Kunci Jawaban

Fatema berlari ke tepi pelabuhan Ulee Lheu. Perempuan putik itu hendak mengejar seorang perempuan paruh baya yang sedang menaiki tangga dan masuk ke tubuh Pulo Rondo, feri yang akan membawakan penumpang ke Sabang. Jangkar kuku tunggal feri bergerak masuk ke dalam; memisah antara kapal dengan dermaga pelabuhan. Nian lambat, Fatema hanya bisa menatap kuyu tubuh ramping Pulo Rondo yang berlari menyibak riak. Fatema berteriak, menyebut-nyebut nama perempuan paruh baya yang di dalam kapal cepat itu. Lalu Fatema terduduk di bibir dermaga pelabuhan.

***

Perempuan paruh baya berseragam abu-abu memasuki ruangan. Tangan kanannya menghimpitkan map ke dada. Tangan kirinya berayun-ayun ringan seirama dengan seretan kakinya menyapu debu ruangan berlantai semen. Dua puluh pasang mata menatap perempuan paruh baya itu.

“Alah, malas aku kalau Bu Tika yang masuk.” Sengau terdengar suara parau dari yang duduk di pojok.

Perempuan paruh baya itu duduk dengan tangan bersidekap di atas meja bertaplak karton biru dilapisi plastik bening: hasil kreatifitas pelajar katanya. Bu Tika, begitu perempuan paruh baya itu acap disapa. Bu Tika memberi salam memecahkan ketegangan di pagi hendak merambat siang. Bayang-bayang jenuh sepertinya kembali hadir hari ini.

Seperti biasa, usai menerangkan teori segala teori matematika, Bu Tika menyuruh siswanya satu-satu ke depan guna menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Pemanasan jelang ujian nasional, kata Bu Tika. Mana ada, Bu Tika itu tak tahu harus mengajarkan apa lagi buat kami, kata sebagian siswanya. Eh, kalian, Bu Tika mau membantu kita supaya lulus semua nantinya, dukung Fatema.

Maka segenap siswa menyembunyikan muka ke laci meja saat mata elang Bu Tika menyorot, siapa yang akan pertama maju.

“Saya, Bu.” Fatema menunjuk loteng yang bolong-bolong, seakan telunjuknya terbang ke awan.

“Jangan kamu selalu. Yang lain siapa berani?” Sahut Bu Tika.

Tak ada satupun yang berani mengacungkan tangan selain Fatema. Maka Bu Tika melangkah ke bangku segala bangku. Ia mengelilingi mereka. Lalu menunjuk seorang siswa untuk maju menyelesaikan soal di papan tulis. Alis tipisnya naik saat siswa itu tak mau bergerak. Tak segan-segan perempuan paruh baya itu menggertak. Tidak lupa pula ia menjewer kuping siswanya yang tak mau maju setelah disuruh beberapa kali.

Usai dipaksa-paksa, baru seorang di antara mereka—selain Fatema—bangkit. Sedikit takut siswa itu berjalan gontai. Rinai-rinai kekhawatiran akan dijitak jika tak bisa menjawab sepertinya melekat dalam pikiran siswa itu. Ah, tujuh menit sudah di depan, remaja ingusan itu belum bisa menyelesaikan soal-soal pemfaktoran yang diberikan Bu Tika. Waktunya sudah habis, kata Bu Tika. Saatnya menyuruh siswa lain, sementara yang tak bisa itu berdiri dengan sebelah kaki di depan.

Alasan Bu Tika mengeksekusi begitu, biar mereka tidak manja dengan bantuan jawaban dari guru mereka di pagi buta sebelum detik-detik ujian akhir dilangsungkan. Pengalaman uan sebelumnya, siswa yang bodoh selama belajar malah lulus, sedang yang aktif dan pintar saat belajar tidak lulus. Bu Tika kecewa. Maka mulai tahun ajaran ini ia membuat kebijakan baru: tak ada istilah manja. Ini bukan jaman manja, katanya.

Bahkan suatu pagi saat dipercayakan untuk memberi pidato pada upacara bendera, Bu Tika mencamkan di hadapan semua peserta dan para staf pengajar juga termasuk kepala sekolah: ini bukan jaman manja, kepala sekolah beserta jajarannya jangan memberikan kunci jawaban saat ujian akhir nasional nanti. Camkan ini. Peserta terhenyak mendengarnya. Apalagi kepala sekolah; ia meninggalkan upacara segera, menuju ruangan kepala sekolah.

Bukan pada kesempatan itu saja. Saat diundang dinas pendidikan untuk membahas ujian akhir nasional beberapa hari sebelumnya, Bu Tika juga melemparkan pernyataan serupa ke muka-muka peserta rapat. “Ini bukan jaman manja. Pengajar jangan memberikan kunci jawaban saat ujian akhir nasional kepada siswa.” Peserta tersentak mendengarnya. Siapa berani membantah? Sergah Bu Tika sebelum coba disanggah. Gagah? Entah.

Perempuan yang mengenakan kacamata dan berkulit hitam manis itu kini melirik ke pojok kanan. Telunjuk kanan mendarat ke wajah siswi yang rautnya sedikit kalem. Bak ada lem di bangku, siswi itu tak mau maju. Jika pun mau, hatinya mengatakan jangan. Maju atau tidak, tetap tak ada bocoran jawaban saat ujian akhir, pikirnya. Kalau sudah berperangai demikian, maka Bu Tika tak segan-segan menyeretnya–setengah memaksa–ke depan.

Bu Tika melototi siswi itu. Lalu melangkah pesat mendekatinya. Tak perlu menunggu lama, siswinya pun bangkit jua. Dua-tiga menit sudah di depan, siswi itu tak jua berani menggoreskan angka-angka atau mencoba menghentak-hentakkan tangan di muka sebaris soal itu. Turunlah keringat dingin dari jidat siswi itu ke pipi, bahkan ke dagu. Gugur pula keberaniannya. Maka ia berdiri lagi dengan sebelah kaki.

Bu Tika hanya geleng-geleng kepala. Apa muridnya tak belajar di rumah. Dua-tiga buah soal selalu ia persembahkan sebagai pekerjaan rumah. Atau ayah-ibu mereka tak peduli. Bisa jadi mereka sendiri mengabaikan kewajibannya, apalagi saat ujian akhir akan ada bocoran kunci jawaban. Heran, negeri ini, pikir Bu Tika.

Niscaya sampai sepuluhan muridnya yang disuruh ke depan tak bisa menjawab. Padahal soalnya hanya sebatas pemfaktoran biasa. Lagi pula sudah dijelaskan berkali-kali. Kecuali saat Fatema yang maju ke depan lalu menjawabnya dengan lincah. Wah, kamu memang hebat Fatema, sanjung kawan-kawannya. Sementara Bu Tika mengangguk-angguk bangga. Ada satu yang manjur, tutur Bu Tika.

Seminggu jelang ujian akhir nasional, seolah terpental ke tanah jantung Bu Tika saat membaca pesan pendek yang masuk ke hapenya. “Masih mau hidup? Kami tidak mau dengar lagi pengaduan anak kami tentang kekerasan yang kamu lakukan saat mengajar.” Berdebar-debar hati Bu Tika. Seketika ia terduduk lemas siang itu di teras rumah. Desah napasnya masih sengal-sengal, lelah setelah mengajar setengah hari penuh.

Malamnya, saat sedang nonton televesi sebentar barengan suaminya, hati Bu Tika kembali ditusuk dengan kata-kata tersusun rapi tapi berfilosofi buruk. “Besok, hari terakhirmu. Jangan lupa salat tahajud ampun dosa malam ini.” Bu Tika hanya bisa mendekap suaminya. Rencana, suaminya melapor polisi, tapi Bu Tika tidak ingin diperbesarkan masalah kecil. Sedetil apa pun ia paham; kian tinggi pohon menjulang, kian kencang angin bertiup. Dan cukup sudah ia mengatakan pada suaminya: berbuat baik itu memang banyak cobaan.

Keesokannya, Bu Tika mengajar seperti biasa, meminta siswanya ke depan untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Kemudian menghukumnya berdiri sebelah kaki jika tak bisa dijawab. Pendiriannya tetap: ini bukan jaman manja. Dia pun tak melaporkan pada sesiapa kalau ia mendapat teror, kecuali pada suaminya.

Baru dua jam usai pulang mengajar tiga hari berikutnya, Bu Tika kembali menerima pesan ancaman dengan nomor berbeda dari kemarin. “Kalau masih ingin hidup, berikan kunci jawaban buat murid-muridmu lusa.” Haha, biasa, kata Bu Tika. Ia sudah terbiasa menerima sms ancaman dalam kurun itu. Tak ada lagi rasa kalut di benaknya. Tetap: ini bukan jaman manja.

Maka Bu Tika masih menerapkan pakem mengajar dan mendidiknya seperti semula: ini bukan jaman manja. Sampai ujian akhir dilaksanakan, bahkan mungkin sampai tahun depan. Dan pada hari pengumuman, murid-muridnya tak berani melihat hasil nilai matematika. Bu Tika sendiri seperti tak berani keluar rumah hari itu, entah malu entah terharu, juga takut entah. “Kalaulah anakku tak lulus besok, itu gara-gara kamu. Maka siap-siaplah.” Berbilang jumlah sms bernada serupa ia terima pada malam hari pengumuman.

Sehari kemudian tersiar berita, di surat kabar juga ada, bahwa di sekolah menengah tempat Bu Tika mengajar hanya seorang yang lulus mata pelajaran matematika, yakni Fatema. Lainnya, nihil. Tapi selain pelajaran matematika, semua siswa lulus, kecuali Fatema. Karena sehari sebelum ujian akhir dilangsungkan, Bu Tika bersama kepala sekolah dan staf pengajar lainnya mengadakan rapat rahasia. Bu Tika kalah sama mereka: kepala sekolah dan staf pengajar lainnya. Mereka berkeras akan memberi kunci jawaban untuk pelajaran selain matematika. Bu Tika pun mengalah. Ah, berarti usahaku hanya sampai hari ini saja, batin Bu Tika saat itu. Maka, matematika tanpa diberikan kunci jawaban, lainnya silakan. Dengan demikian, dari ratusan yang mengikuti ujian, hanya Fatema yang mencoba jujur dan patuh pada Bu Tika.

Usai pengumuman, kepala sekolah dan staf pengajar lainnya marah, meski di belakang Bu Tika. Pasalnya, delapan puluh persen tidak lulus, berbanding terbalik dengan target kepala sekolah.

Dan kemarin, Bu Tika didatangi orang-orang, sepertinya wali murid. Tak sedikit dari mereka melempar rumah Bu Tika, di mana saat itu suaminya sedang dinas ke luar daerah. Bu Tika pasrah, hanya bisa meringkuk di kamarnya. Ia terisak meronta-ronta seorang diri, antara hidup dan mati. Jikalaulah mati, sudah saatnya mungkin. Tapi siang kemarin, orang-orang itu tak sampai masuk ke kamarnya. Hanya saja, rumah sewaannya yang terletak di ujung suatu kampung di pinggiran kota Banda Aceh rusak parah.

Tak betah dengan kondisi demikian, Bu Tika mengemaskan pakaian dalam koper. Dan pagi tadi juga ia meninggalkan rumahnya tanpa memberitahukan sesiapa. Sepertinya, hanya Fatema yang tahu sebab ia tinggal sekampung dengan Bu Tika.

***

Fatema masih terduduk di bibir dermaga pelabuhan. Perlahan-lahan kapal Pulo Rondo yang ditumpangi perempuan paruh baya itu menghilang dari pandangan Fatema. Siswi yang amat mencintai Bu Tika itu tak peduli pada angin pagi bertiup kencang. Tadi seorang diri ia pergi ke pelabuhan dengan membawa motor ayahnya yang kebetulan lagi sarapan. Harapannya: bisa melihat dan memeluk Bu Tika yang terakhir kali. Kini matanya menatap lagi ke sejauh matanya memandang. Hanya pulau Sabang yang kelihatan samar di matanya. Angin kian garang bertiup.

“Bhum!”

Kerikil-kerikil kecil berjatuhan ke air hijau yang terombang-ambing. Debu-debu lantai dermaga pelabuhan beterbangan. Cipratan air membekas di bibir dermaga. Sekilas saja tangan perempuan putik itu terlihat mengacung. Gelembung-gelembung bak air mendidih masih bersisa. Beberapa lelaki tanggung berlari ke arah air yang berkecipak itu. Tolong, teriak Fatema.[]

 

Penulis; mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry dan anggota FLP Aceh

 

 

Kunci Jawaban

OLEH

Makmur Dimila

 

Fatema berlari ke tepi pelabuhan Ulee Lheu. Perempuan putik itu hendak mengejar seorang perempuan paruh baya yang sedang menaiki tangga dan masuk ke tubuh Pulo Rondo, feri yang akan membawakan penumpang ke Sabang. Jangkar kuku tunggal feri bergerak masuk ke dalam; memisah antara kapal dengan dermaga pelabuhan. Nian lambat, Fatema hanya bisa menatap kuyu tubuh ramping Pulo Rondo yang berlari menyibak riak. Fatema berteriak, menyebut-nyebut nama perempuan paruh baya yang di dalam kapal cepat itu. Lalu Fatema terduduk di bibir dermaga pelabuhan.

***

Perempuan paruh baya berseragam abu-abu memasuki ruangan. Tangan kanannya menghimpitkan map ke dada. Tangan kirinya berayun-ayun ringan seirama dengan seretan kakinya menyapu debu ruangan berlantai semen. Dua puluh pasang mata menatap perempuan paruh baya itu.

“Alah, malas aku kalau Bu Tika yang masuk.” Sengau terdengar suara parau dari yang duduk di pojok.

Perempuan paruh baya itu duduk dengan tangan bersidekap di atas meja bertaplak karton biru dilapisi plastik bening: hasil kreatifitas pelajar katanya. Bu Tika, begitu perempuan paruh baya itu acap disapa. Bu Tika memberi salam memecahkan ketegangan di pagi hendak merambat siang. Bayang-bayang jenuh sepertinya kembali hadir hari ini.

Seperti biasa, usai menerangkan teori segala teori matematika, Bu Tika menyuruh siswanya satu-satu ke depan guna menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Pemanasan jelang ujian nasional, kata Bu Tika. Mana ada, Bu Tika itu tak tahu harus mengajarkan apa lagi buat kami, kata sebagian siswanya. Eh, kalian, Bu Tika mau membantu kita supaya lulus semua nantinya, dukung Fatema.

Maka segenap siswa menyembunyikan muka ke laci meja saat mata elang Bu Tika menyorot, siapa yang akan pertama maju.

“Saya, Bu.” Fatema menunjuk loteng yang bolong-bolong, seakan telunjuknya terbang ke awan.

“Jangan kamu selalu. Yang lain siapa berani?” Sahut Bu Tika.

Tak ada satupun yang berani mengacungkan tangan selain Fatema. Maka Bu Tika melangkah ke bangku segala bangku. Ia mengelilingi mereka. Lalu menunjuk seorang siswa untuk maju menyelesaikan soal di papan tulis. Alis tipisnya naik saat siswa itu tak mau bergerak. Tak segan-segan perempuan paruh baya itu menggertak. Tidak lupa pula ia menjewer kuping siswanya yang tak mau maju setelah disuruh beberapa kali.

Usai dipaksa-paksa, baru seorang di antara mereka—selain Fatema—bangkit. Sedikit takut siswa itu berjalan gontai. Rinai-rinai kekhawatiran akan dijitak jika tak bisa menjawab sepertinya melekat dalam pikiran siswa itu. Ah, tujuh menit sudah di depan, remaja ingusan itu belum bisa menyelesaikan soal-soal pemfaktoran yang diberikan Bu Tika. Waktunya sudah habis, kata Bu Tika. Saatnya menyuruh siswa lain, sementara yang tak bisa itu berdiri dengan sebelah kaki di depan.

Alasan Bu Tika mengeksekusi begitu, biar mereka tidak manja dengan bantuan jawaban dari guru mereka di pagi buta sebelum detik-detik ujian akhir dilangsungkan. Pengalaman uan sebelumnya, siswa yang bodoh selama belajar malah lulus, sedang yang aktif dan pintar saat belajar tidak lulus. Bu Tika kecewa. Maka mulai tahun ajaran ini ia membuat kebijakan baru: tak ada istilah manja. Ini bukan jaman manja, katanya.

Bahkan suatu pagi saat dipercayakan untuk memberi pidato pada upacara bendera, Bu Tika mencamkan di hadapan semua peserta dan para staf pengajar juga termasuk kepala sekolah: ini bukan jaman manja, kepala sekolah beserta jajarannya jangan memberikan kunci jawaban saat ujian akhir nasional nanti. Camkan ini. Peserta terhenyak mendengarnya. Apalagi kepala sekolah; ia meninggalkan upacara segera, menuju ruangan kepala sekolah.

Bukan pada kesempatan itu saja. Saat diundang dinas pendidikan untuk membahas ujian akhir nasional beberapa hari sebelumnya, Bu Tika juga melemparkan pernyataan serupa ke muka-muka peserta rapat. “Ini bukan jaman manja. Pengajar jangan memberikan kunci jawaban saat ujian akhir nasional kepada siswa.” Peserta tersentak mendengarnya. Siapa berani membantah? Sergah Bu Tika sebelum coba disanggah. Gagah? Entah.

Perempuan yang mengenakan kacamata dan berkulit hitam manis itu kini melirik ke pojok kanan. Telunjuk kanan mendarat ke wajah siswi yang rautnya sedikit kalem. Bak ada lem di bangku, siswi itu tak mau maju. Jika pun mau, hatinya mengatakan jangan. Maju atau tidak, tetap tak ada bocoran jawaban saat ujian akhir, pikirnya. Kalau sudah berperangai demikian, maka Bu Tika tak segan-segan menyeretnya–setengah memaksa–ke depan.

Bu Tika melototi siswi itu. Lalu melangkah pesat mendekatinya. Tak perlu menunggu lama, siswinya pun bangkit jua. Dua-tiga menit sudah di depan, siswi itu tak jua berani menggoreskan angka-angka atau mencoba menghentak-hentakkan tangan di muka sebaris soal itu. Turunlah keringat dingin dari jidat siswi itu ke pipi, bahkan ke dagu. Gugur pula keberaniannya. Maka ia berdiri lagi dengan sebelah kaki.

Bu Tika hanya geleng-geleng kepala. Apa muridnya tak belajar di rumah. Dua-tiga buah soal selalu ia persembahkan sebagai pekerjaan rumah. Atau ayah-ibu mereka tak peduli. Bisa jadi mereka sendiri mengabaikan kewajibannya, apalagi saat ujian akhir akan ada bocoran kunci jawaban. Heran, negeri ini, pikir Bu Tika.

Niscaya sampai sepuluhan muridnya yang disuruh ke depan tak bisa menjawab. Padahal soalnya hanya sebatas pemfaktoran biasa. Lagi pula sudah dijelaskan berkali-kali. Kecuali saat Fatema yang maju ke depan lalu menjawabnya dengan lincah. Wah, kamu memang hebat Fatema, sanjung kawan-kawannya. Sementara Bu Tika mengangguk-angguk bangga. Ada satu yang manjur, tutur Bu Tika.

Seminggu jelang ujian akhir nasional, seolah terpental ke tanah jantung Bu Tika saat membaca pesan pendek yang masuk ke hapenya. “Masih mau hidup? Kami tidak mau dengar lagi pengaduan anak kami tentang kekerasan yang kamu lakukan saat mengajar.” Berdebar-debar hati Bu Tika. Seketika ia terduduk lemas siang itu di teras rumah. Desah napasnya masih sengal-sengal, lelah setelah mengajar setengah hari penuh.

Malamnya, saat sedang nonton televesi sebentar barengan suaminya, hati Bu Tika kembali ditusuk dengan kata-kata tersusun rapi tapi berfilosofi buruk. “Besok, hari terakhirmu. Jangan lupa salat tahajud ampun dosa malam ini.” Bu Tika hanya bisa mendekap suaminya. Rencana, suaminya melapor polisi, tapi Bu Tika tidak ingin diperbesarkan masalah kecil. Sedetil apa pun ia paham; kian tinggi pohon menjulang, kian kencang angin bertiup. Dan cukup sudah ia mengatakan pada suaminya: berbuat baik itu memang banyak cobaan.

Keesokannya, Bu Tika mengajar seperti biasa, meminta siswanya ke depan untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Kemudian menghukumnya berdiri sebelah kaki jika tak bisa dijawab. Pendiriannya tetap: ini bukan jaman manja. Dia pun tak melaporkan pada sesiapa kalau ia mendapat teror, kecuali pada suaminya.

Baru dua jam usai pulang mengajar tiga hari berikutnya, Bu Tika kembali menerima pesan ancaman dengan nomor berbeda dari kemarin. “Kalau masih ingin hidup, berikan kunci jawaban buat murid-muridmu lusa.” Haha, biasa, kata Bu Tika. Ia sudah terbiasa menerima sms ancaman dalam kurun itu. Tak ada lagi rasa kalut di benaknya. Tetap: ini bukan jaman manja.

Maka Bu Tika masih menerapkan pakem mengajar dan mendidiknya seperti semula: ini bukan jaman manja. Sampai ujian akhir dilaksanakan, bahkan mungkin sampai tahun depan. Dan pada hari pengumuman, murid-muridnya tak berani melihat hasil nilai matematika. Bu Tika sendiri seperti tak berani keluar rumah hari itu, entah malu entah terharu, juga takut entah. “Kalaulah anakku tak lulus besok, itu gara-gara kamu. Maka siap-siaplah.” Berbilang jumlah sms bernada serupa ia terima pada malam hari pengumuman.

Sehari kemudian tersiar berita, di surat kabar juga ada, bahwa di sekolah menengah tempat Bu Tika mengajar hanya seorang yang lulus mata pelajaran matematika, yakni Fatema. Lainnya, nihil. Tapi selain pelajaran matematika, semua siswa lulus, kecuali Fatema. Karena sehari sebelum ujian akhir dilangsungkan, Bu Tika bersama kepala sekolah dan staf pengajar lainnya mengadakan rapat rahasia. Bu Tika kalah sama mereka: kepala sekolah dan staf pengajar lainnya. Mereka berkeras akan memberi kunci jawaban untuk pelajaran selain matematika. Bu Tika pun mengalah. Ah, berarti usahaku hanya sampai hari ini saja, batin Bu Tika saat itu. Maka, matematika tanpa diberikan kunci jawaban, lainnya silakan. Dengan demikian, dari ratusan yang mengikuti ujian, hanya Fatema yang mencoba jujur dan patuh pada Bu Tika.

Usai pengumuman, kepala sekolah dan staf pengajar lainnya marah, meski di belakang Bu Tika. Pasalnya, delapan puluh persen tidak lulus, berbanding terbalik dengan target kepala sekolah.

Dan kemarin, Bu Tika didatangi orang-orang, sepertinya wali murid. Tak sedikit dari mereka melempar rumah Bu Tika, di mana saat itu suaminya sedang dinas ke luar daerah. Bu Tika pasrah, hanya bisa meringkuk di kamarnya. Ia terisak meronta-ronta seorang diri, antara hidup dan mati. Jikalaulah mati, sudah saatnya mungkin. Tapi siang kemarin, orang-orang itu tak sampai masuk ke kamarnya. Hanya saja, rumah sewaannya yang terletak di ujung suatu kampung di pinggiran kota Banda Aceh rusak parah.

Tak betah dengan kondisi demikian, Bu Tika mengemaskan pakaian dalam koper. Dan pagi tadi juga ia meninggalkan rumahnya tanpa memberitahukan sesiapa. Sepertinya, hanya Fatema yang tahu sebab ia tinggal sekampung dengan Bu Tika.

***

Fatema masih terduduk di bibir dermaga pelabuhan. Perlahan-lahan kapal Pulo Rondo yang ditumpangi perempuan paruh baya itu menghilang dari pandangan Fatema. Siswi yang amat mencintai Bu Tika itu tak peduli pada angin pagi bertiup kencang. Tadi seorang diri ia pergi ke pelabuhan dengan membawa motor ayahnya yang kebetulan lagi sarapan. Harapannya: bisa melihat dan memeluk Bu Tika yang terakhir kali. Kini matanya menatap lagi ke sejauh matanya memandang. Hanya pulau Sabang yang kelihatan samar di matanya. Angin kian garang bertiup.

“Bhum!”

Kerikil-kerikil kecil berjatuhan ke air hijau yang terombang-ambing. Debu-debu lantai dermaga pelabuhan beterbangan. Cipratan air membekas di bibir dermaga. Sekilas saja tangan perempuan putik itu terlihat mengacung. Gelembung-gelembung bak air mendidih masih bersisa. Beberapa lelaki tanggung berlari ke arah air yang berkecipak itu. Tolong, teriak Fatema.[]

Penulis; mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry dan anggota FLP Aceh

(Cerpen HA 060311)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s