Bersama PSK

Daerah wajib kondom. Begitu tertulis di neon box putih. Tiangnya terpancang di muka sebuah rumah di permukiman Teleju, Tenayan Raya, Pekanbaru, Riau. Di dalamnya, seorang perempuan tengah merebahkan diri di sofa merah pudar. Matanya menyimak tayangan televisi. Dia mengenakan baju tidur merah muda. Kulitnya sawo matang. Yuliana, dia punya nama

Lalat-lalat terbang mengitar-itar di atas meja beralas karpet hijau.

Yuliana kecil bercita-cita jadi guru. Usai tamat Sekolah Dasar (SD), ia ingin melanjutkan ke jenjang sekolah menengah. Apalah daya ketika kemudian hari orang tuanya tak sanggup biayai sekolahnya ke jenjang lebih tinggi, karena tiga adiknya harus disekolahkan juga.

Kegiatan orang tuanya sehari-hari memulung atau bergelut dengan ragam pekerjaan yang kuasa dijalani. Karena tak sekolah, Yuliana pun ikutan seperti orang tuanya, bekerja apa yang bisa ia lakukan.

Kliping-kliping surat dan kalender menempel di dinding bilik. Sedikit di samping sofa merah, terdapat dua sofa kuning. Stiker merah bertuliskan “SUTRA” dengan warna putih ditempeli di dinding rumah berkonstruksi kayu itu; di tepi pintu. Tirai bambu tersingsing setengah; menggayut di teras. Lekas Yuliana tatap keluar.

Yuliana diajak kawannya ke tempat lokalisasi Pekerja Seks Komersial (PSK) ini empat bulan lalu. Meski sudah punya satu anak perempuan, demi uang, ditinggali anaknya di Medan bersama orangtuanya. Dikatakannya pada orang tua: ia berjualan di Pekanbaru. Sebagai antisipasi, beberapa bulan sekali Yuliana kirimkan uang untuk orang tuanya.

“Saya rela bekerja di sini karena suami tinggalin saya,” kata Yuliana pada saya akhir Mei 2010.

Yuliana dinikahi Feri pada 2008. Baru setahun kemudian ia tahu kalau suaminya itu ternyata mempunyai 4 istri lain. Yuliana merupakan istri kedua dari lima istri yang “dibeli” Feri.

“Tapi saya masih ingin kawin lagi, apalagi sama pria brondong,” ujarnya, “seperti kamu.” Ha? Matanya merem-merem dan diluruskan tatapannya pada saya. Alamak! Saya geli mendengar dan melihatnya. Lalu saya menyenyuminya dengan sekali sungging saja.

Perempuan berambut ikal sebahu ini kemudian bangkit. Duduk menyilang. Dia meraih remote TV.

Sambung dia, jadi pekerja seks melelahkan; capek. Setiap malam harus begadang. Biasanya, ia bermain dari jam 8 malam sampai jam 5 pagi. Baik short time maupun long time. Paling banyak ia melayani 6 tamu semalam. Untuk short time ia dibayar 150ribu, dan long time bisa mencapai 500ribu. Menurutnya, tamu (konsumen) yang datang rata-rata dari kota Pekanbaru.

Dikatakan short time, “pria punya” hanya sekali masuk ke dalam “wanita punya”. Sedang long time, tamu menginap bersama pekerja dan bisa “masuk” beberapa kali.

***

Tuk Tuk Tuk! Seseorang mengetuk pintu. Mami menyuruh Yuliana membuka pintu. Seorang pria muda berdiri tegap. Yuliana persilakan pria itu duduk di sofa kuning, di samping sofa merah. Pria itu ingin short time dengan Yuliana. Lalu mereka masuk kamar yang berdinding papan. Seperti biasa, sebelum “bermain”, Yuliana meneguk pil antiseptik.

“Sudah sekali masuk, dia pengen beberapa kali lagi,” ceritanya.

Dini hari itu ia berharap si pria supaya membayarnya long time. Setelah tiga jam lebih, pria itu merasa puas. Lalu mengambil pakaian yang disampir di sangkutan dan membalut tubuhnya.

Yuli dengan bikininya menatap pria itu penuh harap. Namun pria itu memberikannya 150ribu saja. Yuliana tak terima. Lalu memberontak dan meminta bayaran lebih.

“Brengsek kamu!” hujam pria itu. Lalu si pria lari tanpa bisa dicegahnya.

“Saya hanya pasrah,” kenangnya akan sepotong momen pahit pada Maret 2010.

***

Tiba-tiba kawan Yuliana dari Medan, Tuti yang berusia 26 tahun hari itu, keluar dari kamar. Lekas dia pergi bersama mami dengan sepeda motor. Mami, sebutan untuk pemilik hunian pekerja seks. Mami pula yang menentukan siapa akan bermain dengan tamu.

Yuliana ikutan keluar dari rumah. Ia duduk di teras. Dentuman musik terdengar keras dari beberapa rumah tak jauh dari Yuliana. Di sisinya ada gerobak sampah. Di dalammya berisi kosmetik. “Ini (kosmetik) kebutuhan para pekerja,” pungkasnya.

Segera saya pamit pada Yuliana. Lalu menemui kawan se-Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut se-Sumatera (saat itu saya bawa nama IAIN Ar-Raniry Banda Aceh) yang juga sedang latihan liputan di kompleks lokalisasi PSK; sekarang sudah ditutup.

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

7 thoughts on “Bersama PSK”

      1. yalk!…ihhh si mak, nulisnya fulgar banget (menurut q). ga nyangka mak bisa nulis sebegininya. dimana nyaris kawin nya, kog ga ada di cerita. oa, kata KAWIN itu kurang enak didengar kalau ceritanya gini.

        kami baru sadar, ternyata slama ini kami sangat belum mengenal keluarga JLK’er.

  1. jeh, itu tidak menggambarkan hai mak. nyan cuman kata2 basa-basi (penggoda). meunyoe na niat dari mak untuk meng iyakan sih, nyan baro menjurus. hehehe. ngemeng2 mak pernah ada niat nyoeh?

      1. Nih, udah saya ganti judulnya, per 16 Juli 2013, biar ga menipu. Namun begitu, saya patut menghargainya, begitulah kalo saya menulis dulu2nya (2011). 😀

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s