Latihan

Sebelum tampil, tentu perlu latihan biar tidak gugup atau gamang ketika acara puncak. Misal pasukan TNI Angkatan Udara yang belakangan ini latihan menerbangkan pesawat tempur di udara Aceh Besar – Banda Aceh; yang suara jeleknya ketika lewat di atap rumah warga cukup untuk membangunkan bayi dari tidurnya dalam ayunan, atau bisa-bisa menewaskan para lanjut usia yang jantungan; apalagi jika salah satu pesawat itu jatuh dan menimpa rumah warga, pasti jadi berita heboh lagi nih, mungkin akan diturunkan dengan judul “Pilot Lalai, Pesawat Tempur Tabrak Rumah Warga”. Hahaha. “Tapi semoga tidak ya,” doa Jailani.

Nah, sebelum tampil, tentu perlu latihan biar tak canggung di atas panggung. Misal seorang peserta Ratu Kopi Dunia (World Queen of Coffee) yang terpilih mewakili Aceh ke pentas nasional sebelum bersaing dengan Ratu Kopi Dunia lain; tentu ia harus latihan berjalan dengan memakai sepatu hak tinggi dan mahkota ratu di kepala, mungkin juga latihan berkomunikasi dan mengumpulkan banyak wawasan. “Dan seharusnya, mungkin juga si Ratu Kopi itu harus latihan dulu cara: menanam kopi, merawat tanaman kopi, menyemprot tanaman kopi, memetik biji kopi, menggongseng biji kopi, sampai meneguk kupi pancong (kopi pancung) atau kupi boh manok (kopi campur telur kampung),” ujar Jailani.

Sebelum tampil, tentu perlu latihan biar tahu ngomong apa di depan masyarakat ketika berkampanye. “Misal calon kandidat gubernur atau bupati; harus latihan berorasi, latihan menipu rakyat dengan janji-janji manis, latihan membagi-bagikan uang atau sembako, latihan pakai jas atau stelan dinas, latihan tanda tangan surat-surat, latihan nyetir mobil, latihan diwawancarai, latihan menanggapi kritikan rakyat, latihan tinggal di rumah mewah, latihan mencuri uang rakyat, dan latihan segala latihan lah,” ucap Jailani pada pemirsa sebuah stasiun radio swasta dalam acara Seni Tutur Lucu jelang Pemilukada.

Nah, sebelum tampil, tentu perlu latihan biar lancar pesta perkawinan (walimah). Misal bagi calon pengantin; baik dara baro (pengantin wanita) maupun linto baro (pengantin pria). Bagi pengantin pria; ia mungkin harus pangkas rambut dulu sebelum duduk pelaminan, harus latihan bergaya untuk difoto-foto ketika pesta perkawinan atau pernikahan, harus latihan pakai peci sebagai pelengkap seragam linto baro, latihan mengucap ijab kabul, latihan bertekuk di lutut mertua, latihan menjaga istri, sampai latihan membuat dan menyapih anak. “Bagi si wanita; ya, harus latihan memakai gaun atau merias diri untuk kepuasan suami, latihan memasak, latihan memanjakan suami, latihan mengumbar senyum untuk suami, latihan mendekorasi rumah, latihan mencuci pakaian, latihan nyupir (nyuci piring), dan latihan lainnya,” sebut Jailani.

Sebelum tampil ke publik, kata Jailani lagi, tentu perlu latihan juga. “Misal diriku ini yang sebelum cuap-cuap di sini, juga perlu latihan mengkritik dan melawak. Dan ini pun saya sedang latihan mengkritik. Jangan marah bagi yang kena kritik. Karena saya lagi latihan mengkritik. Kita sama-sama latihan. Setidaknya sama-sama latihan menjalani hidup sebelum hidup abadi di akhirat,” sebut Jailani dengan gamblang dan wajahnya berbinar-binar. Sungguh obrolan singkatnya mendapat sambutan dan applaus luar biasa dari pendengar dan penyelenggara acara. Dan kemudian hari, Jailani tak menyangka kalau dirinya meraih juara satu pada acara seni tutur itu.[]

(CP HA 28/4/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Latihan”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s