Uang Menulis untuk Ikut Workshop Menulis

Aku jadi gamang ketika melihat pengumuman kelulusan peserta workshop menulis ‘panjang, dalam, dan terasa’ yang diadakan Bahana Mahasiswa (LPM Universitas Riau) bekerjasama dengan Eka Tjipta Foundation pada 30 Januari-5 Februari 2011. Namaku memang termasuk dalam 20 peserta yang lulus seleksi dan berhak mengikuti workshop ke Sei Rokan Training Centre di Siak, Riau. Orang boleh senang ketika lulus seleksi, tapi aku tidak.

Uang. Ya, dana untuk menanggung transportasi ke sana dari mana? Itu yang membuatku pusing. Sebab, beberapa bulan silam, aku gagal ke Lampung untuk mengikuti Diklat Jurnalistik Mahasiswa Se-Indonesia yang diadakan Teknokra (LPM Universitas Lampung), gara-gara tak dapat dana. Sudah berusaha mendekati seorang tokoh masyarakat yang kukenal dan ia seorang anggota dewan, tapi tak ada bantuan. Pengen ajukan proposal ke Rektorat pun tak ada anggaran. Ya, aku gagal ke Lampung. Coba saja kalau jadi, aku akan memakai almamater biru IAIN Ar-Raniry mewakili Aceh di saat acara pembukaan oleh Gubernur Lampung dan disiarkan secara nasional, setidaknya itu akan membanggakan orang-orang di kampus biru. Tapi, itu hanya mimpiku.

Dan aku tak ingin seperti keledai; jatuh ke lubang yang sama dalam kedua kalinya. Kali ini aku tak ingin gagal ke Riau. Apalagi pematerinya bukan sembarangan pemateri. Ada Andreas Harsono di sana. Ia ditemani Chik Rini, penulis asal Banda Aceh yang terkenal dengan ‘Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft’nya itu. Andreas Harsono, ranah mainnya internasional kawan. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, apalagi sehari setelah acara, ia akan meluncurkan bukunya bertajuk ‘Agama Saya adalah Jurnalisme’.

Maka aku berpikir, jika tak ada dana dari rektorat sebagai plan A, aku harus punya plan B, kalau perlu plan C. Sejak hari pengumuman itu, aku berancang-ancang. Namun aku sengaja tidak memulai mengail sumber dana seminggu usai pengumuman itu. Sebab lagi final semester ganjil, ditambah lagi beberapa tugas yang harus dikumpulkan saat final. Maklum kawan, aku suka menunda-nunda, sebagaimana biasa kawan-kawan terapkan bukan? Tapi aku tak suka menunda-nunda dalam dunia penulisan. Deadline tak akan terlewat Insya Allah. Maka untuk menggantikannya, aku terus menulis semacam opini, analisis, dan cang panah yang akan kukirimkan untuk Serambi Indonesia dan Harian Aceh. Soal menulis, aku tak peduli sedang final atau tidak. Asal sudah dapat ide, kapan dan di mana pun akan kutuliskan segera. Tak ada kata untuk menunda.

Selesai final. Waktuku untuk ke Pekanbaru hanya dua pekan lagi. Tentu segera harus kuraih dana setidaknya satu jutaan. Dan aku mulai membicarakan dengan seniorku di kampus. Katanya, buat proposal dan ajukan ke anggota dewan yang aku kenal dan merupakan tokoh masyarakat. Karena di rektorat enggak ada dana katanya. Aku meyakinkan itu. So, tak perlu lama-lama aku berharap lagi pada kampus. Maka aku beralih ke plan B.

Nah, dua minggu tersisa, the time to write. Waktunya untuk menulis dan mengirimkan ke media lokal. Karena nasional aku belum bisa meski sudah pernah kucoba dan beberapa kali ditolak, cerpen khususnya. Walaupun begitu, aku tetap menulis dengan tetap menjaga kualitas tulisan. Tidak asal tulis.

Aku menulis mulai dari cerpen, opini, analisis, cang panah (semacam cerita nasihat), sajak. Alhamdulillah opiniku pertama dimuat di Serambi Indonesia sekitar 10 hari sebelum berangkat, aku menulis tentang keberadaan komunitas punk di Banda Aceh yang kemudian menimbulkan pro dan kontra. Di hari yang sama, analisisku dimuat di Harian Aceh. Dan sehari sebelumnya, opiniku juga dimuat di Harian Aceh. Dan besoknya serta disusul beberapa hari kemudian, cang panahku dimuat di Harian Aceh. Dua hari setelah opiniku dimuat Serambi Indonesia, aku disarankan seniorku untuk menulis press release acara Fakultas Dakwah rehab rumah warga. Alhamdulillah, aku disodorkan sedikit uang. Padahal yang nulis rilis itu adalah seniorku juga, tapi senior yang tadinya itu, menyuruhku untuk mengeditnya, lalu kukirimkan ke media-media di Aceh. Dan besoknya, rilis itu dimuat di Serambi Indonesia dan media-media lain. Kepercayaanku sudah dimiliki dosen yang menginginkan rilis itu dimuat di Serambi Indonesia setidaknya. Terimakasih senior.

Tiga hari sebelum berangkat, tiba-tiba saja aku dihubungi tabloid TABANGUN ACEH. Katanya ada sedikit honor atas tulisanku yang dimuat sebulan yang lalu. Sungguh tak kuduga, aku dapat 250ribu. Lalu sehari berikutnya, aku ke bagian keuangan Harian Aceh. Aku dapat 750ribu. Itu honor yang kudapat dari menulis di Harian Aceh sejak 25 Juli 2010 sampai 24 Januari 2011, berupa cerpen, puisi, artikel, opini, analisis, dan cangpanah. Alhamdulillah. Sudah cukup, pikirku. Cukuplah ongkos PP via darat. 120ribu dari Banda Aceh ke Medan ditambah 140ribu dari Medan ke Pekanbaru. Ini untuk pergi saja plus makan minum di jalan barang 100ribu. Belum untuk lain-lain.

Dua hari sebelum berangkat, aku ngopi di sebuah café di Banda Aceh bareng kawan dari Banda Aceh yang jug lulus seleksi ikut workshop. Zulkarnaini Masry (Zoel Masry) dari Lensa, LPM Unmuha dan Sammy Khalifa dari Detak, LPM Unsyiah. Keduanya bisa kubilang senior; dari umur dan mungkin pengalaman mereka. Zoel Masry juga harus pakai uang pribadi, katanya. Dan aku tersentak ketika Sammy Khalifa berujar, “aku tak bisa ikut, Enggak ada anggaran dari rektorat. Aku tak bisa ikut,” katanya. Alamak. Sebenarnya ia punya juga sedikit uang pribadi, tapi ia lagi butuh uang untuk bayar SPP. Ditambah lagi alasan lain yang harus ia tunaikan, maka tak jadilah ia ke Riau. “Sayang ya..” komentar Chik Rini yang merupakan alumni Unsyiah itu di Sei Rokan, di malam pertama kami berjumpa (30/1).

Ya sudahlah kawan. Dengan segala usaha, aku dan Zoel Masry bisa juga mengikuti workshop menulis di Riau. Aku sendiri bisa dibilang, uang dari hasil menulis kugunakan untuk mengikuti workshop menulis, begitu bukan? Ternyata ilmu itu mahal. Atau memang aku dan mereka tak pandai mencari uang (melobi)? Atau memang ‘mereka’ tak sudi membantu kita mencari ilmu ke luar daerah? Entah. Sammy dan juga Jufriadi (peserta lulus cadangan yang terlanjur memutuskan untuk tidak ikutan padahal seminggu sebelum acara ia dihubungi panitia untuk ikut namun ia menolak) mohon bersabar. Sammy akan datang kesempatan ketiga. Jufriadi akan hadir kesempatan kedua. Semangat.

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

6 thoughts on “Uang Menulis untuk Ikut Workshop Menulis”

  1. Jujur, aku terharu membacanya, kawan!

    Sedemikian perjuanganmu agar bisa mengikuti workshop penulisan itu (sebagaimana juga sesalku yang tak sempat bergabung di dalamnya). Aku juga sudah pernah mengalami kekecewaan sebelumnya karena tidak bisa ikut Seminar dan PJMTL Nasional yang diadakan Undip Semarang beberapa bulan sebelumnya, seperti juga dengan Diklat Jurnalistik Mahasiswa Se-Indonesia LPM Teknokra-mu itu, kawan! Dan workshop penulisan yang sedang kau ikuti itu adalah penyesalan keduaku.

    Landjoetkan perdjoeanganmu. Aku yakin segala yakin dan percaya segala jelma, You are the next real great Candidate!

    Sampaikan salamku untuk semua rekan di Sei Rokan. Terima kasih untuk doa dan motivasinya, kawan! Nanti setelah kau kembali, ceritakanlah kepadaku kabar gembiramu itu dalam harmoni secangkir kopi…

  2. Betapa penuh perjuangannya hudup ini. semoga apa yang telah kamu coretkan dalam tulisan yang kamu sajikan bisa memberikan inspirasi bagi pemuda yang lain. bahwa dimana ada kemauan dan usaha. maks sejatinya harapan sudah menunggu diujung tanduk. semangat kawan. semoga kita bisa saling berbagi Informsai…

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s