Kala Linto Diantar Malam

Tradisi di Aceh berbeda-beda. Anda akan mengetahuinya ketika ke luar dari daerah sendiri dan kemudian harus peka serta menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Di Aceh Barat Daya misalnya, linto baro (pengantin pria) diantar ketika malam hari ke kediaman dara baro (pengantin wanita). “Tapi, bagi sesama pengantin yang dekat saja,” sebut Nazar Shah Alam, pemuda asal Abdya, Sabtu (14/5) lalu. “Se-kecamatan lah,” atau, “setidaknya se-Abdya,” sambungnya.

Kalau linto dari luar Abdya, preh linto baro digelar siang hari. Bila tetap harus dilakukan pada malamnya, terang dia, maka linto baro beserta sebagian rombongannya pergi lebih dini dan menetap di orang terdekat linto di Abdya sementara, sebelum mengantarnya ke rumah dara baro pada malam hari.

Sabtu siang di Abdya yang panas, saya bersama Nazar Shah Alam menghadiri pesta perkawinan adik kandung temannya di Ladang Neubok, Kec. Jeumpa. Di bibir jalan negara, tenda kecil berdiri, di muka rumah semi permanen. Suasana tampak sederhana. Dara baro sedang berpose bersama keluarga dan setiap tamu undangan di pelaminan; di ruang tamu yang sudah disulap dan terasa pengap.

Sekejap usai magrib, rombongan linto baro tiba. Tuan rumah sudah mempersiapkan kursi bagi linto baro. Kursi itu ditambah payung pada sandarannya. Tubuh kursi dibalut dengan kain beludru kuning keemasan dan pernak-pernik. Ditaruh di tepi jalan, sekira 15 meter dari rumah dara baro. Tak lama, sambil rombongan mendendangkan salawat, linto dituntun duduk di kursi tersebut. Lalu ibarat sang raja, ia digotong oleh beberapa lelaki penyambut rombongan linto baro sampai ke muka rumah dara baro. Kemudian linto dituntun masuk dan duduk ke pelaminan bersama dara baro. “Begitulah adat kami,” simpul Munawir, abang kandung dara baro.

Kebiasaan itu sedikit berbeda saat giliran pihak linto menerima dara baro. Akan ada dua kursi. Lalu kedua mempelai duduk pada masing-masing kursi tersebut. Letak kursi dengan rumah linto pun lebih jauh. Kemudian pasangan suami istri itu digotong ke depan rumah. Tentu duduk di pelaminan pada akhirnya.

Pula perbedaan dengan kabupaten lain di Aceh, Abdya mengadakan setiap kenduri (pesta) berdasarkan musimnnya. Ada yang namanya ‘musim kawin’, yang biasa berlangsung usai panen padi. Sederhananya, “lagee mie ‘ong, (seperti kucing),” analogi Nazar Shah Alam dalam artian, kucing kawin pada musimnya. Lalu ada musim sunat, musim maulid, dan lainnya. Kebiasaan itu disebut, “meu-alek,” ujarnya.

Ibarat bus penumpang yang berhenti pada halte ke halte atau pemberhentian. Kalau calon penumpang ketinggalan, maka ia harus menunggu bus selanjutnya. Begitulah sistem meu-alek. Bilamana misalnya pihak calon pengantin wanita akan menggelar pesta, maka harus dalam musim kawin yang sedang berjalan. Jika tidak, “akan timbul rasa malu dengan sendirinya di pihak keluarga pengantin dan harus menunggu musim berikutnya,” tutur anggota Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia Unsyiah itu.

Satu lagi yang berbeda di Abdya adalah pesta perkawinan digelar tujuh hari tujuh malam. Tradisi ini acap ditemukan ketika Abdya masih bagian dari Aceh Selatan. “Sebelum konflik bersenjata di Aceh, kerap acara perkawinan digelar 7 hari 7 malam. Tapi kini payah, sebab menyangkut masalah finansial,” jelas Sammy Khalifa, Kabid Infrormasi dan Komunikasi (Infokom) Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Aceh Barat Daya (Hipelmabdya). “Tapi tergantung daerahnya juga,” tambah dia.

Tradisi ini biasa digelar oleh keturunan bangsawan. Terakhir yang paling wah, pesta 7 hari 7 malam digelar di kecamatan Tangan-Tangan era 70-an, di kediaman anak raja. “Ketika putra terakhir Raja Nago dikawinkan, digelarlah pesta 7 hari 7 malam,” cerita Muda Cut, guru SD Padang Bak Jok, kec. Tangan-Tangan. Ia masih kecil saat itu. Dibawa ibunya ke pesta anak raja yang bernama lengkap Nagoer itu. Nyaris semua penduduk Abdya (saat itu masih bagian Aceh Selatan) hadir. Mereka makan di sana: pagi, siang dan malam. Namun selepas itu, keturunan Raja Nago tersebut pindah dan menetap ke luar Aceh.

Maka sekarang, kata mantan kepala sekolah SDN 1 Suak Nibong kec. Tangan-Tangan itu, tradisi pesta 7 hari 7 malam secara murni tak ada lagi. Kecuali cuma orang-orang yang ingin menampakkan kekayaan. Kalau warga biasa masa kini, masalah keuangan merupakan kendala utama. Dulu, rakyat jelata pun bisa menggelar pesta 7 hari 7 malam, sesuai kemampuan mereka. Demikian surah pria yang dikenal bersosial tinggi itu berdasarkan cerita nenek moyang.[makmur dimila]

(Feature rubrik Daerah, HA 21/5/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s