Azan dan Pencuri

Seorang pencuri menemui ustadz yang tinggal di lingkungan maksiat. Pencuri itu ingin mengeluh pada ustadz. Setiba di kediaman ustadz pada dini hari itu, lelaki pencuri  segera membeberkan keluh-kesahnya selama menjadi pencuri. Lelaki itu dikenal pencuri kelas berat. Namun ustadz itu melayaninya dengan ringan.

“Ustadz, saya ini sudah bertahun-tahun mencuri. Bagaimana, Tadz?” Lelaki berpeci itu menatap lelaki pencuri dengan senang. “Tenang anak muda pencuri. Kamu tetap jalankan kebiasaanmu itu. Kamu mencuri saja. Tapi jangan pernah sekalipun meninggalkan salat wajib lima waktu.” Pencuri terkesima mendengar jawaban ustadz itu. Lalu ia mencium tangan ustadz dan pamit diri. Ia pulang dari pondok tempat tinggal ustadz. Niatnya mau mencuri lagi.

Saat tiba di muka sebuah rumah, sang pencuri berhenti. Ia pun dengan mulus masuk di saat orang-orang sedang terlelap. Pencuri itu memasuki ruangan tamu. Perutnya lapar, ia mendekati meja makan. Tak ada makanan apa pun. Kemudian ia hendak mencuri kulkas, tapi sulit dia bawa. Lalu ia mendekati TV berlayar LCD. Karena tipis, ia sanggup membawanya hingga ke teras rumah. Dia taruh di teras, lalu masuk lagi. Kini pencuri kembali ke ruang tamu. Mukanya tak menyiratkan was-was. Ia santai sekali. Pencuri itu ke dapur lalu mengambil rice cooker. Kemudian cepat-cepat ia bawa keluar, dan ditaruhnya lagi di teras bersama dengan TV tadi. Pencuri itu memutar-mutar badan sebentar seiring fajar hampir menjelang.

Pencuri kemudian menggotong kedua barang itu dan meletakkannya dekat pagar di mana ia masuk tadi. Saat hendak mengeluarkan kedua barang itu, azan dari masjid seberang berkumandang. Pencuri berdiri tegak. Agaknya ia masih ingat saran ustadz, “Kamu mencuri saja, tapi jangan pernah sekalipun meninggalkan salat.” Pencuri itu pun meninggalkan kedua barang itu di tempat dan bergegas ke masjid. Sesaat usai ia pergi, penghuni rumah keluar tanpa curiga. Pemilik rumah hendak ke masjid juga.

Usai salat berjamaah, pencuri pulang, begitu juga pemilik rumah yang lebih dulu pulang darinya. Setiba di depan rumah tadi, pencuri berhenti. Ia melirik ke kedua barang tadi. Sementara di dekat kedua barang itu sudah ada pemilik rumah yang heran melihat barang-barangnya ada di halaman rumah. Pencuri pun tak jadi mengambil lagi kedua barang yang hendak dicuri itu. Ia malah pergi begitu saja. “Benar, kata ustadz. Salat itu sepertinya mudah.” Batin pencuri.

Hari-hari berikutnya, saat pencuri itu hendak membawa barang curian, selalu saja duluan ia mendengar azan. Kemudian ia pergi menunaikan salat. Usai pulang dari bersalat, ia melihat sudah ada orang saat lewat di depan rumah yang barang-barangnya hendak dicuri. Hingga tiga hari kemudian, ia selalu menunaikan salat lima waktu dan tak pernah sekali pun berhasil membawa barang yang hendak dicuri. Akhirnya pencuri itu bertemu ustadz dan berterimakasih padanya.

Telah dimuat Harian Aceh di rubrik Cang Panah

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Azan dan Pencuri”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s