Wajah Aceh sudah Tersulap

Mentari perlahan bergerak menuju peraduan. Dari ufuk, sinarnya mulai meredup, memancarkan kilau kemerahan. Debur ombak yang menjilat sisa bibir Pantai Cermin, Ulee Lheu, riuh. Lalu lalang cucu Adam berkendara kuda Jepang menyemuti jalan yang mengkilap berhias taman-taman warna-warni di kedua sisi. Sungguh, tak ada yang menduga potongan kota yang sempat remuk enam tahun lalu itu telah tersulap.

Azhar (40) berkacak pinggang di tepi jalan dekat lapak penjualan jagung bakar miliknya. Mulutnya komat kamit memberi aba-aba kepada anak buahnya yang tengah mengipas-ngipas jagung. Bersahaja pria itu merapikan jagung yang tergeletak di atas bara api dari tempurung kelapa.

26 Desember 2004 silam, Azhar selamat dari sapuan gelombang tsunami. Ia bersama istri dan dua anaknya terhempas dari Pantai Cermin ke Punge Blang Cut, bertetangga dengan tempat pendaratan Kapal PLTD Apung. “Sedih kalau omong itu. Bukan berarti melupakan masa lalu. Bangunan-bangunan hancur lebur dan kawan saya banyak yang hilang,” kenang lelaki yang rambutnya mulai memutih itu.

Beberapa kawannya yang selamat karena sedang berlayar ke laut lepas, mengira Aceh telah dihantam bom atom sebab saat itu Aceh masih dilanda konflik bersenjata. Apalagi bangunan-bangunan di kawasan Ulee Lheu telah rata dengan tanah.

Azhar dan kawan-kawan tak mau larut dalam duka. Beberapa bulan pascatsunami, mereka kembali menjual ikan di tempat biasa, Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Ulee Lheu. Mereka seperti ketiban berkah kala NGO asing singgah ke Aceh. Namun bubarnya BRR disusul hengkangnya NGO pada 2009 ikut memperburuk keadaan mereka sebagai penjual ikan.

Tragisnya lagi, pendapatan mereka dari menjual ikan tergerus oleh program pembangunan pemerintah. Apalagi kini di bagian depan TPI Ulee Lheu telah dibangun Taman Kuliner yang juga menyediakan wahana bermain anak-anak. “Tidak mungkin jualan lagi di situ karena ada taman bermain anak-anak di depannya. Pembeli enggan masuk ke TPI Ulee Lheu karena terhalang taman,” ketusnya mempertanyakan bentuk tata kota.

Sejak taman bantuan Logica itu dibangun, TPI Ulee Lheu bagai tersekat. Ia bak dipagari sejumlah peralatan bermain anak-anak yang menimbulkan keengganan bagi pembeli untuk melangkah ke sana. Akibatnya, Azhar dan beberapa kawannya berhenti menjual ikan, kecuali sebagian saja yang masih cinta profesinya itu.

Kini, 6 tahun setelah megagempa 8,9 SR disusul gelombang raksasa tsunami, wajah kawasan Ulee Lheu telah tertata apik, bersih dan rindang. Sepanjang jalan menuju Ulee Lheu disulap menjadi zona wisata dan mampu menarik perhatian warga. Pada sore hingga malam hari kawasan ini ramai dikunjungi warga. Khusus hari Sabtu dan Minggu jumlah pengunjung membludak, mencapai puncak.

Ulee Uleu sebagai destinasi wisata dalam menyambut Visit Banda Aceh Year 2011 ikut membawa berkah bagi warga sekitar. Beberapa penduduk setempat memanfaatkan momen ini untuk mengail rezeki. Azhar salah satunya. Mereka menawarkan aneka jajanan kepada tamu, mulai dari cafe mewah berfasilitas wifi hingga warung bongkar pasang yang berjejer di sepanjang trotoar jalan.

Azhar pun mengalihkan profesinya menjadi penjual jagung bakar di pinggiran jalan menuju pelabuhan Ulee Lheu, sekitar 5 km dari pusat kota Banda Aceh. Ia harus bersaing dengan penjual jagung bakar yang menjalar di sepanjang tepi jalan itu. “Sekitar 20 persen warga Ulee Lheu yang jualan di sini. Selebihnya pendatang semua,” ujar Azhar.

Sampai petang 15 Desember 2010 itu, Azhar masih berdecak kagum akan keramaian di sepanjang pantai Ulee Lheu. Ia tidak menyangka Ulee Lheu kian banyak pengunjung pascatsunami. Penjual jagung bakar dan aneka jajanan lain merambat hingga 2 km meter mulai dari simpang tiga depan masjid Baiturrahim sampai ke gerbang pelabuhan.

“Sebelum tsunami hanya bencong yang jualan jagung bakar di Ulee Lheu. Namanya Taufik, sering disapa Susi. Ia jualan di jembatan Ulee Lheu dulu. Pasca tsunami tak ada lagi kabarnya,” ujar Azhar menyeringai senyum.

Dulu ia sempat mengira, Ulee Lheu tak akan ada lagi pengunjung. Bahkan seorang kawannya sempat berujar, “Mungkin pantai Ulee Lheu akan hidup kembali di tahun 2025”.

Kini Azhar bersama warga Ulee Lheu lainnya berencana mendirikan kedai wisata di pinggiran jalan itu. Dengan modal usaha dari PNPM Mandiri, nantinya kedai itu akan dijadikan layaknya penjual ranub mameh (sirih manis) di Pasar Aceh yang tertib.

Dia mengaku, selama ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata belum mengajak keterlibatn mereka. “Mungkin belum ada. Makanya kami harus berusaha sendiri,” ujar lelaki pekerja keras ini.

***

Gema iqamah membahana dari kubah masjid Baiturrahim yang berdiri pada 1922. Sebagian pengunjung menyisihkan waktunya untuk menunaikan shalat di masjid bersejarah ini. Sebagian lagi tak mengacuhkannya. Deru kendaraan nyaris mengalahkan suara iqamah. Buchari memimpin jamaah maghrib petang itu.

Alhamdulillah, dibanding sebelum tsunami, jumlah jamaah di masjid ini sedikit meningkat. Masjid ini tidak roboh saat tsunami. Hanya jendela dan daun pintu saja yang hancur,” ujar Buchari, imam tetap masjid Baiturrahim usai salat maghrib.

Saat tsunami 2004 lalu, warga Ulee Lheu menyelamatkan diri ke lantai 2 masjid yang berdiri tegak di pinggir laut itu. Awalnya ada 128 warga yang bertahan di lantai 2. Namun saat gelombang ketiga, hanya 9 orang yang tersisa. “3 wanita dan 6 pria. Salah satunya bayi lelaki berumur 8 bulan,” kenang Buchari.

Buchari sendiri menyelamatkan diri ke Sibreh. Warga Meuraxa ini melarikan diri saat melihat air yang menggulung tinggi. Namun 9 saudara kandungnya hilang. Pula anak, menantu, dan cucunya terbawa air hitam berlumpur itu.

Ia menyesalkan ihwal pemandangan pantai Ulee Lheu pascatsunami yang hampir setiap malam dikunjungi pasangan muda-mudi. “Kami  berupaya bekerjasama dengan WH untuk mencegah terjadinya maksiat di kawasan ini,” ujar pria yang mengaku mendukung pengembangan Ulee Lheu sejauh tidak menyimpang dengan nilai-nilai Islam.

Buchari juga menyoal masih belum meratanya pembangunan di beberapa daerah. “Di tempat kami masih banyak payau-payau yang belum ditimbun. Tanggul juga masih ada yang bocor. Kami mengharapkan agar pemerintah membangun kembali Ulee Lheu secara menyeluruh karena ini adalah pusat pariwisata,” sambung dia.

***

Tsunami 26 Desember 2004 menimbulkan kerusakan luar biasa bagi Aceh. Sekitar 250 ribu orang meninggal/hilang, 500 ribu warga mengungsi, 120 unit rumah rusak. Selain itu, sekolah, jalan, rumah sakit, perkantoran, rumah ibadah dan segala bangunan yang berada dalam radius 6 km dari bibir pantai mengalami kerusakan parah.

Setelah 6 tahun dilanda tsunami, capaian pembangunan yang melibatkan masyarakat dari seluruh penjuru dunia sudah membuahkan hasil yang memuaskan. Melalui momen 6 tsunami, warga Aceh patut menyampaikan rasa terima kasih atas ketulusan masyarakat dunia dalam membangun kembali Aceh dalam wajah yang baik (build back better).

Adanya kekurangan di sana-sini dalam membangun kerusakan super dahsyat 26 Desember 2004 lalu dapat dimaklumi. Ia tidak melunturkan rasa terima kasih warga Aceh. Tanggung jawab menyempurnakannya ada di pundak Pemerintah Aceh bersama jajarannya di seluruh kabupaten/kota, sehingga harapan Azhar, Buchari serta harapan seluruh warga Aceh di tempat lain akan tercapai.

 

Menyambut Tamu Pascatsunami

Pembenahan besar-besar di zona bekas tsunami Ulee Lheu adalah bagian dari program Visit Banda Aceh Year 2011 yang dicanangkan Pemerintah Kota Banda Aceh. Kawasan wisata Ulee Lheu dan beberapa objek wisata lainnya di Banda Aceh sudah disuguhkan pelayanan semampunya demi mengembangkan sektor pariwisata. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Banda Aceh berupaya bekerja dengan semua pihak dalam menjadikan Banda Aceh sebagai destinasi wisata.

“Tidak benar pemerintah tidak bekerjasama dengan warga di sekitar lokasi wisata dalam program pariwisata. Pemerintah sangat antusias dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat,” ujar Zainal, kabid pembinaan dan pengawasan Disbudpar Kota Banda Aceh, menanggapi komplain masyarakat yang merasa tidak dilibatkan dalam pengembangan pariwisata (lihat Wajah Aceh sudah Tersulap.)

Disbudpar, ungkap Zainal, sudah membentuk Kelompok Sadar Wisata (KSR) yang ditempatkan di beberapa titik, yakni di Ulee Lheu, Punge, Lampulo, dan Kampung Pande. Dikatakannya, melalui pemimpin setiap kecamatan, KSR itu bisa menjadi mediasi bagi masyarakat sekitar lokasi wisata. “KSR dibentuk guna bekerjasama dengan masyarakat dalam mengembangkan pariwisata sehingga tidak terjadi kesalah-pahaman. Mungkin keberadaan Kelompok Sadar Wisata belum bersosialisasi dengan masyarakat. Ke depan, keberadaan Kelompok Sadar Wisata kita sosialisasikan lagi,” katanya.

Ditambahkan, Disbudpar akan terus melengkapi pembangunan pariwisata hingga paripurna. “Kita berprinsip membenahi sambil jalan. Disbudpar juga sudah berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait. Kesadaran masyarakat untuk menumbuhkan pariwisata juga semakin membaik, seperti di PLTD Apung. Dengan adanya partisipasi masyarakat, kita berharap wisatawan berkesan saat meninggalkan Banda Aceh,” sambungnya.

19 Oktober 2010 silam, Disbudpar sudah mengadakan launching Visit Banda Aceh Year 2011 di gedung Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI di Jakarta. Acara yang dihadiri sejumlah pejabat se-Indonesia dan termasuk juga dari Aceh itu dibuka langsung oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), Jero Wacik.

Disbudpar telah menjalin kerjasama dengan segenap stakeholder di Banda Aceh, seperti perhotelan, komunitas seniman, dan lainnya, Disbudpar juga mengadakan beberapa pergelaran seperti Festival Budaya di Taman Sari pada Mei silam dan Festival Budaya Islami beberapa bulan kemudian. “Itu semua kita adakan dalam rangka menyambut Visit Banda Aceh Year 2011. Kota Banda Aceh ingin menyambut setiap tamu dengan senyum ramah. Peumulia jamee,” tambahnya.

Semua elemen masyarakat diharapkannya untuk ikut berpartisipasi penuh. “Jangan hanya menjadi penonton. Ini akan mendapatkan keuntungan ketika orang banyak datang kemari. Perekonomian masyarakat akan tumbuh,” pesan dia. [makmur dimila]

(Telah dimuat tabloid TABANGUN ACEH ed. 11, Desember 2010)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Wajah Aceh sudah Tersulap”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s