Cita-cita

Sangatlah senang Jailani dan kawan-kawan ketika ditanya guru apa cita-cita mereka. “Saya mau jadi artis, Buk.” Teriak Ari. “Saya mau jadi presiden,” sebut Jailani. “Saya mau jadi dokter,” sebut Siti. “Saya mau jadi tentara, Buk.” Bram juga tak kalah garang. “Cita-cita lon jeuet keu tukang kueh uruek (Cita-cita saya mau jadi penggali kuburan) Buk,” ucap Isan, pelan. Semua siswa kelas 5 SD Modal Gampong terdiam.

“Kenapa Isan cita-citanya berbeda dengan kawan lain?” Tanya Buk Fatimah. Sahut Isan, “karena Buk, artis kana gop (sudah ada orang lain), presiden pih (juga) kana gop, dokter kana gop, teuntra pih kana gop. Tapi meunyoe tukang kueh uruek….” Langsung disambut kawan-kawan Isan, “kana gop chit. Bandum-bandum (semua-semua) kana gop.” Isan terpojok. Buk Fatimah tersenyum. “Tapi, Buk, saya tetap mau jadi tukang kueh uruek. Karna, nyoekeuh yang paleng mulia, tanyoe jeuet sabe ingat mate. (Karena, inilah yang paling mulia, kita jadi selalu ingat mati). Enteuk watee awak kah mate, bah (Nanti waktu kalian meninggal, biar) lon kueh uruek,” ujar Isan bangga, diikuti ekspresi diam kawan-kawannya. Sungguh cita-cita yang mulia, kata Bu Fatimah.

Mengingat masa kecil mereka, Geng AJAIB itu kini tertawa di kos. Terbahak-bahak. “Maunya dulu aku bilang pada Buk Fatimah, bahwa cita-cita saya adalah jadi koruptor, biar cepat kaya.” Jailani bergurau. “Kalau aku maunya, ‘Buk Fatimah, cita-cita saya mau jadi direktur PLN, biar listrik di kampung kita selalu nyala’,” sela Ari. “Ah, kalian. Kalau aku, ‘Buk Fatimah yang manis, cita-cita saya mau jadi gubernur, biar bisa jalan-jalan ke luar negeri’,” bilang Bram. “Kalo aku… Ha, saya mau jadi muazzin setiap ada pemakaman di kampung-kampung.” Isan ingin tetap bercita-cita mulia. “Sok alim. Seumbahyang suboh tinggai sabe. (Salat subuh alpa selalu),” timpal Je. “Daripada kalian, selalu salat lima waktu, tapi tiep supot jak me-me aneuk inong gop (tiap sore bawa-bawa anak gadis orang lain). Tidak lo-gis.” Suasana agak menegang.

“Hai, tenang! Saboh Nek pih meudawa. (Se-nenek pun bertengkar),” ujar Ari. “Andai ditanya lagi apa cita-citaku, ‘mau jadi pembunuh orang-orang yang suka bertengkar’, sahutku,” ujar Bram. Je dan Isan pun berdamai. Saling senyum. Lalu mereka membaca kisah sukses Sebastian Vettel, pembalap F1 termuda dalam sejarah, yang berawal dari cita-cita masa kecilnya. Mereka menonton melalui laptop dengan bantuan proyektor (infokus) yang ditembak pada dinding kos. Action!

Vettel, sewaktu kecil mengidolakan “Trio Michael”, yaitu Michael Jordan (pebasket), Michael Jackson (penyanyi), dan Michael Schumacher (pembalap). Vettel ingin menjadi ketiganya; pebasket dunia, penyanyi legendaris, dan pembalap hebat. Ayah Vettel, Norbert, dan ibunya, Heike, tidak ingin membunuh mimpi itu dengan menertawakannya. Mereka memberi ruang agar mimpi Vettel tumbuh dalam jiwanya; menjadi cita-cita, menggerakkan langkah demi langkah untuk mengubahnya menjadi nyata. Meskipun mereka tahu postur Vettel tidak mendukung untuk basket, suaranya juga tidak cukup menjadi modal sebagai penyanyi. Belakangan, Vettel juga menyadarinya. Dari sana impiannya lebih fokus: menjadi pembalap nomor satu! Tak hanya sekadar membiarkan impian anaknya tidak mati, Norbert memupuk impian itu agar tumbuh besar.

Diantara hal yang paling diingat Vettel kelak adalah hadiah gokar Bambini 60 cc yang diterimanya dari sang ayah saat usianya baru tiga tahun. Vettel bukan hanya mendapat ruang. Ia mendapat dukungan. Ia memperoleh motivasi. Keyakinannya menancap kuat. “Aku pasti bisa!” Impian yang diucapkan anak kecil lebih dari dua dasawarsa sebelumnya itu menjadi kenyataan pada 14 November 2010, tepat pada usia 23 tahun 134 hari. Sebastian Vettel menjadi juara dunia F1 termuda sepanjang sejarah setelah memenangi balapan di Abu Dhabi. Kini ia juga dijuluki sebagai “Baby Schumi” atau “Michael Schumacher Baru”.

“Wow!” Mantap. Ujar Je dan kawan-kawan. “Nah, kalian harus tanamkan cita-cita sejak kecil. Tapi cita-citanya jangan terlalu lebay ya…”

(CP HA 10.04.11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s