Membeli Dosen

Seorang alumnus IAIN Ar-Raniry Banda Aceh angkatan 2002 yang kuliah di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah menceritakan pada saya beberapa hari lalu, bahwa masa dia kuliah, dosen harus dibeli jika mau pintar. Lelaki yang sekarang bekerja sebagai penyuluh pertanian di suatu lembaga itu mengisahkan, dulu tidak ada dosen KPI yang berlatarkan jurnalistik/publistik. Sehingga dia dan kawan se-unitnya harus patungan kumpul uang untuk menyewa dosen sendiri.

Mantan wartawan Theglobejournal itu mengatakan, mereka harus datang ke tempat kerja seseorang yang mereka ingin jadikan sebagai dosen. Mereka mendatangi kantor redaksi media cetak untuk belajar pada wartawan media itu. Adakalanya mereka berkunjung ke stasiun radio. Di sana, mereka belajar pengoperasian radio dan siaran. Kadangkala mereka mendatangi stasiun televisi guna belajar jurnalistik di bidang TV. Setiap seminggu sekali mereka harus patungan untuk membayar setiap pekerja pers yang mereka jadikan sebagai dosen. Bagi mereka, dengan cara seperti itulah mereka akan menjadi mahasiswa yang benar-benar bisa menggeluti dunia jurnalistik nantinya. Sebab pihak kampus tidak mau/tak sanggup ‘membeli’ dosen berlatar jurnalistik.

Luar biasa memang perjuangan senior kami itu. Saya tergelitik hati untuk menuliskan ini. Semoga ‘rakyat’ IAIN Ar-Raniry membaca ini. Saya ingin menjelaskan, bila dulu dosen harus dibeli, kini juga harus dibeli, tapi enggan menerima tawaran dari pihak kampus. Yang mengajar di KPI sekarang hanya sedikit yang mempunyai background jurnalistik. Itu pun mulai fokus belajar jurnalistik ketika memasuki semester lima.

Belakangan terdengar desas-desus kalau penyebab keengganan seorang profesionalisme mengajar di KPI adalah pihak kampus tak menghargai dosen tamu itu. Pernah dialami seorang sastrawan dan seniman Aceh yang mengajar di Fakultas Dakwah. Ia tak disediakan peralatan untuk kelengkapan belajar-mengajar semisal infokus (proyektor). Setelah diusulkan satu-dua kali, tak ada jua. Sehingga sang pengajar itu muak dan memilih hengkang. Dengar-dengar juga, kini pihak kampus membujuk pria itu untuk kembali mengajar. Tapi lelaki itu menolak mentah-mentah. Ada juga kabar yang menghembus, dikhawatirkan dosen yang berlatarbelakang jurnalistik sekarang tak ingin lagi mengajar di fakultas itu, karena kurang dihargai. Ironis memang.

Saya juga mengatakan ironis ketika mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam ini tidak dianjurkan mempresentasikan makalah dengan menggunakan infokus (proyektor). Konon katanya tak sanggup menyediakan proyektor. Hal ini berbanding terbalik dengan saudaranya, Unsyiah. Hampir semua jurusan di perguruan tinggi itu menggunakan infokus saat belajar-mengajar. Jika sudah demikian, jangan heran bila nanti alumni KPI Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry tak mengerti jurnalistik dan teknologi. Maaf, sudah bagus kualitas alumni sekolah swasta Muharram Journalism College yang hanya kuliah selama enam bulan saja dibanding KPI.

Memang, ada beberapa alumni KPI yang sukses di luar. Saya rasa, itu tak terlepas dari mereka mencari sendiri di luar dan belajar secara otodidak. Saya juga melihat, dosen kurang menghargai mahasiswa yang berprestasi di luar lingkungan kampus. Sepertinya mereka tak pernah melihat karya-karya anak KPI yang sesekali nongol di surat kabar di Aceh edisi Minggu di halaman budaya. Buktinya, tak ada ucapan selamat ketika sesekali tulisan mahasiswa KPI yang tak mengharap dari kampus itu dimuat. Kecuali, saya teliti, hanya tiga orang dosen yang memberikan ucapan selamat. Itu pun dua di antaranya dilakukan setelah dikabari, kalau tak dikabari tak ada yang tahu. Belum lagi, mahasiswa KPI yang berprestasi di belakang layar, seperti yang jadi penyiar, lay-outer koran, pelawak di tv swasta, dan pembuat film dokumenter. Tak lupa juga karikaturis.

Saya jadi cemburu pada mahasiswa Unsyiah ketika mendengar ceritanya. Saat karya mereka dimuat di media massa, maka sang dosen langsung memberikan ucapan selamat. Bahkan, mereka saling tanding dalam hal pengiriman tulisan, seperti yang dipraktikkan mahasiswa dan dosen FKIP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Namun demikian, mahasiswa KPI tetap membutuhkan kampus untuk belajar mencari inspirasi dan wawasan. Dan janganlah sampai pula kami harus membeli dosen sebagaimana dilakukan senior kami. Karena itu, baiknya petinggi kampus harus segera memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswanya, juga pengajarnya. Terimakasih kampus.[]

Oleh Makmur Dimila; mahasiswa prodi Jurnalistik jurusan KPI Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry angkatan 2009.

(Telah dimuat Harian Aceh di rubrik Analisis ed. 19 Januari 2011)

Klik http://www1.harian-aceh.com/analisi/4499-membeli-dosen.html

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s