Spion Delapan

Awal 1900-an, setiap peserta balap selalu membawakan seorang mekanik. Karena waktu itu mobil masih merupakan barang baru dan balapan mobil juga baru berkembang di dunia. Mulanya tugas mekanik untuk memperbaiki mobil jika rusak. Namun lambat laun teknologi mulai tumbuh. Sehingga lahirlah mesin.

Maka tugas mekanik setelah adanya mesin, duduk di samping pengemudi. Jadinya dalam satu mobil balapan ada dua penumpang. Yang satu sebagai sopir. Satu lagi sebagai pengamat, yakni orang yang tugasnya melihat ke belakang mengantisipasi salipan lawan. Dia selalu melihat ke belakang guna mengabari sopir jika ada lawan yang hendak menyalip, atau mengawasi keadaan di belakang, sampai-sampai lehernya terkilir usai balapan akibat selalu menoleh. Begitu cerita Abu Pakeh di warung kopi malam itu pada Brahim.

Lalu sekitar tahun 1911, seorang pembalap kesulitan mencari seorang pegamat saat ia mengemudi. Padahal hari itu, ia sedang mengikuti kejuaraan Indianapolis 500. Balapan hampir dimulai saat itu. Pembalap itu linglung mencari solusi. Idenya muncul saat ia sudah berada di dalam mobil. “Pembalap itu dengan berbagai caranya, berhasil meletakkan cermin kecil di kaca depan, sehingga ia bisa melihat keadaan di belakang dengan mata kepala sendiri,” ujar Abu Pakeh.

“Emangnya pembalap punya mata kepala, Abu?” Tanya Brahim. “Bukan, maksudnya, ia melihat sendiri tanpa bantuan pihak lain.” Brahim bengong dan berkata, “Apa benar bahasa Indonesia itu tidak baik dan tidak benar, Abu? Kan kepala ya kepala, mata ya mata. Mana ada mata kepala, mata kaki lagi. Kalau mereka punya mata, mereka bisa melihat dong, sehingga kita tidak akan melangkah dan berpikir pada hal-hal yang tidak baik.” Abu Pakeh menatapnya tajam. “Him, kau bercermin sana, lihat apa yang bisa kau lihat! Mau dengar lanjutan cerita atau tidak?” Brahim menunduk. “Mau, Abu.”

Pembalap tadi jadi lebih ringan membawa beban dibanding pembalap-pembalap lain yang punya pendamping. Imbasnya, pembalap ini pun juara karena bisa leluasa melihat ke belakang lewat sebuah cermin kecil. Ini membuat pembalab lain iri di kemudian hari. Sehingga pada lomba balapan berikutnya, semua pembalap menggunakan cermin bahkan di kedua sisi: kiri dan kanan. Dan penggunaan cermin itu kian berkembang, sehingga menjamurlah penggunaan cermin yang kemudian disebut spion hingga sekarang.

“Nyannn!” Kata Abu, lega. “Kini kita lihat pengguna spion tahun 2010 di Aceh. Bandingkan dengan 2 tahun sebelumnya,” kata Abu Pakeh. Masa 2007-2009, orang yang memakai spion dianggap “banci”. Lalu muncul pemakaian spion satu saja. Kalau ada yang pakai dua-duanya dibilang norak, tidak gaul, dan sebagainya. Dan remaja yang memakai spion itu merasa malu. Tapi sekarang, kata Abu Pakeh pada Brahim, remaja dan pemuda berlomba-lomba memakai spion untuk bergaya-gaya. Siapa pun memakai spion seiring adanya aturan wajib memakai spion dua.

“Hari ini, gilanya bukan 2 spion dipakai, tapi ada yang sampai 4 pasang spion. Kayak skuter kamu, Him. Entah apa pakai 8 spion. Gila kamu ya. Apa yang kamu lihat?” Ceracau Abu Pakeh. “Bukan begitu, Abu. Kan biar nampak ke segala sisi. Sepasang lihat ke belakang. Sepasang lagi lihat ke samping. Sepasangnya lagi lihat wajah sendiri. Dan sisanya untuk lihat cewek di belakang sekali, apakah cantik atau tiadak. Kalau tidak, tak usah kita open saat berpapasan dengan saya dan berhenti di lampu merah.” Brahim senyum. “Gila kamu, ya. Alahai Him.. Him.”

(Telah dimuat Harian Aceh di rubrik Cang Panah, ed. 22 Desember 2010)

Makmur Dimila, datang dari pelosok desa mencari masa depan penuh asa.

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s