Pak, Kita Cerai!

Hasballah hidup di mukim Sangalama. Rumahnya tegak di belakang rumah seorang anggota dewan. Anggota dewan terhormat  itu sangat terkenal di negerinya. Dia cerdas. Ditambah dukungan mereka padanya, dia pun dapat kursi di pusat. Penduduk Sangalama mengira kampung mereka akan maju setelah memilih sang dewan. Tapi lihatlah, rumah-rumah yang tumbuh di Sangalama masih seperti sebelum mereka memilihnya. Masih keriput, seperti tanaman kurang dipupuk, merana.

Sangalama tercatat dalam sejarah negeri sebagai tempat lahirnya orang-orang cerdas. Seperti sang dewan salah satunya. “Namun kalau kamu lihat sekarang, jalan mukim kami yang merupakan jembatan perekonomian warga; mandi debu kala kemarau, dan mandi lumpur kala hujan. Kami rasa soal jalan adalah keluhan usang dan konyol di mata orang. Tapi tanpa jalan anggota dewan tak bisa pulang ke rumah andai nanti berniat melayat orangtuanya. Tanpa jalan tak bisa mereka dapatkan suara rakyat. Dan banyak dampak lainnya,” cerita Hasballah pada kawannya setiap kali ia keluar daerah.

Kini  di bawah terik, sebagian penduduk Sangalama sedang menjumpai bupati kabupaten seberang. Hasballah memimpin rombongan. Mereka menyemut di halaman gedung putih. Sebagian mengacungkan spanduk dan sobekan kardus bertuliskan permohonan. “Pak, izinkan kami jadi bagian dari wilayah Bapak,” harap Hasballah pada lelaki yang berdiri di muka gedung. Lelaki itu menyilangkan lengan ke belakang. Dia dikawal beberapa ajudannya. “Ehm,” ia mendehem. “Begini saudara kami. Kalau memang tekad sudah bulat, kami terima. Tapi apakah sudah direstui pemimpin kalian?” Sambil meninju langit, “sudahhhh!” pekik mereka, menggema. “Baiklah kalau begitu. Mulai nanti malam saudara-saudara berkemah dulu di lapangan bola.”

Padahal belum ada restu dari bupati mereka. Tapi mereka tetap bersujud syukur. Menadah tangan berlinang air mata. Dan menang. Euforianya melebihi pasukan marinir yang berhasil merebut pantai. Diucapnya selamat berpisah kepada bupati lama ke sorotan kamera wartawan. “Pak, kita cerai! Kami telah meminang bupati baru, kawan baru, wilayah baru, ladang baru, dan nuansa baru. Kami pun siap mendukungnya jadi gubernur di Pilkada nanti.” Lega. Hore! “Tapi, mungkinkah bupati baru akan menyejahterakan kita? Saya khawatir kita bagai anak tiri kelak,” desis Hasballah di sela-sela hiruk-pikuk penduduk Sangalama menyambut  kemenangan. “Kita akan sejahtera, Lah. Bukankah kabupaten ini maju setelah beliau jadi bupati?” Hasbi meyakini Hasballah. Baik.

Seketika orang-orang besar di kabupaten mereka malu dan marah. Malu sang dewan paling membuncah. Sedang Hasballah dan segenap penduduk Sangalama akan menyongsong hidup baru.

Seminggu berada di kabupaten baru mereka sudah menempati gubuk-gubuk kecil. Disesuaikan dengan anggota keluarga mereka. Tak ada protes. Yang penting cerai dari wilayah lama dan jalan-jalan dengan lubang menganga. Mereka ditempati di lahan baru, diberi nama “Mukim Jamee.” Wah, mereka bangga sekali. Sementara teman lama mereka-penduduk selain mukim Sangalama-menjadi iri.

***

“Pak, kita cerai! Kami mohon pisah dari wilayah ini. Kami tak mau lagi tinggal di Jamee. Kami kira akan bahagia. Nyatanya lebih menderita dari tempat kami dulu. Rupanya, di mana-mana otak pemimpin sama saja,” pekik Hasballah. “Dasar pejabat jahat!” Sempat dilihatnya sang bupati geleng-geleng kepala. Kecewa. “Semoga kalian bahagia di sana,” ujar bupati diiringi senyum simpul.

Setelah setahun di mukim Jamee, mereka kian banyak mengeluh. Kekurangan ladang untuk bertani. Jalan masih melalui rimba. Sekolah masih harus ke mukim tetangga. Tinggal hanya di sebatas gubuk bambu. Seolah dianaktirikan.

Lalu, mereka temui bupati lama esoknya. “Tak ada lagi tempat untuk kalian. Kami bangga dengan keadaan kami. Kami sabar. Kalian bukan orang-orang yang sabar. Tidak kuat hatinya. Jadi. sementara ini kami tak bisa menampung kalian. Maaf.” Hasballah dan orang seperjuangannya terpana. Mengadu pada siapa lagi? Mereka meronta-ronta.

* Penulis anggota FLP Aceh dan alumni MAN 1 Sigli

(Cerpen Serambi Indonesia 03/04/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s