Betisku Ditembak; Dor!

Seorang di antara beberapa pria di tepi jalan persawahan itu melambai tangan ke arahku, sepertinya mau memberhentikanku. Waduh, mereka bersenjata api. Aku memelankan laju motorku. Semakin mendekat dengan mereka. Sebagian dari mereka tengah memeriksa beberapa pengendara. Eh, mereka memakai penutup wajah, sebo.

“Hei, berhenti kau!”

“Brmmmm!” Aku tancap gas. Meninggali kepulan asap untuk mereka isap.

Dor! Dor! Dor!

Au. Ssst. Kakiku kesakitan. Aduh. Betisku. Hah! Lemas tubuhku. Satu peluru menembus betis kiriku. Berdarah. Aku mempercepat laju motor menuju jalan yang membelah belantara. Perkara gawat. Mereka mengejarku. Sesekali  melepaskan tembakan.

Aduh, dapat jalan buntu. Aku berhenti. Lari. Masuk hutan. Aku lihat ke belakang, tak ada lagi mereka. Tapi aku tidak boleh jumawa. Waktuku tak banyak. Kayaknya aku mesti bersembunyi dalam rimba yang riuh ini. Siapa tahu mereka mengejarku.

Aku berjingkrak-jingkrak pelan. Langkahku bagai kura-kura. Kurasa kakiku bakal banyak mengeluarkan darah. Ah, kali ini aku tak boleh manja.  Jalan terus, batinku. Kusibak ranting-ranting kayu hutan. Tanpa rasa gusar sedikit pun.

Ampun! Mereka masih mengejarku. Aku mengintip dari celah-celah daun pagapaga ini. Tiga pria bersebo bersenjata api laras panjang sedang mengintai-intaiku. Aku terpaku di sini. “Semoga mereka salah langkah,” doaku dalam hati. Binatang-binatang rimba sepertinya menyahuti. Lelaki itu berjalan lurus.

Huff..

Aku bergerak lagi. Mnecari jalur keluar. Biar aku tak mati di sini. Tapi rasa perih di kaki muncul lagi. Begini, aku ikat saja dulu pakai sobekan bajuku. “Srekk”. Aku mengikat betisku kuat-kuat. Arat-arat agar darah berhenti mengalir. Desir hawa dingin hutan mengelus-elus lukaku. Ngilu.

Tiba-tiba seorang lelaki dengan bersimbah darah di tangannya berlari di sisiku. Dia mendahuluiku. Darah menetes dari sikunya yang terluka. “Hei, tunggu aku!” Aku menyusulnya. Dia kian menjauh. Aduh, ada apa dengan dia. Hayya, bisa jadi dia korban pemukulan mereka juga. Galaulah hatiku. Aku pun berlari sekuat mungkin.

Ahha, ada sungai di sana. Satu kali lempar batu dariku. Lelaki tadi sudah di sana, di tepi sungai. “Hei, tunggu aku!” Dia tak mendengar. Wah, dia menarik sampan. “Jangan tinggali aku, tunggu aku.” Lelaki itu seperti tuli. Apalagi sampannya segera dikayuh. Peluh aku usap sembari tertatih-tatih menggapai tepi sungai. Lelaki itu sudah menjauh, membelah aliran sungai yang dipagari tumbuhan bakau sepanjang arus. Aku mendengus di pasir kerikil ini. Mentari pun kian membakar.

“Hei, angkat tangan. Balik badan. Berjongkok!”

Degupan jantungku berdetak kencang. Berguncang-guncang pula dadaku. Aku terkesiap. Siap tak siap aku harus mati kayaknya, batinku. Jantung ini bagai ingin jatuh.

“Tembak saja anak muda ini. Cepat!”

“Krekk!”

“Hah! Masya Allah.” Aku seperti kecapain hebat. Cepat sekali jantungku berdenyut. Mulutku terbuka-tertutup lepaskan nafas. Bergegas aku bangkit lalu duduk mendekap lutut. Denyut kepalaku masih aktif. Aku raih Nokia 2300, handphone termewah era 2000-an. Baru jam 9 malam ternyata. Aku bermimpi ternyata.

Aku bercermin. Alhamdulillah, bolamataku tak lagi merah. Kelopak tidak lagi bengkak. Namun, kening kiriku masih berdetak hebat.

Ya, saat aku pulang kuliah tadi petang. Bukan kepalang kepalaku sakit. Sedikit bergerak, kepalaku huyung. Langsung saja aku rebahkan diri di kasur. Saat azan Magrib bangun, menghimpun kekuatan untuk salat. Selepas salat aku kembali berbaring di tempat tidur. Tapi aku tak bisa tidur, hanya balik kanan balik kiri tak teratur. Bagai lintah kena garam berliur. Debur ombak sakit tak kunjung surut. Aku tekan kepala dengan bantal. Sial, makin sakit saja.

“Ya Allah, jangan dulu mengambilku. Aku belum membahagiakan orangtuaku. Aku masih muda, belum kawin. Aku sering melalaikan salat, apalagi subuh. Berikan aku kesempatan, aku tak akan mengulangi lagi,” gumamku.

“Alah, kalau sudah sakit sedikit ingat Allah,” sepertinya jin baik atau malaikat membisikku.

Kepala bagian kiriku bagai dipalu-palu selalu. Ini sudah hari keempat demikian. Setiap di atas jam 2 siang, maka aku sering memegang kepala dan mata, menahan sakit. Meringis. Terkadang air mata terburai melalui sudut mata dan lubang hidung. Untung, selalu kubawa tisu.

Aku sendirian di kamar saat itu. Iparku asyik meredamkan tangis putra pertamanya di kamar satu lagi dari rumah ini. Keponakanku itu suka nangis. Sementara ayahnya (abangku), sedang tugas di restoran. Pulangnya tengah malam nanti. Maklum, dia seorang kasir.

Aku berniat beli obat, tapi uangku nyaris habis. Hanya dua puluh ribu lagi. Apalagi aku harus hemat mulai semester tiga ini. Sebab ayahku tak sanggup lagi mengais rezeki. Emakku juga. Keduanya mulai sakit-sakitan di kampung, bersama kakakku. Keduanya juga baru selesai dioperasi. Emakku katarak, ayahku prostat. Aku harus bisa mencari rupiah sendiri.

“Mur, kesehatan lebih penting daripada menghemat. Tak ada uang wajib ngutang tuk beli obat. Uang bisa dicari kelak,”  sepertinya jin baik atau malaikat malam membisikku lagi.

Maka aku berdiri, pakai baju selayaknya untuk pergi ke apotek.

“Itu sudah parah,” kata apoteker, ibu-ibu.

Ah, masa sih. Tapi, ya juga. Kepalaku kian merana. Penyebabnya, kata ibu itu, bisa karena sering menatap layar laptop dekat-dekat. Satu lagi, bisa karena suka begadang. Menurutku sih, dua-duanya. Ya, karena aku doyan melakukan yang kedua-duanya. Bagiku, menatap laptop dan begadang ibarat dua sisi mata uang. Tak bisa lepas. Kan aku suka nulis…

Nah, setelah itu, aku segera pulang. Di jalan, aku bawa motor dengan terhuyung-huyung. Beruntung aku selamat sampai ke rumah di Kp. Mulia, sekira 5 menit dari apotek di Penayong.

Besok, berangsur-angsur sakit di kepalaku berkurang. Lusa, kian menghilang. Lusa lagi, penyakit malang ini raib. Migran benar-benar pergi. Ini semua karena Allah melalui perantara obat yang dianjurkan sang apoteker.[]

Note: Catatan yang sempat tercecer. Migran yang kualami pada September 2010, menyakitkan sekali. Maka ketika Anda sakit, segera beli obat atau jumpai dokter. Tanpa uang, wajib ngutang. Karena “kesehatan adalah sebagian dari iman, eh salah ya.. Kesehatan adalah emas yang sangat berharga.”

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

4 thoughts on “Betisku Ditembak; Dor!”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s