Geer Berpose Bareng Bule

Di sela-sela liputan di kompleks makan Sultan Iskandar Muda, dalam rangka Visit Banda Aceh Year 2011 menyambut tamu asing pertama dari perusahaan Zegrahm Ekspeditions, Amerika Serikat, aku menyempatkan diri bepose bareng bule. Mulanya aku memotret dua pria berkulit putih sedang meneguk kopi Aceh. Satu di antara mereka mengenakan peci khas Aceh. Kemudian saya tahu namanya, George Lake, turis asal California.

Saat aku menjepret, tiba-tiba George Lake menatapku dengan menyeringai senyum. Lalu mendekatiku dan hatiku deg-degan. Apa yang akan kubilang jika ia ngomong sama aku. Tapi aku tenang. Bermodal bahasa Inggris pas-pasan yang masih kuingat sewaktu MAN, aku mengerti ketika ia meminta kameraku. Lalu ia berkata dalam bahasa Inggris yang kira-kira artinya, “bolehkah saya mengambil gambarmu dengan teman saya?” Oke, silakan, aku bilang.

Dan, tanpa pikir atas-bawah, tanpa lihat kiri-kanan–kecuali menatap lensa kamera yang sedang dibidik George Lake—aku berpose dnegan kawannya. Aku lupa menanyakan namanya. Kawan George Lake yang mirip actor Hollywood itu mengalungkan tangan kanannya ke bahu kananku. Sementara tangan kirinya dan tangan kananku memegang cangkir kopi. Aku memegang cangkir kopi milik George Lake.

“Why?” Tanya George Lake tiba-tiba. Aku jadi gemetar. Kok enggak bisa saat dipotret. Lalu ia dan aku saling mendekat. “O, memory card is full. I have to delete some pictures,” ujarku pada George Lake dengan pede. “Okay.” George menunggu sejenak.

Setelah kuhapus, kuserahkan kamera pada pria yang mengatakan tarian Aceh itu fantastis. Lalu aku kembali berpose bareng kawannya, dengan gaya seperti tadi.

Huff.. Aku melihat kiri-kanan saat George Lake sedang membidik. Aku pun jadi geer saat melihat banyak orang Aceh di sekeliling kami yang lagi berbincang-bincang sembari minum dan makan penganan khas Aceh. Hah? Aku harus bergaya gimana? Alah, apa adanya pikirku.

“Klik.” Sudah satu. Lalu George menampakkan hasil jepretannya pada kami. “Mr, one more. One more,” kataku. Sekali lagi maksudnya. Lalu dia membidik kami lagi dan selesai. Mereka pergi dan hatiku berbunga-bunga. Haha.

Oow, lupa kutanyakan padanya tentang Aceh. Tak lama kemudian, aku jumpa lagi dengan George Lake. Ia selalu senyum. Aku melihat, mungkin yang paling ramah di antara ratusan wisatawan mancanegara yang datang hari itu adalah George Lake. Dengan sesiapa ia akrab. Ia juga sangat suka memotret dan dipotret.

Kemudian aku menanyakan sedikit tentang Aceh padanya. Lihat komentarnya di http://acehjurnal.com/banda-aceh-sambut-tamu-pertama-2011.jsp Dah, itu pengalaman yang membanggakan bagiku. Belajar berbahasa Inggris. Coba-coba aja dulu. Maaf, aku sempat melihat wartawan yang mewancarai bule melalui kepintaran orang lain. (Seharusnya mereka dibayar, pikirku, sebab sudah panjang lebar disuruh tanyakan demi mendapat laporan). Tapi, ada juga wartawan dari Aceh yang pintar mewawancarai dalam bahasa Inggris.

Oya, bau bule membekas di bajuku sepanjang hari itu, terutama jaketku. Wah, baunya ga hilang-hilang. Menusuk dan beda benger khas bule. Aku sadar, bau itu menempel padaku pasti saat berpose sama kawannya George Lake. Pasti. Tapi tak apalah, kan bisa kita cuci. Sampai jumpa George Lake.

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

6 thoughts on “Geer Berpose Bareng Bule”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s