Mie (tidak) Aceh

Rodin (1840-1917), pematung Prancis, pernah bertutur, “Tidak ada waktu yang terbuang percuma jika Anda menggunakan pengalaman dengan bijak.” Itu pula yang membuat Jailani berada di salah satu warung Mie Aceh di Medan pada awal Mei silam. Ia bersama kawannya asal Pidie yang kuliah di Medan. Warung itu terletak di jalan Setia Budi, samping kali, dekat sebuah jembatan; tak mau dikorankan namanya.

Jailani ingin mengetahui, apakah yang dijual benar-benar mie rasa Aceh? Jangan-jangan namanya saja.

Kini dipanggilnya pelayan. “Pesan apa Mas?” Tanya seorang pelayan perempuan. “Hoi, aku bukan orang Jakarta. Aku Aceh. Bang ka hei,, atau memang aku yang mirip orang Jakarta,” ucap Jailani pada pelayan itu, tapi hanya dalam hati. Lalu, “gata ureueng Aceh atau (kamu orang Aceh atau)..?” Ya, “saya orang Pidi,” sahutnya. “Peu han jeuet le bahasa Aceh keuh (Apa enggak bisa lagi bahasa Aceh kamu)?”

Pelayan berlalu dengan wajah cemberut. Jailani memperhatikan, ada beragam jenis manusia makan mie itu. Ada berpenampilan seperti orang Cina, Bule, Batak, Minang, Melayu, dan Aceh. Kebanyakan bersama keluarga. Juga berpasang-pasangan. Lalu hidangan tiba. Kerupuk mulieng (emping melinjo) paling menonjol, khas Aceh.

Tapi ketika Jailani makan, ia terenyuh. Sangat tak enak. “Lebeh mangat mi ata di gampong (Lebih enak mi yang di kampung),” nilainya pada Zin, kawannya itu. Jailani kira, lebih enak daripada yang di Aceh punya, sebab banyak sekali pengunjungnya. Tapi ia tak habis pikir, jangan sampai penikmat menganggap, “O, begini rupanya mie Aceh..” Waduh. Herannya, saat ia pulang. Sempat dilihatnya piagam penghargaan terhadap mie Aceh, tergantung di dinding belakang kasir. “Kasihan sekali,” ucapnya.

Si Zin pun berpendapat serupa. Mie Aceh di Medan, kata dia, lebih enak mie di gampong-gampong meski dijualnya samping jalan berdebu. Menurutnya, mie mentah Aceh di Medan warnanya lain, yakni oren, tak seperti di Aceh asli yang warnanya kuning pucat. Dari situ, lanjut dia, sudah bisa ditandai kalau mie di sana tak enak. “Kadang ada orang Cina yang di rak mienya tertulis Mie Aceh,” ungkapnya. Aneh memang. Namun, di satu sisi, bagus juga bagi pemilik mie Aceh. “Sebab ia telah mempekerjakan puluhan orang warungya. Dengan begitu sudah sedikit mengurangi angka pengangguran,” ujar Jailani, dengan bijak.

Seminggu usai pulang dari Medan, tibalah beberapa siswa asal Medan. Berliburan ke Banda Aceh. Mereka juga diundang talk show di sebuah stasiun radio swasta, karena sebelumnya mengirimkan rekaman lagu ke radio tersebut. Mereka menginap di tempat (bisa dibilang) saudara seorang dari mereka, dimana Jailani juga mulai menetap di sana.

Dari bincang-bincang, diketahuilah, bahwa mie Aceh di Medan nyaris tak punya cita rasa Aceh. “Enggak enak Mie Aceh,” nilai mereka. Tapi setelah mencicipi mie di Banda Aceh, mereka mengakui, sungguh berbeda rasanya. Enak sekali. “Benar-benar Aceh,” ujar mereka. Bahkan dilahap habis kudonya. Jailani pun tak percuma memadukan pengalamannya dengan sedikit penelitianya untuk mengungkapkan cita rasa mie Aceh di Medan.[]

(CP HA 21/5/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s