Mirip, Jodoh

Jika seorang pria mirip dengan wanita, itu tandanya mereka jodoh. Satu sisi saja ada kemiripan, sudah dikatakan bakal jodoh. Anggapan ini sepertinya masih kental di Aceh. Lebih-lebih bagi kalangan remaja/pemuda. Tapi Ari tak percaya. Pasalnya, sudah lima gadis yang dibilang orang miripnya, tapi tak jodoh juga sama dia.

“Susah juga cari calon istri,” tutur Ari yang masih membujang pada kawannya. Hei, “belajarlah menjadi orang yang memikat, penuh perhatian, lemah lembut, penuh kehangatan, ramah, halus dan tidak ngotot. Pahamilah kebutuhan dan keinginan mendalam pada pihak lain. Inilah resep untuk dicintai yang dicari banyak orang,” balas Jailani, meminjam pernyataan Paul Hauck.

Jailani menduga, Ari tak pakai resep Paul Hauck sehingga ia tak jodoh meski usianya sudah tiga puluh lima. Padahal semua wanita yang mirip dengannya cantik-cantik. Dengar ni ya pepatah Perancis bilang, “kecantikan tanpa kebajikan seperti bunga tanpa bau harum,” kata Jailani. Yang diperlukan Ari sekarang hanyalah kebajikan ketika menghadapi kecantikan wanita.

“Lihatlah diriku,” seru Jailani, “empat cewek yang mirip denganku, semuanya jodoh. Satu di Sigli,  satu di Jakarta, satu di Banda Aceh, satu lagi di Belanda. Empat istri aku sekarang. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya.. Cukup aku dan kamu yang tahu.”

Ari merinding dengarnya. Jailani sudah berpoligami. Tapi Ari salut. Jailani tak pernah ribut sama semua istrinya. Padahal pendapatannya tak banyak amat. Dia suami yang adil. Dia mendapat jodoh yang cantik-cantik. Kesemuanya merupakan boh teusalop lam on. Berarti yang diperlukan Ari hanyalah kebajikan. Kebajikan yang mungkin tertuang dalam resep Paul Hauck. 

Oke oke. Tapi coba perhatikan. Sepertinya paham di atas salah. Cermatilah pasangan suami istri di sekitar kita. Mereka sungguh berbeda. Apa juga dibilang kalau ada kemiripan mereka ada jodoh. Bodoh sekali persepsinya. Kebetulan kali. Siapa ya kita contohkan. “Ya, pemimpin kita saja lah. Kan semua orang kenal. Kalau kucontohkan nenekku sama kakekku, kamu atau mereka mana tahu,” sebut Jailani.

Misal Pak Beye dengan Ibu Ani. Atau Pak Wandi dengan Ibu Darwati. Atau Obama dengan Nyonya Obama. “Maaf, mereka samasekali tak ada kemiripan,” jelas Jailani. “Jadi,” sela Ari, “kebetulan dong!” Kalau begitu, Ari memang belum waktunya. Sabar-sabar aja ya. Namun begitu, kamu, “jangan melihat terlalu lama kecantikan yang dimiliki oleh orang lain,” tutur Jailani mengutip Ecclesiasticus.[] 

(CP HA 26/5/11)

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Mirip, Jodoh”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s