Suka Singkat

Bermula ini itu suatu pasal. Konon katanya, asal mula nama suatu tempat itu ada sejarahnya. Seperti asal-usul nama Sigli, ibukota kabupaten Pidie. Dulu, sekitar awal abad ke 20, seorang Cina datang ke daerah Pidie. Ia hendak membangun pertokoan dan menetap di sana. Setelah beberapa hari berinteraksi dengan masyarakat setempat, lelaki Cina itu sudah mempunyai seorang teman akrab, pemuda asal Pidie. Karena telah akrab, mereka pun sering bergurau saat berjumpa.

Saat berguyon suatu kali, pemuda lokal itu menggilik-gilik ketiak lelaki Cina itu sehingga si mata sipit tertawa geli. Pemuda itu tanpa kompromi menggilik-giliknya terus sampai lelaki Cina itu mengeluarkan airmata dan urin. Geli sekali katanya. Tapi lelaki Cina menganggapnya sebagai satu cara supaya mereka biar lebih akrab. Si Cina maklum. Karena disambut baik, pemuda Pidie itu, bahkan kawan-kawannya kian getol menggilik-gilik lelaki Cina itu kemudian hari. Hingga lelaki Cina itu dicap Si Geli. Kian hari, kian banyak yang memanggilnya Si Geli.

Di samping itu, Si Geli itu hanya bermain di kawasan itu saja sampai ia sukses berjualan emas. Maka setiap orang Pidie hendak membeli emas, mereka akan datang ke kawasan Si Geli. Lama kelamaan, kawasan tersebut disebut “Sigli” sehingga dikenal dengan nama “Sigli”. Sebab pada umumnya, orang Aceh suka menyingkat kata. Dari Si Geli menjadi Sigli, biar lebih cepat diucap.

Kita melihat satu lagi, muasal penamaan Bireuen dan kota Juang. Dulu era 1948/1949, saat Belanda menjajah Indonesia dan Indonesia nyaris hancur lebur saat itu, Aceh membantu mempertahankannya. Orang Aceh berpikir, cara satu-satunya untuk menunjukkan bahwa Indonesia masih ada adalah dengan menyiarkan pada negara luar melalui radio.

Masa itu, katanya di Aceh, radio cuma ada di kawasan yang sekarang disebut Bireuen itu. Berat radio itu hampir 30 kg. Maka bahu membahu beberapa penduduk setempat mengusung radio hingga sampai ke puncak paling tinggi di dataran tinggi Gayo, tepatnya di kecamatan Pintu Rime (bagian Bener Meriah sekarang).

Saat membawa radio itu, mereka tergesa-gesa dengan nafas tersenga-sengal. Orang-orang menonton mereka sampai-sampai mengerubungi dan mengekor ke mana saja mereka bergerak hingga berdesak-desakan di jalan. Karena tak tahan dengan kondisi demikian, beberapa pembawa radio itu mengatakan pada orang-orang itu, “bi ruweueng, bi ruweung (Beri ruang, beri ruang).” Maka semua orang itu memberi ruang gerak hingga mereka leluasa menuju ke puncak Rime Raya dan berhasil mengumumkan pada dunia, bahwa “Indonesia masih ada.” Karena jasa luar biasa itu, tempat tinggal para pembawa radio itu dinamai kota Juang. Mereka dianggap sebagai pejuang setelah di bi ruweueng saat membawa radio. Lagi-lagi, karena orang Aceh suka menyingkat, saat bepergian ke kota Juang itu, orang-orang mengatakan bireuen, bireuen. Beri ruang untuk pejuang di kota Juang, katanya.

Satu lagi aja, sejarah penamaan Sibreh, satu mukim di kecamatan Kuta Makmur, Aceh Besar. Konon katanya, daerah tersebut sawah semua. Mereka menanam padi di sawah itu sehingga beras berkecukupan selalu. Maka orang-orang itu, atau orang daerah lain saat bertandang ke sana akan mengatakan, “Sep breueh (Cukup beras).” Ya, karena orang Aceh suka menyingkat, lambat laun jadilah “Sibreh.” Heh heh. Bagaimana dengan asal-usul nama tempat anda berpijak sekarang?

Telah dimuat di rubrik Cang Panah di Harian Aceh

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s