Ala Pran

Mahasiswa yang merupakan pendatang ke tempat ia kuliah, sering tak makan siang. Pula begitu dengan Jailani dan kawannya. Siang ini Jailani lapar sekali. Semalam dan tadi pagi tak makan.

Kini Jailani, Ari, Isan, dan Brahim sedang merawun sepanjang jalan ibukota. Tiba-tiba mereka berhenti di depan rumah. Sepanjang jalan depan rumah itu berjejer papan bunga ucapan selamat menempuh hidup baru. Ada ucapan Selamat Datang dan Terima Kasih dimana susunan hurufnya ditempel di bulatan-bulatan karton berlapiskan kertas putih. Ucapan itu senantiasa berputar-putar dihembus angin, sehingga tak jarang susunan kalimat itu terbalik. Sedikit ke dalam, ada musik yang berdentum keras.

Setelah mufakat sejenak, mereka membeli empat amplop di kios terdekat. Lalu masing-masingnya diisi seribu rupiah. Sudah itu mereka masuk. Usai menyalami penerima tamu, segera mereka menuju ke hidangan dengan tanpa mempedulikan beberapa perempuan yang duduk di pos penerimaan kado.

Nah, “Nyoe yang  lon paleng beu-e (Ini yang aku paling malas),” ujar Jailani pada kawannya. “Alah, kaboh laju. Bek le that haba. (Taruh saja. Jangan banyak ngomong),” timpal Brahim, diiyakan Isan dan Ari. Mereka tengah menghadapi hidangan khanduri (kenduri) Ala Pran.

Jailani bingung mau atau mulai mengambil yang mana. Ada banyak ragam masakan tergeletak dalam piring-piring berkilauan yang mungkin piring itu tak pernah dipakai jika tak ada khanduri. Ada daging masak rendang. Semur. Telur dan ikan sambal lado. Emping melinjo. Perkedel. Mihun goreng. Gado-gado. Kuah kari kambing dan kari lembu. Kuah sop. Ayam khalasan. Kerupuk udang. Tersaji pula pencuci mulut seperti agar-agar dua warna, rujak, pisang ayam, es buah, dan semangka, tentunya selain air mineral gelas.

Jailani hanya memilih telur dan perkedel saja. Selalu begitu ketika ia pergi ke khanduri. Tujuannya hanyalah biar mudah dalam memotong pauk itu. Karena kalau daging, sering sekali sendoknya berdenting dengan perut piring ketika memotong daging, sehingga berbunyi “ting, ting.” Jailani pernah mengalaminya. Dan tamu lain akan tersenyum ketika ada orang makan yang piringnya berdenting. Sudah pasti malu. Apalagi nasi yang dituangnya sampai bertumpuk seperti puncak gunung atau seperti onggokan taik sapi basah yang jatuh di jalan. Jailani pun tak tahu harus menciduk dari mana dulu ketika hendak mencicipinya.

Berbeda dengan Brahim, Isan, dan Ari. Sekarang mereka menaruh nasi bagai puncak gunung.. Hampir semua sajian ditampung dalam piring duralex yang berwarna coklat kekuningan itu. Lebih tepat, jumlah nasinya lebay. Hingga tamu lain terpana melihat isi piring mereka. “Pajan chit lom meunyo kon jinoe (Kapan lagi kalau bukan sekarang). Sekalian jamak untuk nanti malam,” ujar Isan. Akibatnya, mereka makan begitu riuh. Ting sana, ting sini. Sering sekali sendok berdenting.

Selesai makan. Mereka melirik ke setandan pisang ayam yang digantung di tiang tenda biru. Sambil curi-curi pandang, mereka memetik pisang itu, masing-masing tiga. Satu dimakan, dua lagi disimpan dalam tas. “Untuk snack malam,” celutuk Ari. Lalu mereka beranjak dari kursi. O o, hampir saja mereka lupa kasih amplop. Celingak-celinguk ke kiri-kanan, tak ada kotak amplop. Mereka tak tahu harus kasih pada siapa, ya.. seorang pun tak mereka kenal. “Alah, tapuwoe deh.. Ureueng kaya pih, kepeue peng. (Ah, bawa pulang aja.. Orang kaya pun, buat apa duit),” usul Jailani. Seiya sekata, mereka pun mengantongi kembali amplop dan pulang bak pahlawan telah menang perang. Makan gratis.

Tiba di kos, mereka berdiskusi tentang Ala Pran. Menurut Isan, Ala Pran adalah satu jenis hidangan yang sering diterapkan orang Aceh ketika ada pesta perkawinan atau khanduri lainnya. Tujuannya, kata Ari, supaya tuan rumah tak capek-capek mengangka-angkat hidangan dan lebih cepat prosesnya. Ala Pran, kata Jailani, berasal dari kata Ala Prancis, yang arti mudahnya adalah ‘seperti orang Prancis lakukan’. Namun karena orang Aceh suka menyingkat, jadilah populer dengan sebutan “Ala Pran”. Bentuk hidangan ini, kata Brahim, mulai diterapkan dan bahkan bisa dibilang orang Aceh yang mempopulerkannya sejak 1998. Masa itu sedang digelar turnamen sepak bola internasional lima tahunan bertajuk Piala Dunia. Pada 1998 kebetulan diadakan di Prancis dan juaranya pun Prancis. Haa, kata dia, ya gara-gara kecapaian akibat begadang nonton bola semalaman, para lelaki jadi mudah lelah ketika ada pesta di paginya. Sehingga dibentuklah hidangan cepat saji yang dulunya hanya dengan menghidangkan dengan tapsi (talam). Kemudian Ala Pran terkenal sampai hari ini.

(CP HA 30/03/11)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Ala Pran”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s