Numboi

Hari ini Abu Toy Sijoy akan menceritakan kelebihan nomor pada cucunya. Mereka telah duduk di rangkang depan rumah pnggir sawah. Mulailah mereka. Abu Toy Sijoy mengatakan pada cucunya, bahwa dari sebuah nomor bisa menghasilkan uang jutaan rupiah. “Benar, Kek?” Tanya cucunya. “Benar. Lihat. Rumah kakek dua tingkat.” Cucunya terpana. “Itu kakek bangun dengan uang dari keberuntungan nomor?” Bukan, sahut kakek. “Tapi itu dari hasil kakek berbisnis, bukan karena numboi,” sahut Kakek lagi. “Lantas, apa lebihnya sebuah nomor Kek?” Tanya cucunya lagi. “Oke, simak baik-baik Kakek cerita.”

Dulu sewaktu Abu Toy Sijoy masih baru kawin dan tinggal di kampung istrinya di lingkungan yang suka mengambil keberuntungan dari sesuatu nomor. Orang kampungnya tergila-gila pada angka-angak yang didapat dari mimpi, dari tanggal suatu bencana alam, nomor plat kendaraan yang baru saja kecelakaan, dan nomor yang didapat dari sumber lainnya yang menurut mereka aneh dan hoki. Lalu nomor-nomor yang sering mereka sebutkan “numboi” itu mereka kirimkan ke pusat pengundian nomor di Singapora dan Hongkong. Maka setiap pagi dan malam, mereka mendengar radio apakah ada disebutkan numboi yang ditebaknya. Jika ada, orang yang nomornya tersebutkan melompat-lompat kegirangan. Dan jangan heran, bila saat itu orang malas bekerja. Mereka hanya berharap pada mimpi, nomor plat kendaraan kecelakaan, atau tanggal terjadinya suatu bencana. Abu Toy Sjioy pun ikut terjangkit virus numboi.

Lantas Abu Toy Sijoy mulai berkecimpung juga di dunia numboi itu. Suatu malam, ia bermimpi berjumpa cewek cantik. Dan menurut pengetahuan dari pengalaman kawannya, bertemu cewek cantik itu berarti mendapat nomor 22. Maka paginya Abu Toy Sijoy segera mengirimkan nomor 22 itu ke Singapora. Besok pagi didengarnya radio, berharap ada disebutkan angka 22. Tapi setelah menunggu sekian menit, tak disebutkan nomornya. Malahan pagi itu disebutkan nomor 11, nomor milik kawan Abu Toy Sijoy yang didapat dari tanggal hancurnya gedung WTC di Amerika. Walau tak beruntung, semua orang kampung pada gembira, ya bisa ngopi bareng nanti malam sambil poh cakra.

Malam berikutnya Abu Toy Sijoy bermimpi lagi. Ia bermimpi mendapat seekor angsa. Itu artinya nomor 19. Tak berharap naas lagi, Abu Toy Sijoy mengirimnya di waktu malam ke Hongkong. Besok malam, ia kembali mendengar radio bareng orang kampungnya yang juga ikutan menebak numboi di suatu balai desa. Tapi nihil, tak disebutkan nomor 19. Abu Toy Sijoy hampir putus asa. Malam itu kawannya yang mencoba keberuntungan dari nomor plat motor yang melarikan diri usai menabrak, 6010, nomor plat motor yang menyenggol Honda C-70 Abu Toy Sijoy kemarin pagi. Saat itu, Abu Toy Sijoy masih belum tahu kalau plat kendaraan itu punya nomor hoki juga. Ya, Abu Toy Sijoy merah wajah dan berasap telinganya saat mendengar ihwal itu kemudian.

Tak ingin menyerah, Abu Toy Sijoy coba lagi di hari berikutnya. Ia mencoba dengan tanggal lahir istrinya, tanggal 8. Bagi Abu Toy Sijoy, angka 8 sungguh romantis. Betapa tidak, Abu Toy Sijoy menikahi perempuan yang ke-8 ia lamar. Karena ketujuh perempuan sebelumnya tak menerima lamaran Abu Toy Sijoy, alasannya banyak. “Saya rahasiakan,” bilang Abu Toy Sijoy pada cucunya. Selain itu, mereka menikah pada tanggal 8 bulan 8 tahun 1948. Begitu romantis bukan? Lalu ia mengirimnya di waktu pagi, ke Singapura. Esoknya, ia girang bukan kepalang saat mendengar numboi 8 termasuk salah satu nomor keberuntungan. Abu Toy Sijoy berlari-lari putar-putar kampung. Dan terkahir berlari lalu langsung memeluk istrinya di rumah. Yah, istrinya malah kaget dan terkejut benar. Pasti kena numboi, pikir istrinya kala itu. Lalu Abu Toy Sijoy menceritakan ihwal ia senang.

Dan istrinya berwajah merah dan berasap telinganya mendengar itu. Istrinya menangis, tak menyangka kalau suaminya yang selama itu dikenal paling baik malah telah ikut-ikutan bermain numboi. Amboinya lagi, nomor yang menang itu nomor romantis itu. Istrinya tak terima itu. Ia pun pulang ke rumah orangtuanya yang tak jauh dari rumah mereka, dua hari dua malam meninggalkan Abu Toy Sijoy sendiri. Dan hal ini menjadi bahan tertawaan orang sekampungnya. Bagi Abu Toy Sijoy, sekali saja tak makan semeja dnegan istrinya, bak setahun rasanya tak bersama dengan perempuan yang amat cantik di matanya, perempuan yang lembut dan pandai masak. Abu Toy Sijoy pun merasa meyesal tak memberitahukan lebih dulu soal ia main numboi.

Kemudian hari, Abu Toy Sijoy pergi ke rumah orangtua istrinya guna menjemputnya secara damai dan baik-baik. Dan di rumah mertuanya, Abu Toy Sijoy bersikap se-apa gitu supaya istri dan mertuanya mau menerimanya kembali. Mereka pun mau berdamai dengan satu syarat, tidak mengulangi lagi perbuatan itu dan tidak memanfaatkan uang dari hasil menebak numboi. Oke, katanya masa itu, asalkan ia tetap bersama istrinya. Lalu mereka pulang kembali ke kampung Abu Toy Sijoy yang dihuni penggila numboi. Setelah itu, Abu Toy Sijoy lebih memilih menghabiskan hari-harinya di gunung, bercocok tanam di ladang milik orangtuanya. Ia menanam kakao sebanyak-banyaknya hingga saat ia sudah punya anak satu, Abu Toy Sijoy jadi kaya. Ia jadi pengusaha kakao. “Nyan, itulah rumah dua tingkat hasilnya. Istri Kakek makin cantik dan romantis. Anak-anak Kakek bisa sekolah ke mana mereka mau. Termasuk juga kamu yang Kakek sekolahkan. Maka kamu jangan ikut-ikutan sepeti sebagian kawan-kawanmu yang masih gila pada numboi-numboi itu,” pesan Abu Toy Sijoy pada cucunya.

(Telah dimuat Harian Aceh di rubrik Cang Panah, ed. 5 Januari 2011)

Oleh Makmur Dimila S Cp

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s