Timang-timang

Turnamen bola lima tahunan hampir dimulai. Tim peserta mempersiapkan diri sematang mungkin. Tim amatir menjadikan ajang itu untuk mencari sensasi. Tim profesional menjadikannnya untuk mempertahankan gengsi. Bagi tifosi, mendesain waktu sedemikian rupa supaya bisa menyaksikan turnamen itu. Misal penjual kacang dan jagung rebus, memanfaatkan momen itu untuk mengais rejeki. Lebih kurang, begitulah gambaran menjelang suatu helatan akbar sepakbola. Sama halnya dengan pesta demokrasi di suatu negara.

Konon kabarnya, di penghujung tahun ini akan digelar ‘turnamen politik’ lima tahunan di negeri ini. Seperti biasa, sebelum turnamen bergulir, digelarlah babak kualifikasi. Di negeri ini, babak itu sudah terlihat. Beberapa calon pemimpin sudah bermunculan. Masyarakat melihat itu di koran-koran. Maka rakyat menentukan pilihan mulai sekarang. Menimbang-nimbang. Memilih tim yang ditaburi bintang, seumpama Real Madrid, atau memilih juara bertahan, seumpama Inter Milan. Hidup adalah pilihan. Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, atau Ismed Sofyan? Anda sendiri yang menentukan. Tuhan yang mengabulkan.

Saat peluit babak kampanye dilengkingkan, calon-calon itu akan berperang untuk merebut hati rakyat. Dalam situasi itu, diharapkan penduduk negeri jangan tertipu oleh gocekan pemain bintang. Pula tidak menganggap remeh pemain baru. Rakyat harus menonton aksi mereka dengan jeli. Yang bermain curang tak usah didukung. Biasanya, pemain-pemain itu akan menyampaikan uneg-unegnya saat kampanye. Janji-janji. Hati-hati!

Jika ngefans suatu pemain, perhatikan yang punya dua profesi. Jika ada pemain yang merangkap profesi lain di luar lapangan dimana tugasnya itu lebih penting untuk  dijalankan, maka kalau boleh, tinggalkan dia. Biarkan ia menjalankan tugas utamanya agar perannya di luar lapangan lebih dikenang. Kalaulah ada pemain yang berpotensi, pantaulah selalu. Tak lupa pula untuk menyimak pemain yang pura-pura ikut turnamen. Terkadang ada pemain yang setengah hati mainnya, ia hanya mementingkan diri sendiri. Maka palingkan wajah untuk dirinya.

Ketika ajang kualifikasi atau kampanye selesai, saatnya rakyat ceumulok (mencoblos). Untuk tahun ini, pesta ceumeulok kemungkinan diadakan di penghujung tahun. Pilihlah dengan jujur. Jangan terganggu oleh bisikan setan dan iming-iming.

Dari beberapa pasangan pemain, hanya satu yang terpilih, yang mendapat suara terbanyak. Ketika sudah dipilih, maka dong beukong. Pasang kuda-kuda. Rasakan hasilnya. Kelak, benar dan salah, pemain itu tetap plihan rakyat. Sekali lagi, turnamen hampir dimulai. Pilih juara bertahan atau tim baru. Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, atau Bambang Pamungkas? Ibarat dalam neraca, jangan lupa timang-timang. Harus adil dan jujur.

(Cang Panah Harian Aceh ed. 17 Februari)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s