Awe Syiruga

Masa kecil terkadang sangat senang untuk dikenang-kenang. Senyum berkembang ketika diingat-ingat. Kini Jailani merenung seraya menyeringai senyum. Dia sedang menikmati masa SMA-nya ketika mengaji malam di pesantren.

Jailani pada mulanya sangat takut untuk cuti ngaji barang semalam, meski benar-benar tak bisa hadir. Tapi suatu malam semangatnya untuk bolos ngaji menggebu-gebu. Itu muncul usai ia melihat Ari yang cuti ngaji tanpa alasan yang benar dicambuk Teungku (ustdaz) pakai awe (rotan) seukuran jempol kaki orang dewasa. Ketika mengeksekusi, sang Teungku berkata, “bahgian asoe umat yang keunong seupot awe Teungku han tutong keunong apui Nuraka (Bagian daging umat yang kena cambuk rotan ustadz tidak terbakar api Neraka).” Dan sambung Teungku, “maken le keunong seunuet (makin banyak kena cambuk), maken anti Neuraka.” Alias, “tamong (masuk) Syiru….?” Dengan serentak dan cepat, “gaaaaaaa,” sahut belasan santrinya di bale beuet (balai pengajian) itu.

Sejak malam itulah Jailani dan kawan-kawannya jadi rajin bolos ngaji, apalagi kalau kena giliran nyanyi atau pidato pada malam diadakannya muhazarah (latihan berdakwah). Maka, supaya terhindar dari makian orangtua karena tidak pergi mengaji, mereka tetap keluar rumah, tapi nyangkut di pertengahan jalan. Biasanya mereka akan mampir dan duduk di pojok warung kopi. Atau nonton bola juga sinema di rumah kawan yang sedang sepi.

Nah, keesokan malamnya, usai salat magrib berjamaah atau ketika mau memulai kajian, mereka akan ditanyakan ustadz musabab tak hadir. Kalau sudah begitu, mereka biasanya memberikan alasan yang bervariasi. Ada yang karena telat pulang dari bertanding bola kaki. Ada yang bilang sakit. Ada yang bilang ketiduran. Ada yang bilang enggak ada yang jaga adik sendirian di rumah. Ada yang beralasan, “neuk tamong Syiruga (mau masuk Surga) Teungku.”

Teungku tak percaya alasan mereka. Lalu geuseupot mereka banbuet (membabibuta). Dan mereka senang meski di beberapa bagian tubuh mereka lebam-lebam. “Hana trep le tanyoe tamong (Tak lama lagi kita masuk) Syiruga,” desis Jailani pada kawannya sehukuman sambil tersenyum bangga.

Begitulah, “doktrin” Awe Syiruga, kata Jailani pada kawannya di kampus setelah mendengar ‘surah’ mata kuliah Sosiologi di bawah asuhan Pak Bus barusan. Mengenai Awe Syiruga itu, Pak Bus bilang, “kalau sudah didoktrin, logika enggak masuk lagi.” Maksudnya, pernyataan “kena rotan Ustdaz terhindar dari api Neraka” itu tak bisa dibantah dengan akal pikiran, karena anak-anak sudah didoktrin dengan kuat dalam kepalanya.

Hal yang sama dijumpai Jailani ketika ia masih duduk di bangku SD. Masa itu ada seorang yang dianggap keuramat (sakti dalam islam) sering masuk kampung mereka untuk bersilaturrahmi dengan warga. Doktrinnya, jika ada anggota tubuh yang disentuh orang keuramat itu, maka anggota tubuh yang disentuh itu akan membawa hikmah. Bila seorang anak diusap di kepala, diperkira dan dipercaya anak itu akan jenius, seperti yang dialami Brahim, tapi nyatanya sampai sudah kuliah Si Brahim tetap ngeut (lebih dari bodoh) juga sesekali. Atau ketika disentuh tangannya, seperti dialami Isan, maka diperkirakan anak itu akan pandai memasak. Tapi nyatanya sampai kuliah, Isan masih tak bisa masak sendiri, malah dia pandai mencuri hati perempuan. Hahaha.

“Tapi,” sela Jailani, “di satu sisi hal itu baik juga. Karena setidaknya anak-anak akan dekat pada agamanya. Dulu ya..” Kalau sekarang, kata Jailani, perihal memukul murid itu harus hati-hati. Sebab bisa saja hanya karena mencubit santri/murid yang nakal, seorang ustadz/guru dipenjara, karena tindakan demikian melanggar Hak Asasi Manusia. Sedikit pura-pura ditampar, sudah dilaporkan ke Komnas HAM. “Manusia lawet nyoe  (sekarang ini) manja that (amat),” tutup bincang-bincang siang oleh Jailani.[]

(CP HA 14/4/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s