Nenek atau Pembantu?

Pada akhirnya anak-anak tidak akan mengingat mainan mahal yang Anda belikan untuk mereka, namun mereka akan mengingat waktu yang Anda habiskan bersama dengan mereka,” kata Kevin Heath, seorang mantan pemain football Australia dan pemerhati anak.

Pesan yang tersirat dalam ungkapan Kevin Heath kiranya harus ditanamkan dalam-dalam oleh para orangtua di Aceh. Boleh jadi dengan mengingat-ngingat kalimat sederhana itu, orangtua akan selalu memberi perhatian lebih pada anak-anaknya. Kebanyakan orangtua di berbagai belahan kampung di Aceh kini, pergi pagi, pulang petang. Dengan senang mereka titip anak pada sang nenek si anak (ibunya ibu si anak), sehingga kesannya: si anak lebih dekat dengan neneknya daripada ibu-bapaknya.

Hampir semua kabupaten di Aceh, anak-anak balita (di bawah lima tahun) lebih banyak menghabiskan masa-masa merindukan belaian ibu kandungnya bersama sang nenek/kakek yang badannya terkadang sudah membungkuk dan berambut uban, sehingga sesekali si anak menunggangi pundak neneknya hingga ibu dari ibu si anak itu merasa encok di pinggang. Sayang kan.. Pula terkesan, sudah menyapih anak kandungnya sedari kecil, kini malah harus menyapih anak-anaknya (cucu) lagi. Dua kali show. Akibatnya, bila sebagian orangtua itu punya cita-cita giat beribadah di masa tua, terpaksa harus menundanya barang beberapa tahun jika memang masih diberikan umur panjang.

Ada beberapa pendapat untuk membuktikan kalau anak-anak Aceh pada umumnya lebih banyak diasuh sang nenek. Siti Zulaikha, mahasiswi asal Aceh Besar, mengatakan (6/4/11) kalau pola asuh anak balita oleh sang nenek sudah menjadi tradisi bagi beberapa orang kampung di sana, terutama di Seulimum. Begitu juga di Aceh Selatan, seperti dikatakan Munawar Hafizi, mahasiswa asal Aceh Selatan. Kata dia (6/4/11), di Aceh Selatan juga sering anak-anak diasuh neneknya dan tergantung profesi orangtua juga.

Di Pidie malah hampir semua anak balita diasuh neneknya, seperti kata Yenizar, mahasiswi asal Pidie (6/4/11). Kata mahasiswi IAIN Ar-Raniry itu, itu terjadi karena di Pidie banyak para istri yang berstatus tenaga pengajar atau pekerja di luar, sehingga mau tak mau, si anak harus dirawat sang nenek, bahkan sampai sore, tidak saat berdinas saja. Kecuali bagi beberapa orang saja yang menitipkan anaknya pada penitipan anak. Bak berniat sepakat, di Aceh Barat punya pendapat nyaris sama. “Pola pengasuhan anak oleh sang nenek di Meulaboh sudah agak berkurang semenjak pascatsunami, karena banyak orang tua-tua meninggal kala itu. Sebelum tsunami, banyak anak diasuh nenek, namun tergantung pada tradisi beberapa kampung juga,” ujar Hidayatullah, mahasiswa asal Aceh Barat (6/4/11).

Di ibukota provinsi, bisa dibilang paling besar persentasenya. Sebagaimana kata Cahya Khalisa, mahasiswi asal Banda Aceh (6/4/11), bahwa di Banda Aceh sangat banyak anak yang diasuh neneknya dibanding ibu kandungnya. Bahkan dari pagi sampai sore. Rohani, warga Nagan Raya asal Gayo Lues, mengatakan kalau di Nagan Raya (13/2/11), pengasuhan anak oleh neneknya tergantung pada profesi orangtua juga. Di sana, tak terlalu banyak, katanya.

Sementara di Bireuen, kata Maria Effi Yana, mahasiswi asal Bireuen, juga lebih banyak anak yang diasuh neneknya. Tapi tergantung keadaan dan profesi orangtua si anak. Pendapat yang agak berbeda dengan Sabang, dimana di sana anak-anak lebih banyak diasuh orangtuanya sendiri. Begitu kata Khalied Yusrizal (6/4/11), mahasiswa asal Sabang.

Terang sudah buktinya kalau anak-anak Aceh lebih banyak menghabiskan masa balitanya dengan sang nenek, meski tak bisa dirincikan kepastian persentasenya, tapi tidaklah mungkin mereka berdusta. Lalu, siapa yang seharusnya pertama sekali mendidik si anak?

Dalam buku “Fiqih Lima Mazhab” karya Muhammad Jawad Mughniyah disebutkan, bahwa persoalan mengasuh anak atau hadhanah tidak ada hubungannya dengan perwalian tehadap anak, baik menyangkut perkawinannya maupun menyangkut hartanya. Hadhanah adalah perkara mengasuh anak, dalam arti mendidik dan menjaganya untuk masa ketika anak-anak itu membutuhkan wanita pengasuh. Dalam hal ini, mereka (Imam lima: Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali, dan Imamiyah) sepakat bahwa itu adalah hak ibu. Namun mereka berbeda pendapat tentang lamanya masa asuhan seorang ibu, siapa yang paling berhak sesudah ibu, syarat-syarat pengasuh, hak-hak atas upah, dan lain-lain.

Karena soal fiqih di Aceh lebih condong pada Imam Syafi’i, maka menurutnya orang-orang yang berhak mengasuh anak, secara berturut-turut adalah, ibu, ibunya ibu dan seterusnya hingga ke atas dengan syarat mereka itu adalah pewaris-pewaris si anak. Sesudah itu adalah ayah, ibunya ayah, ibu dari ibunya ayah, dan seterusnya hingga ke atas, dengan syarat mereka adalah pewaris-pewarisnya pula. Selanjutnya adalah kerabat-kerabat dari pihak ibu, dan disusul kerabat dari ayah.

Adalah soal syarat asuhan, para ulama mazhab sepakat, dalam asuhan seperti itu disyaratkan bahwa orang yang mengasuh berakal sehat, bisa dipercaya, suci diri, bukan pelaku maksiat, bukan penari, dan bukan peminum khamar, serta tidak mengabaikan anak yang diasuhnya. Tujuan dari keharusannya adanya sifat-sifat tersebut adalah untuk memelihara dan menjamin kesehatan anak dan pertumbuhan moralnya. Syarat-syarat ini berlaku pula bagi pengasuh laki-laki.

Akan tetapi ketika menatap Aceh, umumnya anak-anak diasuh oleh ibunya ibu (nenek), sesuai apa yang dibilang Imam Syafi’i. Pasti sang ibu punya alasan kuat meninggalkan kewajibannya pada anak, meski sebentar. Selain karena mengajar, mungkin juga karena sakit, dinas, tugas luar daerah, dan meninggal dunia. Kalau begini alasannya, sah-sah saja si ibu menitipkan anaknya pada ibunya. Meski terkesan sebagai baby sister (pembantu), orangtua si ibu pasti dengan bangga mau menjaga cucunya, apalagi cucu pertama.

Agak mengiris hati tatkala si ibu menyuruh-nyuruh ini-itu pada ibunya secara berlebihan, apalagi jika orangtuanya itu sudah tua dan lemas. Menjaga anak kecil tentu bukan perkara mudah, banyak masalah yang akan dihadapi jika tak hati-hati. Padahal interaksi dari kedua orangtuanya amat dibutuhkan ketika mereka masih balita.

Tapi, bila terlalu lama juga si anak diasuh oleh neneknya (selain ibu kandung si anak), setidaknya akan terjadi gejolak sosial. Hal-hal aneh akan menimpa watak dan kepribadian si anak. Di antaranya, si anak jadi lebih dekat pada pengasuhnya dibanding ibu kandungnya sendiri (apalagi sang ayah yang super sibuk atau banting tulang seharian penuh untuk cari nafkah), si anak tak/kurang dapat bimbingan sosial langsung dari kedua orangtuanya, juga berdampak bagi psikologi sosialnya.

Ini karena peranan keadaan keluarga terhadap perkembangan sosial anak-anak tidak hanya terbatas pada situsi sosial-ekonominya atau pada keutuhan struktur dan interaksinya saja, tapi juga cara-cara dan sikap-sikap dalam pergaulannya memegang peranan yang cukup penting di dalamnya. Hal ini, tulis WA Gerungan dalam bukunya berjudul “Psikologi Sosial”, mudah diterima apabila kita ingat bahwa keluarga itu sudah merupakan sebuah kelompok sosial dengan tujuan, struktur, norma, dinamika kelompok, termasuk cara-cara kepemimpinannya yang sangat mempengaruhi kehidupan individu yang menjadi anggota kelompok tersebut.

Kalau misalnya ada orangtua yang menolak atau tak mengakui anaknya karena beberapa sebab, kata Symonds, itu dapat dengan mudah mengembangkan ciri-ciri agresivitas dan tingkah laku bermusuhan pada anak-anak tersebut. Juga gejala-gejala menyeleweng seperti berdusta dan mencuri dapat berkembang karena sikap penolakan dari orangtuanya. Ini dapat menjadi kendala bagi perkembangan sosial anak-anak. Tentu bila anak itu dirawat neneknya, sang nenek pun turut mengalami kendala dalam pergaulan sosial di masa tuanya, yakni tak sempat lagi bersilaturrahmi atau mendekatkan diri pada Ilahi, hanya gara-gara sibuk mengurus cucu. Salah satu solusinya, pasangan ibu-bapak bisa mencarikan pembantu yang berjiwa sosial tinggi, jika mereka sendiri tak sempat atau memang keenakan anaknya sendiri diasuh orang lain. Ingat, “hadiah dan investasi terbaik yang dapat Anda berikan kepada anak Anda adalah waktu Anda,” kata Kevin Heath.[]

*Penulis adalah mahasiswa IAIN Ar-Raniry dan pegiat studi di Rumoh Aceh Community

(Opini HA 12/4/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s