Jangan-jangan

Gampong Buhak adalah sentral perekonomian warga se-kecamatan Beutoi. Juga pusat perdagangan. Pusat transportasi. Dan ‘ibukota’nya kecamatan Beutoi adalah Gampong Buhak. Di ujung kampung itu, ada satu jembatan gantung yang terhubung ke kampung seberang: Gampong Haihai. Jembatan itu multifungsi: tempat anak-anak sekolah melintas tiap hari, media melintas orang-orang dinas, kalau sore jadi tempat pacaran remaja-remaja kampung, tempat memancing, dan ada satu pos di bibir jembatan, dimana pos itu merupakan pusat informasi warga tentang apa yang sudah, sedang, akan terjadi di sekecamatan Beutoi, serta ada kios di satu batas lagi.

Jembatan itu sangat penting. Mereka menamainya Titi OBH. “Tentu bukan salah satu merek obat batuk,” jelas Je. Tapi, “singkatan dari Titi Orang (gampong) Buhak dan Haihai,” sambung Iis Aiyubi. Itu mereka jelaskan kepada wartawan kemarin di Banda Aceh saat ditemui di kos mereka, yang menanyakan seberapa pentingnya Titi OBH bagi warga di dua kampung itu. Pertanyaan itu muncul karena beberapa hari yang lalu jembatan itu putus. Sekitar setahun sebelum putus, jembatan itu sempat miring karena salah satu kabel penghubung lepas, dan, para siswa terpaksa melintasi Titi OBH yang sedang ‘batuk’ itu selama beberapa hari, sebelum diperbaiki sama-sama: oleh warga sekecamatan. Dan penyebab putus episode kali ini, “entah karena disengaja entah diterjang gelombang sungai Krueng Baro yang mengalir di bawahnya,” duga Ari. Esoknya mereka pulang kampung untuk survey barang satu atau dua hari. Lalu laporkan pada bupati.

Sebulan kemudian, jembatan baru dibangun. Lebih bagus malah. Dulu lebarnya semeter, kini jadi tiga meter. Dulu dengan papan seadanya, kini papan paling berkualitas punya. Dulu tanpa cat, kini sudah berwarna. “Jangan-jangan kampanye Pak Bupati. Apalagi ini mau Pemilukada,” duga Bram. Masyarakat sekitar Titi OBH pun senang bukan main. Saking bahagianya, mereka beri nama baru, jadi Titi OBH Plus. “Ya, karena plus (ditambah) bantuan bupati. Tidak seperti dahulu yang meuripee (patungan). Bangun sama-sama. Sehingga dulu nikmatnya terasa,” jelas Abu Toy Sijoy, saat diminta keterangan oleh wartawan daerah.

Geleng-geleng kepala ‘Geng AJAIB’ itu tak berhenti di situ. (Sebulan lalu mereka bentuk sebuah perkumpulan semi resmi biar lebih kompak. Namanya Geng AJAIB, kependekan dari Ari, Jailani, Iis, dan Bram. Mereka seperti lupa daratan kalau sebelumnya bisa dibilang tak ada ‘geng’ di Aceh, sehingga mereka pun terkesan lebay). Hari ini, mereka kasihan pada kecelakaan yang sering terjadi di kawasan Seunapet, Leumbah Seulawah, Aceh Besar. Sangat sering kendaraan, baik roda dua, tiga, maupun empat, yang terjungkal ke jurang yang dalam di sisi tikungan tajam dan tanjakan maut itu. Sering korban jiwa melayang, seperti yang terjadi beberapa hai lalu. Bagaimana komentar pemerintah menyikapi Seunapet yang suka telan korban? “…Masalah ini harus menjadi pemikiran serius untuk dicari solusinya.”

Geng AJAIB tak habis pikir. Masalah kecil itu cari solusinya minta ampun lamanya. “Peue trep that bak seumike. Bangun aja jembatan lurus. Mulai dari pangkal tikungan, dari arah Silgi itu, lurus agak menurun, hingga menyentuh badan jalan lewat jembatan di bawah itu. Memang akan dibutuhkan dana yang besar,” saran Ari. Tapi mengingat banyak orang (luar) Aceh yang tutup usia di Seunapet, “ikhlaskan saja. Jangan bermimpi bangun jalan tol di jalur Timur Aceh yang sampai kini tak jelas rencananya, ini dulu yang lebih penting. Tentu dana lebih kecil dan lebih mudah,” ujar Isan. “Kami tahu, kalau pemimpin itu banyak yang harus dipikirkan sampai-sampai mengurangi jatah tidurnya demi kesejahteraan rakyat. Nah, karena itulah, jangan pikirkan Seunapet ini, nantinya tambah beban pikiran. Jadi langsung saja bangun jembatan beton. Atau jembatan semi layang boleh juga. Apalah namanya. Yang penting jangan ada lagi korban selanjutnya,” terang Jailani. “Setuju, Je. Hmm.. tapi jangan-jangan mereka (pemerintah) bukan memikirkan apa yang harus segera dilakukan, tapi mereka memikirkan bagaimana caranya agar dapat sedikit masukan dari proyek, katakanlah proyek pembangunan jembatan itu misalnya. Peng seumike,” duga Bram. Mereka pada tahe. Terperangah. “Mungkin saja.”

(CP HA 26/03/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s