Kawan Dibakar, “Mereka” Asyik Mendownload

Jika dalam keadaan tertindas, manusia (seharusnya) makin tangkas dalam berpikir. Makin tersiksa, makin cerdas melepaskan diri dari penderitaan. Ia akan memberontak penindasan itu untuk kemudian menyudahinya dengan kepuasan batin.

Lalu bagaimana dengan hewan buruan manusia? Selaksa ikan-ikan di laut, yang menjadi sasaran nelayan dan pemancing. Ketika terjaring pukat, atau terpikat oleh godaan umpan pada mata kail yang menusuk, saat itu ajal ikan sudah tiba. Ia pun harus pasrah dan wajar menerimanya. Sedang manusia riang bukan kepalang, karena harapan untuk isi perut sudah dibayar tunai, dan sebentar lagi menyantapnya.

Adakah berlaku hak asasi ikan? Sebagai makhluk Tuhan yang tergolong seksi, seandainya pembicaraan ikan bisa didengar manusia, kiranya ikan patut menyeru pada manusia bahwa mereka juga memiliki hak asasi yang dibawa sejak lahir. Setidaknya untuk menghindari dari tangan nakal manusia yang suka mengebom, meracun, menjaring, dan memancing mereka sembarangan, bahkan sampai mengabaikan perintah Tuhan Yang Maha Melihat di tengah-tengah laut demi isi perut.

Ketika manusia melemparkan mata kail ke air, anak-anak ikan akan berebutan, kemudian ikan lebih besar datang (sesuai harapan pemancing), lalu merebut umpannya sehingga tenggorokannya tertusuk mata kail. Kalau sudah demikian, sebentar lagi ia akan disantap manusia.

Ketika umpan dilempar, tapi kemudian ikan tak mau mendekati apalagi sampai memakan umpannya, apakah dalam keadaan demikian sang ikan mempunyai alat pendeteksi dini terhadap ancaman manusia? Apakah kaum ikan juga mempunyai jaringan wifi gratis di laut, sehingga cepat mengetahui informasi dari luar.

Sekiranya patut dijawab dengan, “bisa jadi ikan sedang tak lapar dan tak selera makan.” Atau, “ikan sedang mendownload,” sahut Rahmad RA setengah bercanda, pada Rabu (1/6) dini hari saat memancing di Pantai Cermin Ulee Lheue, dekat sebuah taman. Kalau dijawab demikian, bisa jadi program Banda Aceh sebagai cyber city canangan Walikota Banda Aceh Mawardy Nurdin, turut menyebar ke dunia ikan. Sehingga ikan-ikan di laut sekeliling Banda Aceh pun suka mendownload atau chattingan sama ikan di lautan negara lain, dan main Poker kala malam hari.

Sebuah kewajaran jika ikan-ikan itu tak mau mendekati umpan yang digunakan Rahmad. Mereka seperti melupakan usaha manusia memuaskan batin dengan memancing di tepi-tepi pantai, ibarat manusia yang asyik mendownload dengan terkadang mengabaikan kewajibannya pada Ilahi. Namun sayangnya, sang ikan itu tak tahu kalau sebagian kru Harian Aceh sedang membakar kawan-kawannya di atas sana, di dekat pondok-pondok taman. Jangan-jangan ikan yang masih hidup di air tak mau tahu pada ikan yang sudah mati.

Ketika sudah beberapa menit pancingan Rahmad tak juga dilirik sang ikan, “mungkin perlu di-update umpannya,” kata Zulham yang menemani Rahmad di malam tua itu, di atas bebatuan penuh kerang. Zulham berkata demikian, dalam artian mengganti umpannya. Atau, “perlu direstart posisinya,” saran saya pada mereka, dengan maksud melempar mata kail ke posisi yang lain.

Lalu diganti umpan. “Meunyo ka meudheut-dheut, nyan kadikap (kalau sudah tergoyang-goyang, itu sudah dimakan),” ajar Rahmad pada kami yang baru mencoba pegang pancingan modern itu. Alat pancing yang bisa digulung tali dan diperpendek-panjangkan gagangnya serta talinya bisa melayang sejauh seratusan meter dari tempat pemancing berdiri, tak seperti pancingan kami masa kecil yang hanya menggunakan gagang bambu rautan ketika memancing di kali.

Girang bukan main ketika beberapa detik kemudian seekor ikan termakan tipuan Rahmad. Seekor ungkot kunyet–sebut Rahmad sebagaimana yang sering dikata orang kampungnya di Krueng Raya, Aceh Besar terhadap ikan itu–menggelepar-gelepar pada mata kail. Ikan itu berwarna putih dengan sirip oranye dan berukuran sebesar hape daun (Nokia 7610). Lalu Haikal, seorang lay-outer lain harian lokal itu membedah ikan tersebut untuk kemudian turut dibakar layaknya orang India mengadakan ritual kematian.

Tanpa diketahui ikan tersebut sudah kawin atau belum (seperti kecemasan manusia jika mengingat mati), si ikan tetap dan patut menasbihkan diri sebagai korban sistem rantai makanan dalam tatanan makhluk hidup. Pada akhirnya, daging mereka akan dimakan oleh manusia. Lalu manusia membuang kotoran dari hasil mengonsumsi ikan tersebut dimana kotoran itu dimakan lagi oleh ikan di laut. Sebuah siklus kehidupan yang akan selalu demikian.

Bayangkan jika yang memakannya kembali adalah saudara kandung ikan yang tadi terpancing mata kail Rahmad. Apalagi kemudian, Rahmad malah mengambil isi perut ikan tangkapan tadi untuk dijadikannya umpan. Jika kemudian ikan tak mau lagi memakan umpan pada mata kail Rahmad, bisa jadi karena faktor genetik (keturunan), yakni si ikan tahu kalau umpan itu adalah daging tubuh saudara kandungnya.

Bisa jadi karena sebab itu, kami cuma memeroleh satu ikan saja tengah malam itu di bawah angin sepoi-sepoi dan deru ombak Pantai Cermin. Kemudian kami ke taman, tepat pada jam dua dini hari, untuk menyantap ikan bakar yang “disunting” sebagian awak Harian Aceh pos Banda Aceh. Anak tongkol, nasi putih, sambal kecap bercampur cabai, tomat, dan bawang merah menemani acara makan-makan jelang sehari libur nasional pada Kamis 2 Juni.

Acara yang dimotori Bang Mili, sapaan akrab untuk Ariadi B. Jangka sang pemimpin redaksi itu, ternyata bakar ikan adalah rutinitasnya setiap ada tanggal merah (libur nasional). Bawahannya menyambut baik kegemaran sang sentuhan akhir terhadap setiap pemberitaan harian yang berusia empat tahun itu. Namun, kesenangan tersebut hanya dirasakan manusia karena tak pernah diketahui dan digugat oleh ikan-ikan yang masih hidup. Ikan pun tak perlu melakukannya. Sebab pada kodratnya, itu adalah proses dari rantai makanan dan wajar. Maka mari kita bakar ikan lagi!

Catatan: Sebuah kenangan pada Kamis (2 Juni 2011) dinihari bersama kru Harian Aceh di Ulee Lheue. Makmur Dimila menulis kenangan supaya tak lupa mengenang. Terimakasih Harian Aceh

 


Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s