Punk juga Manusia

PAKAIAN minimalis. Telinga, hidung, dan lidah ditindik. Rambut beragam bentuk. Sering mendekati tong sampah. Wajahnya terkadang sangar. Badannya terkesan jarang mandi. Hampir saban malam orang-orang yang mempunyai ciri-ciri demikian melanglang di kota Banda Aceh, terutama di Taman Sari dan Blang Padang. 

Setiap melihat mereka, setidaknya warga akan mengatakan, gelandangan, gembel, dan sebagainya. Warga, siapa saja, tidak mengecek kalau mereka itu punk sejati atau cuma berpenampilan seperti anak punk saja.

Begitulah nasib komunitas Public United Not Kingdom (PUNK) yang berkeliaran di kota Banda Aceh sekarang. Selama awal tahun ini, surat kabar lokal telah memuat berita tentang keresahan warga terhadap keberadaan komunitas yang berpenampilan nyentrik itu. Misal di serambinews.com (7/1/11), keberadaan komunitas punk di kota Banda Aceh dalam beberapa bulan terakhir ini dinilai meresahkan warga. Seperti dialami seorang ibu yang tak henti-hentinya menangis di kantor Dinas Syariat Islam kota Banda Aceh, Kamis (6/1/11), saat melaporkan anak perempuannya yang berusia 18 tahun, pergi dari rumah dan belakangan diketahui telah bergabung dengan komunitas tersebut.

Ibu itu menuturkan, anaknya sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Banda Aceh. Sejak empat bulan lalu, anaknya memperlihatkan perilaku yang tidak baik. Anaknya itu sudah meninggalkan shalat, membuka jilbab, dan jarang mandi. Bahkan sudah berani melawan orangtua dengan kata-kata kasar. “Bulan Oktober, anak saya lari dari rumah. Kami dengar kabar dia di Medan. Katanya dia sudah jadi anak punk. Kami pun menyusul ke Medan dan menemukan dia sedang ngamen bersama teman-teman punknya,” kata ibu itu dengan mata berkaca-kaca. Ia sempat membawa pulang anaknya. Namun, beberapa bulan kemudian putrinya kembali kabur dan hingga kini tak diketahui keberadaannya.

Selain itu, kepala Satpol PP dan WH kota Banda Aceh, Rusli AK juga mengatakan keberadaan punk di kota Banda Aceh meresahkan warga. Seperti diberitakan Harian Aceh (15/1/11), pihaknya telah mengidentifikasi bahwa ada 60 anggota komunitas punk di Banda Aceh. Dan itu meresahkan warga, kata Rusli AK. Dia juga menerangkan kalau punk itu masuk kategori gelandangan. Alasannya, mereka menggelandang hidupnya di fasilitas publik, padahal mereka memiliki keluarga, orangtua, dan tempat tinggal. Semua diagnosa masyarakat terhadap punk itu memang benar. Tapi siapa tahu kalau mereka yang selama ini berkeliaran di ibukota provinsi itu bukanlah anggota punk yang sebenarnya, tapi remaja atau pemuda yang doyan berpenampilan seperti anggota punk?

Karena saya pernah menjumpai langsung pengikut punk (punker) itu pada medio 2010. Malam (2/7/10) itu, saya menjumpai mereka yang sedang berkumpul di teras Musem Tsunami yang terletak di Blang Padang. Mulanya mereka memang kelihatan menakutkan. Tapi saat saya mencoba berkomunikasi, mereka menyambut dengan terbuka, ramah dan akrab. Meski agak tertutup dan tak mau dipublikasikan, saya bisa memahami setidaknya bagaimana punk yang sebenarnya. Kebetulan malam itu saya bertatap-muka dengan Street Punk Aceh.

Dari pengakuan seorang di antara mereka, punk itu tidak seperti yang dianggap masyarakat pada umumnya. (Saya tidak mengada-ada). Mereka mempunyai motto hidup, yaitu Do it Yourself (DIY), artinya lakukan sendiri atau kemandirian. Mereka juga mempunyai kreatifitas, seperti usaha sablon dan kerajinan tangan. Lantas siapa juga yang dianggap miris oleh masyarakat? “Sebenarnya yang dipandang miris itu bukanlah kami, tapi komunitas yang bergaya hidup seperti anak punk. Mereka melakukan tindak kriminal. Sehingga masyarakat menganggap gelandangan atau apa namanya, setiap yang berpenampilan aneh seperti kami,” ujar seorang punk yang mengaku asal Takengon pada saya.

Lelaki yang sudah melanglang di Medan itu juga menambahkan, sebenarnya mereka ingin mencari keadilan. Keadilan tanpa kebebasan itu penindasan namanya, kata dia. Pemuda yang mengaku menangis saat melihat pemutaran video tsunami di museum tsunami itu juga mengatakan, kawan-kawannya juga dari kaum terpelajar, siswa atau dan mahasiswa. Harinya mereka belajar. Makanya mereka berkumpul di saat malam hari. Sebagian anggota komunitas itu juga mengaku, kalau orangtua mereka sudah pasrah, karena tak sanggup lagi menasihatinya. Mereka juga berkata, bahwa mereka tak akan mengganggu masyarakat.

Kreatifitas yang diciptakan punker antara lain menciptakan grup band, usaha sablon dan kerajinan tangan, membuka distro, juga kajian agama. Seperti yang diprakarsai Punk Moslem. Pada talkshow “Menelisik Lika-liku Kehidupan Punk Moslem” yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus Syahid (LDK Syahid) di aula Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah (18/3/10), Punk Moslem sama sekali tidak seperti yang dianggap masyarakat pada umumnya terhadap punk. Stereotip miris terhadap Punk Moslem sangat tidak cocok. Dan kini, Punk Moslem tersebar di Indonesia (Jogjakarta, Palu, Semarang, Bengkulu, Indramayu). Kegiatan punk muslim adalah mengaji setiap hari. Dan ini mendapat tantangan serius dari para preman. Namun mereka tetap berjuang agar tidak dianggap miris.

Penyebab komunitas punk dianggap miris mungkin karena stereotip masyarakat, yaitu menggeneralisasikan sekelompok orang dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan mereka yang bersifat individual. Stereotip ini sering menyesatkan persepsi masyarakat bila dijadikan landasan untuk berkomunikasi dan bekerjasama dengan orang lain. Saya rasa, tak bermaksud membela, pandangan masyarakat terhadap keberadaan punk di kota Banda Aceh karena stereotip, bahwa punk itu anarkis, gelandangan, kotor, dan sebagainya.

Bisa jadi, mereka seperti yang dikatakan Pavel Semenov, psikolog Rusia. Ia mengatakan, manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).

Karena ingin menjiwai seni, sebagian pemuda di Amerika membuat gebrakan baru. Gerakan muda yang merupakan anak-anak kelas pekerja mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral dan para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan tingginya kriminalitas. Kemudian mereka membentuk komunitas yang antikapitalis dan kemudian dinamakan “punk”.

Masa itu, mereka berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun kadang-kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak. Sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1990-an Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.

Komunitas “Street Punk Aceh” yang saya jumpai itu juga mengungkapkan, punk itu antikapitalis. Mereka mengatakan diri sebagai makhluk sosial, karena punk juga manusia yang hidup penuh dengan seni meski terkadang seninya itu dianggap miris oleh masyarakat.

Oleh Makmur Dimila; mahasiswa prodi Jurnalistik, Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry.

(Telah dimuat Serambi Indonesia di rubrik Opini ed. 19 Januari 2011)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Punk juga Manusia”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s