Zara Lari Melalui Pematang

Bulir-bulir padi mulai menguning dan padat berisi merebah diri saling sandar di petakan-petakan sawah yang bertingkat-tingkat bak anak tangga, rebah akibat diterjang hujan lebat semalaman. Hembusan angin menyerang panas mentari supaya hasilkan kesegaran bagi petani, termasuk kami yang sedang berteduh diri di jambo ini, jambo beratap anyaman rumbia dan berpasak batangan bambu muda.

“Zara, sampai kapan aku harus menunggu?”

Perempuan yang dianggap bunga desa di kampung kami itu tak menyahut. Ia hanya duduk mengibas-kibas kaki dengan pelan sembari tatapi orang-orangan sawah. Barangkali tulinya kambuh lagi. Oh, tidak. Ia baru saja operasi gangguan pendengarannya itu dua minggu lalu di Penang. Lekas ia mengguncang-guncang tali nilon yang terhubung kaleng-kaleng susu bekas di sekeliling sepetak sawah orangtuanya itu, sehingga terdengar keras batu-batu berdenting dalam kaleng susu. Bergemerencing. Suara gemerencingan itu cukup untuk mengusir serombongan pipit yang hendak mematuk-patuk buah padi.

“Zara, maukah engkau aku pinang?”

Ingin sekali kudengar suara merdunya menjawab tanyaku. Degupan jantungku berdetak cepat dalam detik-detik penantian jawabnya, secepat aku mengatakan cintaku padanya semasa kami sama-sama belajar di madrasah aliyah dulu. Namun ia membisu. Jangankan berkata, memalingkan wajah saja ke hadapanku urung ia lakukan. Entah, Zara tetap membisu, tak acuhkan tanyaku. Hanya kerudung merahnya meriap terbang oleh desah angin pagi merayap ke siang, sehingga menelanjangkan ujung rambut lurus-hitam lebatnya tergerai ke tengah punggung.

“Zara, cermatilah padi itu. Dua bulan mereka habiskan waktu begitu mesra demi menghasilkan buah yang lebat, agar mereka berikan sumber energi dan manfaat bagi manusia. Maukah engkau berbuat seperti mereka?”

Aduhai senangnya aku ketika ia memutar badan langsingnya, memandangku penuh pesona. Ia menyungging senyuman khasnya, senyuman lesung pipit. Matanya berbinar dan sedikit basah. Dari air mukanya, ada sesuatu yang dipendamkannya dariku.

“Katakanlah sayang..”

“Bang, bukannya aku tak mau menerima lamaran abang. Lagi pula orangtua kita sudah sepakat kemarin, bukan? Tapi..”

“Tapi apa?”

“Setiap manusia punya hak untuk memilih. Dan aku lebih memilih bang Mustafa, pengusaha itu. Dia lebih kaya dan lebih ganteng dari abang. Maafkanlah aku.”

Zara pun turun dari jambo dan segera lari melalui pematang, membelah petak-petak sawah, berlari pulang ke rumah. Semakin lama kupandang ia kian menjauh, menghilang dalam kehijauan rimba menuju kampung kami. Aku melihatnya yang terakhir kali dari jambo ini. Ragaku seakan lemas tak sanggup mengejarnya. Aku bagai diiris buluh sembilu. Bersimbah darah nestapa. Jawabannya itu berdenging di telingaku, terngiang-ngiang. Maka aku pun belum menemukan cara untuk membahagiakan emakku yang sangat merindukan seorang menantu dan cucu.[]

Istana Sempit, Agustus 2010.

(Telah dimuat http://www.acehjurnal.com)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s