Janji Aceh

“Jika ingin mengetahui Aceh sebenarnya bagaimana, maka kamu (generasi Aceh) harus ke luar Aceh. Lalu kamu tahu sendiri, bagaimana Aceh di mata orang luar Aceh,” kata seorang pada Jailani ketika duduk di warung kopi.

Maka, pagi ini Jailani sudah berada di Medan, bertujuan sambung silaturrahmi selain misi mencari pengetahuan berdasarkan pengalaman (empiris). Kini ia sedang menumpangi becak mesin, dari Gajah Mada sedang menuju Soetomo. Lalu ia bincang-bincang sama tukang becak berusia 60-an itu. Nama panggilannya Wak Udin. “Orang Aceh itu baik,” Wak Udin beropini sedikit tentang Aceh, “tapi tidak bisa menepati janji. Tidak bisa,” sambungya, yakin sekali. Jailani tersentak mendengarnya.

Kenapa Wak Udin mengatakan demikian? Karena ia pernah merasakannya waktu bekerja di Kuala Simpang pada 1973. Kala itu ia mencari rupiah dengan memprofesikan diri sebagai buruh: cat rumah dan perbaikan perabotan. “Orang Aceh kalau baik, ya baik sekali. Tapi awak (saya) pernah berjanji sama seorang Aceh (kenalan) di sana, tapi janjinya tak pernah ditepati,” kenangnya, sembari mengungkapkan kalau masa ia ke Kuala Simpang masih ada dua bioskop di sana.

O, meunan nyoh, gumam Jailani. Segera ia turun saat tiba di depan rumah pamannya. “Tapi Indonesia, melalui mantan presiden Soekarno, juga pernah mengingkari janji pada rakyat Aceh. Capek-capek rakyat Aceh patungan kumpul harta untuk beli dua pesawat, tapi kemudian ia tak menepati janjinya dengan Abu Daud Beureueh untuk balas budi pada Aceh,” gugat Jailani pada Wak Udin kemudian, tapi si abang becak itu sudah terlanjur tancap gas; tak mendengarnya. Alahai.

Lantas Jailani berjanji akan bermalam selama tiga malam di rumah Abua-nya itu, tapi nyatanya Jailani hanya menginap semalam saja. “Ini lain, karena saya ada kuliah dan banyak tugas di Banda Aceh,” jelas Jailani ketika ditanya Brahim kemudian hari tentang dirinya tak menepati janji pada abang kandung ayahnya.

Namun, janji Jailani agak berbeda dengan kebiasaan orang Aceh pada umumnya yang masih hidup dalam budaya waktu “jam karet” selayaknya negara-negara bagian Timur lain, “yakni bila janji akan pergi/mulai jam 8 pagi, maka paling cepat jam 10 pagi (dua jam kemudian) baru terlaksana,” kata Brahim. “Dikhawatirkan sama halnya pada penyelesaian Rancangan Qanun Pilkada: bila dijawalkan selesai secepat mungkin, malah telat selesainya, ya gara-gara asyik jalan-jalan. Haha,” sambungnya.

Lalu Jailani dan Brahim mengharap-harap. “Oleh kedua belah pihak, semoga perjanjian damai MoU Helsinki antara GAM dengan Pemerintah Indonesia yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 benar-benar dijalankan sesuai perjanjian,” harap Brahim. Kemudian, “semoga Pemilukada di Aceh tidak bergeser lagi dari tanggal 9 Oktober 2011,” harap Jailani. Aminnnnnnn! Sahut Brahim.

“Ya Allah, kenapa Si Je (Jailani) telah mengingkari janjinya pada saya untuk membawa oleh-oleh berupa bika ambon dari Medan? Sadarkan ia Yang Maha Mengetahui,” pinta Brahim.  “Hai, kon han kubloe (bukan tidak saya beli), tapi han sep peng (tapi tak cukup uang). Na peng bacut ka lon bloe buku (Ada sedikit uang sudah saya beli buku). Yang na teupeue chit eumpeuen (tahunya cuma makan). Nyoe buku kapajoh (Ini buku kamu makan), supaya carong (pintar). ” sambar Jailani, marah-marah dan panjang. Brahim teugeurhing (tersenyum kikuk) mendengarnya.[]

(CP HA 3/5/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s