Tanjakan

Sambil meraut lidi, Abu Toy Sijoy berbincang-bincang pada cucunya, Isan. Orang jaman ini ingin cepat mudah. Kalau mengerjakan sesuatu mesti segera mencapai hasilnya. Tidak mau capek-capek mandi keringat. Kalau berbisnis, harus segera dapat untung. “Menyo hana hek, pane na hak?” Begitu Abu mengawali cerita.

Lalu ia mencontohkan tetangganya yang bangkrut setelah beberapa hari jualan. Gara-gara tak begitu laku, tetangganya frustasi. Kemudian tetangganya itu sepak panci, buang tungku, tendang rak mi, bungkus baju. Lalu pamit pada toke, pulang ke rumah, jadi kere, istri marah. “Isan, kamu jangan cepat menyerah seperti dia,” kata Abu pada Isan. Abu bilang, tetangganya itu tidak menyelidiki kenapa orang enggan mendekati rak mie-nya, sehingga jualannya tak laku. “Bisa jadi ia tidak ramah saat melayani. Atau memang tak pandai berjualan..” Kata Abu lagi. Isan angguk-angguk saja.

“Nah, sebenarnya kalau kita mau, apapun bisa sukses. Cuma kita besar malunya. Padahal apa susahnya berusaha. Meraut lidi dengan ikhlas seperti yang kita lakukan ini kan juga bisa menghasilkan uang,” kata Abu dengan menatap serius pada pisau yang mengiris tubuh lidi. “Asal kamu tahu, San. Lidi ini bisa dijadikan berbagai macam karya, misalnya peuyampoh (sapu), ubee (bubu), tutop raga (tudung makanan), de es be,” kata Abu. “De es be itu apa Kek?” Tanya Isan. “Hah, tak tahu kamu? Bodoh. De es be, singkatan dari dan sebagainya.” Abu tersenyum. “O…” Sahut Isan. “Bulat.” Timpal Abu. Mereka tertawa.

Kemudian mencontohkan lagi betapa pentingnya usaha dalam hidup. Ketika sebuah kendaraan menempuh tanjakan, ia amat sulit saat mendaki. “Misalkan aja Kakek beberapa bulan lalu saat melintasi perbukitan Seulawah. Saat mendaki dekat jembatan Suenapet, Honda C-70 Kakek hampir saja surut dan terpeleset lalu jatuh ke jurang, lalu Kakek mati dan tinggal nenek yang menangis sendirian di gubuk, tapi dengan penuh keyakinan Kakek terus menancapkan gas meski asap hitam keluar dari knalpot Honda, hingga sampai ke puncak.” Cerita Abu pada Isan. Lalu sampai di puncak, C-70 Abu jadi sehat kembali. Nikmatnya kata Abu, saat turunan. Ya, saat menurun Abu tinggal melepaskan kedua tangan dari stang Honda lalu bersiul sambil menghirup udara bebas. Lega setelah berusaha mendaki untuk mencapai di turunan.

“Nyan, makanya Isan. Na hek na hak.” Isan terpesona mendengar cerita Abu. “Berapa lidi sudah kamu raut?” Tanya Abu. “Satu,” jawab Isan. “Hah! Sudah satu jam baru satu selesai?!” Abu geleng-geleng kepala. “Kan gara-gara Kakek asyik cerita, enggak enak kalau tak disimak ucapan orangtua.” Balas Isan. “O, kamu ini. Tapi ya juga ya..” Haha, Abu dan cucunya tertawa.

(Cang Panah ini dimuat di Harian Aceh ed. 13 Januari 2011)

Oleh Makmur Dimila

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s