“Trak Trak Trak”

“Hari ini tak ada latihan tarian,” ujar seorang laki-laki di antara kerumunan mahasiswa di asrama putri IAIN Ar-Raniry.

Namanya Robi Paldhi. Ia mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Postur tubuhnya gempal, kulit cokelat. Orangya manis. Hari itu ia memakai jaket bertopi.

Robi terlihat begitu santai. Padahal jam sudah menunjukkan angka lima, waktu semestinya ia melatih tari.

Robi adalah anggota Sanggar Seni Seulaweut (S3), satu Unit Kegiatan mahasiswa IAIN Ar-raniry. Sanggar seni ini berdiri sejak 1994. Robi bergabung di S3 sejak tahun pertama ia mengecap pendidikan di IAIN Ar-raniry, tahun 2006. Hingga sekarang ia masih tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Tarbiyah.

Ia mengaku bangga menjadi anggota S3, karena dapat meneruskan hegemoni budaya-budaya Aceh terutama dalam bentuk tarian.

“Sungguh sayang bila tarian adat Aceh dipraktikkan orang (daerah luar Aceh),”cetusnya.

Kekhawatiran Robi cukup beralasan. Menurutnya, saat ini ada 68 Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta sudah bisa mempraktikkan Tari Saman, salah satu tarian adat Aceh. Mereka begitu fasih berkomat-kamit dengan bahasa Aceh. Ini diketahuinya ketika grup S3 berkunjung ke Jakarta dalam suatu Festifal Seni beberapa tahun lalu.

“Parahnya, pelatih mereka ada yang dari alumnus S3,” kenangnya.

Robi bungkam sejenak.

“Sayang ya, banyak tarian Aceh memudar. Remaja (Aceh) sekarang tak peduli lagi budaya nenek moyang sendiri,” keluh Robi, mengiba.

Namun, ia tak terlalu memikirkan itu. Dia bersama kawan sanggarnya berusaha mengkaderisasi.

Akhir Februari 2010, Robi bersama rekan sanggarnya, Nurjannah dan Cut Putri Rahmi, sempat mengadakan pelatihan tarian Likok Pulo kepada anak-anak di desa Pucok Krueng, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan, bersamaan dengan berlangsungnya Bakti Sosial (BAKSOS) yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEMA) IAIN Ar-Raniry. Dan pada malam penutupan BAKSOS, penari-penari cilik itu menunjukkan kebolehannya sesuai instruksi mereka.

Seorang dari penari-penari cilik itu masih duduk di kelas enam Sekolah Dasar (SD), seorang pula dari bangku SMA. Selebihnya turun dari bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Malam itu, sekira jam 9, mereka naik panggung di depan masjid Pucok Krueng. Semua penduduk sudah hadir guna menyaksikan lekukan tubuh mereka yang telah dibalut kain beludru berwarna merah, kuning, dan hitam, khas Aceh.

Semilir malam menghembus, tiupan angin mengalir dari kaki bukit. Mereka pun mulai duduk dengan posisi bersimpuh, berbanjar bahu membahu. Sementara Robi, Nurjannah, dan Cut Putri mengambil tempat di sisi kiri bibit-bibit bunga desa itu. Robi sebagai Syeh sekaligus penabuh gendang Rapai (pemusik), sedang Nur dan Cut bertindak sebagai Sahi (asisten syeh). Syeh sebutan untuk komando suatu tarian.

Anak-anak itu mengawalinya dengan gerakan salam anggukan kepala dan tangan yang diselangi gerakan pinggul. Gelombang tarian saling membentang, saling ke kiri dan ke kanan sambil melantunkan syair-syair pujian kepada Sang Khalik. Setiap gerakan itu diiringi dengan musik Rapai dan nyanyian syair Aceh.

“Milen milen laha/

walaha uhella//

Milen milen lahe/

walehe u helle// “ pekik Robi sambil memukul Rapa-i.

Bukon le sayang lon kalon bueh/

kaputeh-puteh lam laot raya//

Bukon le sayang lon kalon wareh/

janggot kaputeh seumbahyang hana//” sambung Jannah dan Cut Putri, diiringi gerakan lincah anak-anak.

Sesekali penonton menyoraki kegiragan, juga saling tepuk tangan.

“Saya bangga bana (sekali) sama kakak-kakak IAIN, mereka membuat kami bisa menari Likok Pulo,” beber Sherly usai tampil, malu-malu. Dia siswi kelas 6 SD setempat. Kulitnya hitam manis. Kain beludru masih membalut tubuhnya.

Walau ada sedikit kesalahan, Robi mengaku bangga kepada anak-anak ini. Mereka tergolong cepat menangkap apa yang diinstruksikannya. Padahal mereka hanya digembleng selama 4 hari saja.

***

Likok Pulo dijelaskan dengan rinci di situs http://www.wahana-budaya-indonesia.com, yang mengutip data mengenai Aceh dari laman http://www.acehpedia.org.

Tarian ini dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar bahu membahu. Seorang pemain utama yang disebut Syeh berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh rapai berada belakang atau sisi kiri/kanan pemain. Sedangkan gerak tari hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badan, tangan dan kepala.

Gerakan tari ini pada prinsipnya ialah gerakan olah tubuh, keterampilan, keseragaman atau keserentakan dengan memfungsikan tangan sama-sama ke depan, kesamping kiri atau kanan, ke atas dan melingkar dari depan ke belakang, dengan tempo mulai lambat hingga cepat.

Sementara menurut pengetahuan Robi Paldhi sendiri, penamaan Likok Pulo ada dua versi. Pertama, kata likok diambil dari kata “lekuk (gelombang)” laut. Dan Pulo, berdasarkan tempat asal tarian ini, Pulo Aceh. Kedua, likok adalah nama jenis buah di Pulo Aceh. Sehingga orang Pulo Aceh ketika memainkan tari Likok Pulo menyelipkan buah likok di jemari tangan kanan dan kiri, sehingga akan terdengar “trak trak trak!” ketika tangan seorang penari bertemu dengan tangan penari lainnya.

Di situs tadi disebutkan, tarian Likok Pulo lahir sekitar tahun 1849. Tarian ini diciptakan seorang ulama tua berasal dari Arab, yang hanyut di laut dan terdampar di Pulo Aceh atau sering juga disebut Pulau (beras), Aceh Besar atau sekitar 30 mil dari kota Banda Aceh. Kemudian dia menetap di sana, tepatnya di desa Ulee Paya.

Lalu tarian itu ditampilkan pertama kali olehnya bersama 12 penari pria asal Pulo Aceh, di tepi pantai atas pasir sebagai pentasnya dan hanya digelari sehelai tikar daun lontar atau pandan. Ini dibawakan pada malam hari sebagai hiburan rakyat sambil berdakwah. Biasanya tarian ini mulai dipertunjukkannya pukul 21.00 wib sampai menjelang subuh. Sering juga diadakan sesudah menanam padi atau sesudah panen.

Jumlah penarinya dalam hitungan ganjil. Minimal 9 orang, hitungan genap bisa juga namun kurang bagus. Bisa juga dibuat tarian secara massal.

Namun pada akhir tahun l980-an nasib tarian ini hampir punah. Syukur-syukur kembali diperkenalkan pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) III tahun l988 hingga sudah berkembang dan populer di kalangan masyarakat.

Kini, sebut situs itu, tarian Likok Pulo sudah menjadi salah satu tari wajib bagi murid sekolah di kota Banda Aceh sebagai mata pelajaran kesenian muatan lokal.[]

(Acehjurnal.com 10/4/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s