‘U’

Ini tentang salah satu keunikan bahasa Aceh. “Lihatlah,” seru Jailani. “Satu huruf saja bisa bermakna ganda.” Contohnya aksara “u” bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dapat bermakna “kelapa” dan “ke”.  Atau huruf “a” yang bermakna “kakak”.

Bicara u (kelapa) dalam kehidupan orang Aceh tak habis-habisnya, bahkan bisa berakhir pada pertengkaran. “Ini saya tanya pada kalian, meunyo ta ek u meunasah na payah rah gaki?” Jailani mengetes penguasaan bahasa Aceh pada kawan-kawannya yang sedang golek-golek di kamar.

Ek u pane na payah rah gaki (Panjat kelapa mana ada harus cuci kaki). Bangai kah (Bodoh kamu)!,” sahut Ari. Salah, balas Jailani. “O, payah. Ek u (naik ke) meunasah kon (surau kan) payah rah gaki,” jawab Isan. “Bukan itu maksudku.” Ya sudah lah, “meunoe (begini), pertanyaan itu ada dua makna. Yang phon (pertama), seperti dijawab Ari. Kedua, seperti dijawab Isan. Inilah keunikan bahasa Aceh. Saboh huruf manteng mumang ureueng saboh donya (Satu huruf saja pusing orang sedunia). Ini tak perlu diperdebatkan. Sekarang saya tanyakan, ate tapeh na keu-eueng?” Usai menjelaskan panjang lebar, Brahim balik melontarkan soal.

“Ya, meunyo campli ate tapeh pasti keu-eueng (kalau cabai yang digiling pasti pedas). Tapi meunyo ate tapeh (sabut kelapa) jelas hana (tidak) keu-eueng,” jawab Jailani. Nah, “begitu juga dengan pertanyaanmu Jailani,” balas Brahim.

Lalu Brahim menjelaskan, kalau “u” itu banyak jenisnya dengan menganalogikan pada jenis/watak manusia. Dari segi usia buahnya, ada u riek, u pateuen, u masak, u muda, u groh, dan tentu ada u lupieng. U riek menamsilkan orang tua. U pateuen untuk orang dewasa. U muda ibarat anak muda atau remaja. U groh ibarat anak-anak. Dan u lupieng (lebih populer dengan sebutan ‘boh lupieng’), ini ibarat orang dengan segala usia yang kepalanya tak berisi; otak kosong; atau orang gila.

“Nyan…,” sela Brahim. Dari segi manfaatnya, ada on ‘u, nudang, tukok, bak, bungong, pureh, asoe u, dan juga boh lupieng. “Boh lupieng pane na guna,” sambar Ari. “Dengar dulu kataku.”

On ‘u (daun nyiur) muda yang daunnya hijau pekat; daunnya bisa untuk bahan tikar pandan, dan pureh (lidi) bisa dijadikan lidi penusuk pepesan atau untuk sapu lidi. On ‘u yang masih putih kehijauan bisa untuk pembungkus ketupat. On ‘u kering bisa dijadikan bahan bakar. Dan, on ‘u beserta tulangnya sekaligus bisa dibikin bleuet (anyaman: biasanya berbentuk persegi panjang, semacam tikar)  sebagai temput berteduh. Juga on ‘u bisa jadi bahan pokok pembuatan tikar. Pula on ‘u bisa dijadikan terompet yang membentuk seperti tanduk kerbau dan mainan anak-anak lainnya.

Lheueh nyan (sudah itu)..”, sambung Brahim, batangnya bisa untuk papan. Kulit dan akar batangnya bisa untuk kayu bakar. Nudang (pelepah bunga kelapa) dan tukok u (tunggul kelapa) juga bisa untuk bahan bakar.

“Lalu,” lanjut Brahim, buah kelapa banyak sekali manfaatnya. Ie (air) u muda bisa mengganti ion tubuh, merapatkan kembali kerutan-kerutan di wajah bila dibasuh secara rutin, dan untuk rah ulee (cuci kepala) ketika peutron aneuk (aqiqah). Tapeh (sabut kelapa)  bisa jadi kayu bakar, bruek (tempurung) bisa dijadikan arang, dan serabutnya bisa dijadikan tali yang disebut dengan “taloe tapeh”. Dagingnya; bikin santan, jus, kolak, kopra, parutan untuk penganan dan umpan ternak. Bahkan daging busuknya bisa diolah jadi minyak (minyeuk u) dan pliek (patarana). Juga tempurung u groh yang masih lembek itu bisa dijadikan bahan lincah (rujak). Boh lupieng juga bisa digunakan sebagai gawang ecek-ecek ketika anak-anak main bola kaki di lampoh soh (lapangan kosong). Maka tak jarang orang Aceh berucap, “lagee u meunan minyeuk” untuk menamsilkan unsur kesamaan pada diri si anak dengan orangtuanya. Atau keluar ucapan, “lagee pliek kah” untuk melampiaskan kekesalan pada seseorang.

“Nah, kesimpulannya, ho keuh (ke mana kalian)? O hai, kateungeut goe awak kah (sudah lelap rupanya kalian),” tanya Brahim pada Jailani, Ari, dan Isan yang sudah pulas dan meugroh-groh (mendengkur) dalam kasur empuk di kos mereka. Ah, “tapi tak apalah. Kesimpulannya, kelapa itu sarat manfaat. Multiguna,” tutup Brahim. “Maka jadilah dirimu seperti kelapa yang berguna mulai dari ukheue (akar) sampoe (sampai) ke ujungnya,” ucap Brahim sambil merebahkan badan ke kasur.[]

 

(CP HA 14/4/11)

Catatan:

Saya memang tak keberatan dengan digantikannya kata “on ‘ue” menjadi “on ‘u” oleh redaksi, karena ini hak redaktur. Tapi pada umumnya, orang Aceh lebih sering pakai kata “on ‘ue” terutama orang Pidie. Selain itu, ucapan “on ‘u” lebih identik dengan orang Aceh yang tak fasih bahasa Aceh.

 

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

6 thoughts on “‘U’”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s