Persiraja

Sundulan Fahrizal Dillah medarat di dalam gawang Mitra Kukar. Goaaaaaaal. Tivi bergoyang. Bolamania Aceh mengguncang-guncangkan tubuhnya. Persiaraja unggul satu gol. Bagusnya skor tersebut bertahan hingga laga usai. Si pencetak gol pun disebut-sebut sebagai pahlawan. Betapa tidak, selain lolos ke final Divisi Utama Liga Ti-phone, kemenangan itu juga mengantarkan tim berjuluk Lantak Laju ke kasta lebih tinggi. Mulai musim depan main di Liga Super Indonesia (LSI) atau Indonesian Super League (ISL), untuk pertama kalinya!

Suka cita itu disambut gembira oleh segenap masyarakat Aceh. Sebagian besar penduduk Tanah Rencong bangga akan prestasi tersebut. Namun di final, Persiraja kalah satu gol dari Persiba Bantul. Meski demikian, “Aceh bagai juara pertama. Hanya Persiraja satu-satunya tim dari Sumatera yang melaju ke Liga Super musim ini,” ucap Jailani.

Namun dikhawatirkan, “Persiraja tak punya dana ketika berlaga di LSI nantinya,” ujar Ari. Ia merujuk pada pemberitaan sebuah media lokal, kalau Persiraja butuh dana minimal 25 M untuk berlaga di LSI. Dari mana uang sebanyak itu didapatkan, kalau bukan dari rakyat. Bayangkan jika jadi, uang sebanyak itu kalau dipergunakan untuk mensejahterakan rakyat, “pasti sangat berguna,” ucapnya. Kalau misal nanti terpuruk, tentu buang-buang uang saja.

Bisa berkaca pada PSAP Sigli tahun 2008/2009. Mereka tampil digdaya saat mengikuti Divisi I, sehingga mereka lolos ke Divisi Utama secara sempurna. Tapi, PSAP terseok-seok kemudian. Tim Keurupuk Mulieng kekurangan dana. Mereka pun nyaris terdegredasi. Tapi bagusnya bisa bertahan. Bahkan kemarin mampu menembus 8 besar.  “Kembali ke Persiraja. Akan banyak hal yang harus dienahi. Dan ini wajar. Maka tak salah pula, jika mereka bisa dijuluki dengan Per-si-raja-masalah,” jelas Ari.

Simaklah kata Mawardy sang ketua umum. Ia sudah menyampaikan pada Irwandi sang gubernur untuk menggantikan nama Persiraja Banda Aceh. Nama diganti supaya lebih mudah dapat dana bagi peraih Juara 1 Kompetisi Perserikatan tahun 1980 itu. Kata mereka, ketika berlaga di Liga Super, Persiraja bukan lagi tim dari Banda Aceh, tapi tim Aceh. Oleh sebab itu Persiraja hendak diberi nama Persiraja Aceh atau apalah nantinya.

“Saya tak setuju,” gugat Je. Itu namanya membuang baju tua karena sudah punya baju baru. Bagaimana (misalnya) jika musim-musim berikutnya PSAP Sigli, PSLS Lhokseumawe, PSSB Bireuen lolos juga ke Ligas Super? Apa harus diganti nama semuanya? Maka nanti bakal ada Persiraja Aceh, PSAP Aceh, PSLS Aceh, dan PSSB Aceh. Aneh!

Satu solusinya, seperti yang diungkapkan seorang praktisi hukum dalam opini seorang pecinta Persiraja di sebuah media lokal. Dia mengusulkan untuk menjadikan Persiraja sebagai satu badan hukum yang bersifat terbuka. Ia menginginkan Persiraja menjadi Perusahaan Terbatas (PT). Dengan begini siapapun bisa memiliki sahamnya. “Mantap, idenya. Jangan tunggu lagi!” kata Ari. Dan bolamania Aceh berharap, ketika berlaga di Liga Super, “jangan ada lagi masalah-masalah teknis maupun nonteknis yang dapat melantak laju Persiraja di kancah sepakbola nasional,” harap Je.[]

(CP HA 1/6/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s