “Pak, kami perlu bukti, bukan janji. Jika tidaj jangan  duduk di kursi pilihan rakyat.”

Sibapak berkacamata balik menyela, “Hati-hati kalau bicara, Nak!” “Yang perlu hati-hati itu di jalan, Pak!”

Brah-bruh. Lelaki itu sempat seperti jeruk purut ketika orang-orang menahan geli. Ia pun segera  masuk ke dalam gedung megah, lalu muncul lelaki lainnya. Jawaban mereka tetap serupa.

Setelah dua malam kami menginap di halaman gedung megah itu.  Orang-orang dan perempuan-perempuan yang terus menanti kepastian, namun pagi menjadi kaget. Ternyata toa-toa tua milik kami tak ada lagi. Kami terpana setelah mengetahui kalau toa-toa kami dicuri mereka penghuni gedung megah. Masya Allah!
Telah dimuat di Serambi Indonesia pada 12 Desember 2010

Oleh Makmur Dimila adalah mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry.

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s