Ayam

Binatang yang satu ini memang amat disukai dagingnya. Apalagi jika di Aceh sudah mempunyai resep dan sebutan “gaul” dalam mengolah daging ternak ini. Mulai dari ayam penyet, ayam tangkap, ayam lepas, ayam bakar, dan sebagainya. Entah dari mana diambil nama penyet dan sebagainya. Tapi di balik kelezatannya itu, siapa yang tahu sejarah ayam?

Sampai hari ini manusia masih berdebat muasal ayam. Mana duluan diciptakan telur dengan ayam, atau ayam dengan telur. Ah, sama saja. Satu kubu berpendapat, ayamlah yang pertama kali diciptakan. Sebagaimana diciptakannya nabi Adam, ayam jantan yang dulu dibentuk. Betina menyusul setelahnya seperti Hawa yang menyusul Adam. Lalu mereka kawin sehingga melahirkan keturunan bagi Adam dan Hawa, dan bertelur bagi ayam sebelum mengeram hingga menetas dan beranak-pinak.

Lain kepala lain pendapat. Satu kubu lain mengatakan, telur yang duluan diciptakan. Alasannya, dalam telur itu mempunyai janin yang nantinya kian hari kian tumbuh sampai membentuk bayi ayam. Sehingga muncul sebuah ungkapan, “jika makan telur, berarti kita sudah memakan dagingnya”. Bayangkan jika pernyataannya demikian, anda akan memakan ayam mulai dari kakinya, bulunya, taiknya, jenggernya, matanya, dan semua anggota tubuhnya. Namun anda tak sadar bukan? Anda sering mengubahnya dengan menggoreng sehingga manusia menyebutnya “mata sapi”. Aneh. Telur ayam jadi mata sapi. Siapa entah yang memberi nama demikian. Haha, telur ayam jadi mata sapi. Luar biasa sekali.

Ada lagi yang berpendapat, ayam itu bermula dengan diciptakan seekor ayam betina. Lalu secara biologis, ada zat-zat dalam tubuh ayam yang lambat-laun akan membentuk cangkang-cangkang kecil. Kemudian cangkang-cangkang ini menyatu hingga menjadi satu bentuk yang utuh; lonjong atau bulat, tidak persegi. Jika telur berbentuk persegi, bagaimana ya? Ah, lupakan. Lalu cangkang yang telah jadi telur itu keluar dari rahim si betina. Dan telur itu menetas sehingga lahirlah si jantan. Kemudian mereka kawin berdua. Aneh ya, anak kawin induk. Maka jangan marah jika anda disebut binatang ketika macam-macam sama ibu atau sebaliknya. Teori ini ada yang coba dibantahkan. Katanya begini, “bisa jadi telur itu telurnya buaya yang saat menetas melahirkan ayam?” Entah.

Sebenarnya, telur yang pertama diciptakan telur apa sih? Ayam, ular, elang, atau apa? Tak ada yang tahu sepertinya. Kalau sudah begitu, yang mana benarnya. Agaknya orang-orang lebih suka mendebatkan soal penciptaan telur dengan ayam.

Kembali ke ayam. Mungkin jika kita mau menyimpulkan satu pendapat kuat saja, jawabnya begini. Bagaimanapun, kapanpun, manapun yang paling duluan, penciptaan ayam atau telur hanyalah kekuasaan Tuhan. Tak usah diperdebatkan. Santap saja ayam penyetnya. Ambil saja hikmah dari adanya ayam.

Dulu ya, saat belum ada jam. Ketika ayam berkuruyuk saat fajar menyingsing, orang islam akan bangun tidur untuk menunaikan salat subuh secara berjamaah. Mungkin hari ini juga masih berlaku. Selain itu, kotekan maupun kokokan ayam di selain waktu subuh itu juga memiliki makna yang terkait dengan gejala alam. Kalau percaya, tanyakan pada tetua di sekitar anda. Ah, itu dulu. Sekarang, untuk sebatas jadi tiruan bentuk celengan saja hampir punah. Bahkan ayam sering menjadi korban keganasan orang-orang yang menjemur padi. Padahal ayam juga manusia, eh, ayam juga hewan yang butuh makan dan rezeki.

Berbicara ayam memang tak akan habisnya. Era 90-an, ayam amat disayang atau dibenci orang Aceh, khususnya ayam jantan dan khususnya oleh  lelaki. Setiap hari di kampung segala kampung, kaum lelaki tua-muda berlomba-lomba menyabung ayam. Bahkan ada yang taruhan. Jika kalah ada yang sampai hati ayam sendiri dibunuh. Jika menang, ayam jagonya diberhalakan. Masya Allah. Haram bin haram bin dosa itu namanya.

Ya sudahlah. Kita padai dulu perdebatan ayam dan telur. Jangan lagi merepet bagai induk ayam diganggu saat sedang mengeram. Kita mesti meneliti lagi mengenai sejarah penciptaan ayam jika mau berdebat lagi sampai rambut memutih dan luruh sampai botak. Alangkah baiknya kita konsumsi saja daging ayam dan mata kerbau, eh mata sapinya. Lebih bagus lagi kalau ayam kampung setengah matang. “Poding” katanya. Jika suka begadang, seringlah anda poding biar badan anda tidak kering dan lunglai. Hahai.

(Telah dimuat Harian Aceh di kolom Cang Panah, 16-12-10)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s