RBT

 

             RBT ini bukan istilah penarik ojek di Aceh, bukan Rakyat Banting Tulang istilah anak Medan, bukan Ring Back Tone yang maksudnya nada sambung, tapi Rambut Belah Tengah. Era 90-an, atau masa Brahim dkk. kecil, ada tiga gaya rambut yang populer. Gaya RBT, plah bineh (sisir samping), dan lagee aneuk mamplam teulieh (seperti biji mangga masak dijilat). Ketika ada acara penting, orang-orang akan pangkas rambut dengan memilih tiga gaya itu. Dan bila dikaji, gaya-gaya rambut itu mirip dengan pegunungan dan pemangku jabatan tertinggi di Aceh.

 

      Cek ricek, ternyata gaya rambut era 90-an meniru bintang film India yang juga populer di Aceh. Gaya belah tengah seperti rambut Shah Rukh Khan. Gaya sisir samping seperti Super Boy. Gaya ketiga seperti Salman Khan. “Maka berkibarlah gaya rambut aneuk muda India di Aceh,” cerita Abu Toy Sijoy pada Jailani cs.

 

      Namun ketika mereka besar, ketiga gaya itu mulai terkikis oleh globalisasi. Sudah ada gaya baru. Ada rambut acak-acakan seperti anak band pop. “Ok cincang, ok teuglong-glong,” Abu Toy Sijoy mencontohkan. Bahkan saat mereka remaja, ada gaya rambut mohawk, gaya duri landak, model gimbal, dsb. Lebay.

 

      Akibatnya, mau tak mau, Jailani cs. turut berpartisipasi sedikit pada gaya baru. Selama kuliah, rambut mereka panjang dan tebal. “Makin panjang, makin terlihat gantengnya,” alasan Isan. Ketika ditanya dosen, kenapa tak pangkas rambut? “Karena kami tak dikirim uang untuk pangkas rambut, cuma untuk SPP dan jajan saja,” jelas Jailani, setengah bercanda. Sang dosen hanya geleng-gelang kepala. Ketika sesekali pulang kampung, baru mereka pangkas rambut. Itupun jika dipaksa orangtua.

 

      Tapi, kalau dipikir-pikir, keadaan hutan Aceh hampir sama dengan keadaan sebagian rambut orang Aceh. Rambut dipangkas, ketika kena hujan air mudah mengalir. Apalagi sampai botak. Kalau rambut mohawak atau gaya duri lebih parah; airnya mengalir penuh seni, berliku.

 

      Begitu halnya dengan hutan. Jika digunduli sampai botak, akan berdampak banjir bah bagi manusia. Kalau dipangkas dengan model gimbal atau mohawk, banjirpun turun secara berliuk-liuk. Jika sudah gundul di sana-sini, bila dilihat dari atas hutan tampak seperti kepala manusia dengan rambutnya lagee dikap lee tikoh alias tak rapi. Karena itu perlu dirawat hutan, bukan dihancurkan. Jangan-jangan, penebang hutan saja yang rambutnya rapi.

 

      Nah, rambut belah tangah, mirip pemandangan dua gunung Seulawah bila dilihat dari udara. Seulawah Agam untuk bagian kiri, Seulawah Inong bagian kanan. Belahannya adalah jalan Banda Aceh-Medan. “Kalau begitu, orang-orang yang melintasi jalan tersebut, ibarat kutu?” celutuk Brahim. Hai, enggak juga. Kan umpama.

 

      Maka dari itu, di antara beberapa gaya rambut, “kurasa gaya RBT yang paling eksis, urutan kedua plah bineh,” ungkap Jailani, layaknya sang juri. Buktinya, sampai hari ini masih ada gaya rambut tersebut. Jangankan manusia, pegununganpun begitu. Kalau orangnya, lihatlah orang nomor satu Banda Aceh untuk gaya pertama. Dan lihatlah orang nomor satu Indonesia untuk gaya kedua. “Ya ya. Carong that kah. Pak Mawardy ok plah teungoh. Pak SBY ok plah bineh,” aku Brahim. Ha ha ha.[] 

(CP HA 23/5/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s