Pemimpin Burung

Masa jabatan pasangan elang dan beo telah habis dikikis waktu. Mereka telah memimpin negeri burung selama 5 tahun. Pemilu untuk pemimpin periode selanjutnya pun tak kan lama lagi digelar. Lagipula mereka ingin naik lagi jadi pemimpin. Kali ini beo dan elang ingin naik masing-masing, tak lagi berpasangan. “Kau naik sendiri, aku naik sendiri,” kata beo pada elang. “Oke!” Sahut elang.

Seminggu sebelum pemilihan, burung-burung yang pro elang terbang dengan membawa spanduk dan stiker bergambarkan elang, juga iklan. Mereka terdiri atas pungguk, burung hantu, dan sriti. Selaku timses, mereka melanglang cari tempat yang pas. Pungguk hendak menggantungkan spaduk di bulan, namun tak bisa, sehingga ia hanya bisa memasang gambar elang di pucuk pohon jati. Sriti ingin mengibarkan spanduk setiap saat di udara, tapi tak sanggup, banyak energi terkuras. Lalu ia sangkutkan spanduk di pohon rumbia dan menempelkan stiker di pohon waru dan lainnya.. Sementara itu burung hantu, hanya ingin membawa media publikasi itu di saat malam, karena mereka hanya bisa keluar sarang di waktu gelap.

Beo yang didukung kakak tua, pipit, dan cempala juga tak mau kalah. Kakak tua hendak memasang spanduk di ufuk timur, namun ia tak kuasa karena menganggap dirinya sudah tua. Maka ia menyampirkan spanduk di kabel listrik. Pipit, ia menggelar spanduk di sawah. Mereka melakukannya sambil mencuri padi petani. Dan cempala, lain lagi. Ia ingin memasang spanduk di perdu bambu tepi sungai.

Ternyata, bukan hanya elang dan beo yang ingin menjadi pemimpin kali ini. Ada 9 calon lain lagi yang ingin memimpin negeri burung. Di antaranya, merpati yang didukung kawan-kawannya yang cerdas, ada belekok yang selalu kompak dengan anak buahnya, ada kelompok cenderawasih, merak, dan lainnya. Mereka juga berlomba-lomba memperkenalkan diri melalui spanduk, stiker, dan iklan-iklan, kecuali belekok.

Maka tiga hari jelang pemilu, kaum elang dan beo saling curang. Pendukung elang membuang segala spanduk, iklan dan stiker bergambarkan beo. Begitu juga dengan timses beo, mereka membuang segala sesuatu yang bergambarkan elang. Dua kelompok kandidat yang paling diunggulkan itu terus saling curang. Mereka juga membuang spanduk, iklan dan stiker milik sejumlah pesaing mereka lainnya. Akibatnya, 10 kandidat saling bertengkar.

Hari pemilu, semua kandidat duduk di sarang masing-masing sambil menunggu hitungan suara dari tim independen. Mereka tak sabar mendengar pengumuman. Tak lama kemudian, pengumumanpun dikumandangkan di setiap penjuru rimba.

“Yang memperoleh suara terbanyak adalah… Belekok. Dengan demikian, belekok terpilih menjadi pemimpin burung periode 2011,” kata ketua tim independen. Kubu belekok dan warga yang mendukungnya melompat-lompat kegirangan. Sementara 10 kandidat lain beserta timses dan pendukungnya bungkam dengan wajah masam.

(Telah dimuat Harian Aceh di rubrik Cang Panah ed. 29 Desember 2010)

Oleh Makmur Dimila S Cp; mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry angkatan 2009 asal Sigli

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s