Kenang-kenangan

Akhirnya sang kakek mau juga menceritakan tiga peninggalannya pada cucunya, Isan. Tiga peninggalan yang amat berharga itu diterimanya dari berteman dengan orang asing. Setelah disinggung sana-sini oleh Isan sejak setahun lalu, sang Kakek mau dan mulai menceritakannya sekarang. Tampang Isan serius hendak menyimak.

Sekitar 1942, kakek yang berusia 10 tahun saat itu berteman dengan Van Teue, bocah berusia 11 tahun asal Belanda. Masa itu, Van Teue mengikuti ayahnya yang ditugaskan menyerang Aceh dalam agresi gelombang kedua. Padahal dalam berperang, tak boleh membawa siapapun, namun tidak demikian dengan Van Teue dan ayahnya. Bak gayung bersambut, Van Teue merengek-rengek minta ikut dan ayahnya pun mengangguk boleh ikut.

Maka sejak berada di Aceh, Van Teue berteman dengan kakeknya Isan. Meski ayah mereka saling perang, tapi mereka bagai dua sisi mata uang. Tak bisa dipisahkan. Akan tetapi, saat Belanda minggat dari Aceh, kakek Isan dan Van Teue menangis tak ingin berpisah. Setelah dipaksa ayah masing-masing, Van Teu dan kakek Isan berpisah juga pada akhir 1943.

Sebagai kenang-kenangan, mereka saling tukar cenderamata. Kakek Isan memberikan kopiah meukutop buat Van Teue. Sementara Van Teue, karena ia pendatang sehingga tak ada barang berharga dari Belanda, ia hanya memberikan sebuah terong beserta bijinya untuk dikembang-biakkan, sebab cuma itu yang dibawa Van Teue dari Belanda sebagai bekal hidup.

“Makanya, sampai sekarang di tempat kita banyak terong Belanda, peninggalan penjajah yang kita bangga-banggakan hari ini. Kalau bukan jus terong Belanda, tak jadi pesan minum,” kata sang kakek pada Isan. Isan hanya bisa manggut-manggut pura-pura paham.

Lalu kakek melanjutkan pada cerita peninggalannya yang kedua. Sekitar 1944, kakek Isan sudah bertambah dua tahun usianya. Akalnya pun sudah banyak. Saat itu, kakek Isan berteman dengan seorang anak serdadu Jepang. Namanya Sa Ka. Cuma ini bocah perempuan yang juga berusia 12 tahun. Katanya, Sa Ka juga ikut ayahnya berperang. Meski dilarang, ia tetap diizinkan ikut daripada harakiri dengan cara gantung diri. Sa Ka pun gembira.

Selama itu mereka berteman akrab bak dua sisi mata uang juga. Sayangnya, mereka harus berpisah ketika ayahnya dan pasukan Jepang lain terpaksa harus hengkang dari Indonesia, juga Aceh. Agar punya kenang-kenangan, mereka saling tukar cenderamata. Kakek Isan pun memberinya sekarung belanga dari tanah liat, sehingga Sa Ka kian pendek akibat mengusungnya lama-lama, serta matanya kian sipit tak tahan dengan bebannya. Dan Sa Ka hendak memberikan bunga sakura kepada kakek Isan saat itu. Tapi karena ia pendatang, ia cuma bisa memberikan sandal. Dengan bercucuran air mata, mereka berpisah. Apalagi kakek Isan menangis sesenggukan, sebab Sa Ka manis sekali orangnya bagai gula.

“Makanya, kita sekarang, atau dulu era 1990-2000 berlomba-lomba memakai sandal yang sering disebut sandal Jepang itu. Selain itu, era 2000-an ke atas, ada merek mie instant yang meniru nama bunga dari Jepang. Yaitu Mie Sakura. Haha. Cukop gura,” celetuk sang kakek pada Isan. Dan Isan ngakak sampai-sampai berguncang-guncang badannya.

Lalu peninggalan ketiga, cerita sang kakek pada Isan, didapatnya era 1950. Saat itu Indonesia diduga sudah 5 tahun merdeka. Aceh pun santai-santai saja. Untuk melihat kondisi negara bekas jajahan, orang Inggris melakukan survey hingga ke Aceh.

Ada seorang remaja Inggris, Frank Ko namanya. Ia mengikuti ayahnya ke Aceh. Selama dua tahun kemudian, ia berteman dengan kakek Isan. Mereka pun akrab. Masih bagai dua sisi mata uang. Namun sayang, tiga tahun kemudian mereka bespisah. Masa tugas ayah Frank Ko sudah selesai. Agar ada kenang-kenangan, mereka saling tukar cenderamata jua. Kakek Isan memberikan rencong ke Frank Ko. Sementara Frank Ko, karena ia pendatang, ia tak bawa apa-apa dari sana. Yang dia punya cuma sebuah kunci dengan bentuk seperti sebelah tangan manusia yang mengepal.

“Makanya kita ini suka memakai kunci itu, lalu dibilanglah kunci Inggris,” kata sang kakek. Isan hanya mengangguk sekali. Lalu Isan berkata, “Pantaslah kakek tidak punya lagi kopiah meukutop, belanga, dan rencong di rumah. Rupanya kakek kasih buat orang asing. Aduh.. kakekku.” Sang kakek terbeliak, “Apa? Ya juga ya. Heheh.”

(Telah dimuat Harian Aceh di rubrik Cang Panah, ed. 24 Desember 2010)

Oleh Makmur Dimila S Cp

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s