Melahirkan

Soal. Jika kita ditanyai orang. Benarkah keadaan saat seseorang sebelum/sedang/sesudah dilahirkan terbawa sampai ia besar? Ayo, mohon dijawab. Biar mudah kita diskusikan, mari kita bedah orang-orag yang kita kenal. Jangan. Mereka selalu korban. Tak bagus untuk masa depan kita. Maka kita misalkan, kata Jailani, si buta, si koruptor, si pemarah, si pendek, si batat tungang atau klo prip.

Bermula pada si buta, surah Jailani. Bisa jadi ketika dilahirkan pada malam buta. Pas dikeluarkan dari rahim, panyot (lentera) mati. Dari awalnya remang-remang, lalu gelap gulita. Sang bayi pun melakukan komunikasinya yang pertama di dunia dengan menangis semampunya. Namun karena ketika masih dalam kandungan ia sering diperdengarkan ceramah-ceramah islam oleh pengandungnya, jadilah ia tokoh agama ketika dewasa, bahkan sempat jadi presiden. Luar biasa.

Yang kedua si koruptor. Kata Brahim, orang yang suka korupsi identik dengan tikus, sehingga disebut tikus berdasi. Alasan pertama, ketika sejak dilahirkan sampai tumbuh besar, ia hidup dalam keadaan serba kekurangan, sehingga ketika kelak ia punya jabatan, dimanfaatkannya untuk balas dendam. Pasti, ia jadi pemimpin yang suka mencuri uang rakyat. Persis seperti dalam sebuah film kartun serial: Jerry yang selalu menipu Tom. Kedua, salah satu orangtuanya suka mencuri harta benda orang lain ketika si anak dalam kandungan. Sehingga, menurut paham sebagian orang Aceh, ketika ia besar akan seperti induknya. “Lagee u meunan meunyeuk,” kheun hadih maja. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Ketiga, pemarah. Kata Isan, “pemarah kemungkinan besar lahirnya begini, ia dilahirkan ketika matahari tepat di atas ubun-ubun induknya. Lahe watee cot uroe timang. Suasananya pun panas,” jelasnya sambil memperagakan dengan tangan cara matahari menyinari kepala manusia. Percaya atau tidak, si anak akan mudah marah ketika ia besar. Misal ia jadi pemimpin, ia akan diktator. Kejam, pungkasnya.

Keempat, si pendek. Kata Brahim, pertama sekali karena faktor genetik (keturunan). Ya, orangtuanya pendek mungkin. Maka wajar jika anaknya pendek-pendek. Lagee boh pingko (buah kerdil), pendek dan kecil, ia sering dikucilkan ketika kanak-kanak. Tapi ketika dia besar dan menjadi “orang”, ia disembah-sembah. Belum lagi saat ia pakai kacamata, wuih, keren sekali, apalagi memakai jas, jalan dengan dikawal, dan nyaris setiap hari masuk koran. Tak ada yang menyangka, bukan?  Kedua, mungkin karena kurang diberi asupan gizi saat dalam kandungan.

Kelima, si batat tungang. Kata Jailani, ketika ia dilahirkan pasti cuaca sedang ekstrim. Petir menyambar di langit. Guntur berdentum. Hujan deras sekali. Sehingga, ia kurang mendengar bang (azan) yang dikumandangkan sang ayah di telinganya. Maka ketika ia besar, ia bandel sekali. Sebutan semisal “batat tungang, klo prip, hana deungo tut” melekat pada dirinya. Butuh tenaga ekstra untuk mengubahnya kemudian.

Lalu, Jailani cs menebak-nebak di kos. Ari berambut keriting dan berkulit hitam. Pasti lahir ketika sedang petir dan kemungkinan kesetrum listrik. Juga akibat orangtuanya suka mengejek anak orang lain yang hitam sebelum mengandungnya, sehingga ejekan itu malah berbuah pada Ari bayi, selain suka main dan mandi di kali di bawah terik mentari. Ha. Brahim orangnya meukeuli-ep alias lamban. Kemungkinan besar saat dilahirkan, susah sekali dikeluarkan dari rahim dan butuh waktu lama, sehingga prosesnya lambat. Haha. Lalu Isan, suka meupep-pep (cerewet). Pasti ketika dilahirkan, kamarnya di samping geurpoh manok (kandang ayam) dimana si induk lagi mengeram tiba-tiba berkotek, akibat mendengar si bayi menangis. Hahaha. Jailani kiban? “Aku orangnya ganteng dan pintar. Kalian tahu, saat dilahirkan aku mendengar azan ayahku. Dan saat ‘ditingting’, menurut cerita ibuku, ayahku membacakan beberapa ayat Al-Quran dalam surat Yusuf.” Kawan Jailani dengan serentak, “jampokkkk!”

Nah, begitulah kira-kira. Terlepas dari: janji calon bayi dengan sang malaikat saat dalam kandungan, kehendak Ilahi, kaoy (nazar) dan genetik; keadaan seseorang ketika dilahirkan atau ketika dalam perawatan orangtua dan keluarga, bisa terbawa saat ia sudah besar atau dewasa, bahkan masa tua.

Namun perlu diingat, kita hidup untuk mati. Bagaimanapun rupa dan keadaan kita, “Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya kampung akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui,” firman Allah dalam surat Al- Ankabuut ayat 64.[]

(CP HA 27/5/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Melahirkan”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s