Menyembah Api

Berduyun-duyun orang tumpah ruah ke badan jalan. Jenjang segala jenjang usia sama saja. Kendaraan segala kendaraan berdesak-desakan. Mereka terhenti di jalur masing-masing. Asing sekali malam ini memang. Langit remang benderang seketika. Bola api meledak-ledak di langit kotamadya. Ada bunyi seperti tiupan sangkakala, tapi bukan sangkakala, sebab malam ini bukanlah kiamat.

Sembari menunggu kendaraan di depan kami sesenti saja berpindah, pikiranku berputar dan pulang ke masa lampau, masa Jahiliah. Masa itu mereka menyembah berhala. Atau masa setelahnya, manusia meyembah api saat masih mencari Tuhan. Apa yang dilihatnya aneh, itulah yang disembah.

Mungkin ini zaman Jahiliah jilid dua. Seperti malam ini di penjuru segala penjuru kotamadya, manusia menyembah api. Mereka menengadah. Wajah mereka cerah. Gembira menyambut percikan indah kembang api. Apalagi bagi yang berpasang-pasangan. O, Tuhan. Tidak. Berarti aku sama seperti mereka. Aku bersama Bang Enesa turut meramaikan malam pergantian tahun. Pun menyembah api seperti mereka. Sebenarnya kami tak berniat pergi tadi, tapi aku memaksa Bang Enesa pergi.

Bunyi seperti sangkakala kian menggema. Bola api terus meledak di atap kota. Tempiasnya hampir saja jatuh menghantam masjid raya. Langit kian indah memang. Dan aku gamang. “Bang, seandainya malam ini tsunami, kita habis semua,” kataku pada Bang Enesa. “Jelas! Dan kita mati sangat hina di sini.” Sahutnya. “Berarti kita balik saja ya. Firasatku tak enak.” Okelah kalo begitu, balas Bang Enesa. “Abang juga berpikir sepertimu, bujang.”

Maka Bang Enesa memutar skuternya yang mempunyai dua pasang spion. Kami harus merayap. Lamban sekali. Memang tak ada ruang gerak. Mereka masih menyembah api. Aku mesti bertindak, batinku sembari menyimak wajah-wajah ceria penghuni kotamadya meski ada yang seperti baru bangun tidur.

Lega. Aha, kami sudah punya ruang gerak untuk melaju cepat. “Air laut naik! Air laut naik! Tsunami!” Pekikku. “Kebut Bang,” desahku menghindar amukan massa. “Gila kau, bujang,” timpalnya berguyon, sambil tancap gas. “Air laut naik!”

Aku perhatikan ke belakang, mereka pada riuh. Tit… tit…! Klakson berbunyi di mana-mana. “Air laut naik!” Sebagian orang-orang itu ikut meneriakkan kalimat indahku. Semua orang panik dan gaduh. Aku masih bisa menangkap jerit takut, tangis kalut, dan caci tak percaya orang-orang itu. Tak lama kemudian, sms masuk. “Kawan, segara pulang. Katanya air laut naik!” Aku hanya bisa tertawa geli membaca pesan kawanku yang tadi pergi ke jembatan termegah di kotamadya, pusat pembakaran kembang api.

Di esok hari, seluruh surat kabar menyiarkan kepanikan orang-orang di malam tahun baru. Masyarakat yang meramaikan pergantian tahun dihebohkan oleh teriakan air laut naik. Dan kata surat kabar itu, polisi sedang mencari dua pemuda yang diduga peneriak itu dengan sengaja. Dan itu kami. “Bang, kita dicari,” celutukku pada Bang Enesa. “Ha ha.” Kami tertawa di kos ini sambil menepuk-nepuk bantal lusuh.

(Telah dimuat Serambi Indonesia ed. 16 Januari 2011)

Penulis; mahasiswa prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry angkatan 2009

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Menyembah Api”

  1. Good job jlk..
    Terus berkarya..
    Ane bngga ama antum2 skalian ..
    Semacam ada kekuatan lain yg ada di setiap karya anda .. 🙂
    forza milan..
    Haha

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s