Dilarang Berbahasa Aceh

Sebenarnya saya tak bangga dengan bahasa Aceh. Apalagi bila berniat dijadikan bahasa resmi internasional. Kenapa? Karena bahasa Aceh adalah adopsi (katanya) dari beberapa bahasa bangsa lain. Kedua susah dimengerti. Ketiga susah ditulis. Keempat susah diucapkan. Kelima malu digunakan di ibukota provinsi Aceh. Maka setelah mengetahui kelima alasan ketidakbanggaan saya itu, semangat saya malah menggebu-gebu untuk berbangga pada bahasa Aceh.

Oh, saya bangga sekali bisa berbahasa Aceh. Saya anak Aceh tulen. Saya patut berterimakasih pada bahasa Aceh. Karena ketika saya ke luar daerah atau ke luar negeri, saya segera dikenali orang luar daerah dan negeri itu, dan mereka berkata, “kamu orang Aceh ya?” Dengan meninggikan bahu, “ya!” jawab saya. Jika menjumpai orang luar daerah, mereka akan menyebutkan beberapa hal yang terkenal di Aceh, misal mie dan ganja Aceh. Jika orang luar negeri, akan menyebut-nyebut tsunami terdahsyat.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, pemakaian bahasa Aceh oleh orang Aceh asli mulai berkurang. Wajar jika ada yang mengatakan bahasa Aceh akan seperti bahasa Gallo di Brittany, Perancis yang tergeser oleh bahasa Bretton sejak kedatangan kaum tersebut secara besar-besaran. Bahkan lambat laun, usai mensahkan bahasa Bretton sebagai bahasa resmi Perancis, orang yang memakai bahasa Gallo dicap kampungan, dan sebaliknya yang memakai Bretton dianggap superior. Setidaknya, bahasa Aceh hari ini sudah seperti bahasa Gallo.

Namun untuk melestarikannya kembali, tak perlu adanya koran berbahasa Aceh. Saya rasa itu tak perlu, kecuali bahasa Aceh sudah jadi bahasa resmi internasional. Sebab Aceh masih bagian Republik Indonesia yang satu bangsa satu bahasa. Tapi cukup ketika di acara-acara formal saja. Kalau boleh sistemnya dibalik sekarang. Bila sebelumnya dalam lingkungan formal harus berbahasa Indonesia, maka kini diganti, dalam lingkungan formal harus berbahasa Aceh. Sedang dalam kehidupan sehari-hari, misal di warung-warung kopi atau di pasar, masyarakat Aceh bertutur dalam bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Mandarin, dan lainnya. Berani?

Saya jadi teringat waktu belajar di bangku Sekolah Dasar di Pidie. Kami diajari guru cara menulis dalam bahasa Aceh, sehingga sampai detik ini, setidaknya kami masih ingat cara menuliskan bahasa Aceh yang baik dan benar, seperti cara penempatan aksen (simbol-simbol) di atas huruf. Sayangnya, keasikan berbahasa Aceh dulu hanya sebatas muatan lokal (mulok) di SD saja. Ketika sudah di Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, bahkan ke Perguruan Tinggi, tak diajari lagi bahasa Aceh. Bahkan kalau di pondok-pondok terpadu, santri dilarang berbahasa Aceh. Wajib memakai bahasa Arab atau Inggris, jika tidak kena hukuman. Kenyataan tersebut, secara tersirat, generasi Aceh seperti dilarang berbahasa Aceh.

Oleh karena itu, ada baiknya “meng-Aceh-kan” orang Aceh. Artinya, semua orang Aceh, bahu membahu kembali belajar berbahasa Aceh, setidaknya bahasa umumnya meski dialeg (pengucapannya) antar daerah berbeda-beda. Memang bahasa Aceh beragam berdasarkan sukunya, tapi ada baiknya jika semua suku-suku di Aceh dapat menguasai bahasa Aceh yang umum dipakai.

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menggapai cita-cita orang Aceh mengembalikan keacehannya.  Pertama, memomulerkan kembali acara berbalas pantun ketika pesta perkawinan. Dalam beberapa tahun terakhir, tradisi berbalas pantun Aceh antara kedua pihak mempelai sepertinya nyaris tak ada lagi. Kecuali anak-anak TK yang menampilkan kepiawaiannya dalam menarikan Ranup Lampuan, tradisi berbalas pantun Aceh sudah terkikis oleh kebiasaan berbalas sms atau berbalas senyum saja antar rombongan.

Kedua, tradisi seumapa harus diterapkan juga dengan dibarengi diadakan kurikulum bahasa Aceh sejak SD sampai Perguruan Tinggi. Seumapa adalah kebiasaan berbalas pantun antara tuan rumah dengan tamu dari jauh. Biasanya si tuan rumah menanyakan tujuan kedatangan tamu dengan berpantun. Untuk terakhir kalinya, saya melihat seumapa dengan mata kepala sendiri pada Senin pagi 10 Januari 2011.

Saat itu Banda Aceh menyambut  seratusan tamu pertama Visit Banda Aceh Year 2011. Ketika tamu dari Zegrahm Ekspeditions itu tiba di kompleks makam Sultan Iskandar Muda, para turis disambut oleh Dinas Pariwisata Banda Aceh dan Provinsi Aceh  dengan menampilkan serangkaian acara adat dan budaya. Bule-bule yang rata-rata berusia lanjut itu disuguhi pertama kali dengan upacara adat. Setelah dilengkingan seurune kale, disambut oleh putri rencong, kemudian larut dalam seumapa di pintu gerbangnya. Seumapa itu diterjemahkan langsung dalam bahasa Inggris supaya turis mengerti maksud pantun-pantun dalam seumapa yang kemudian oleh turis itu membalasnya juga “sepantun” mungkin. Baru setelahnya tamu itu dipersembahkan berbagai penampilan budaya lainnya. Dan saya melihat, bule menikmatinya dengan antusias. “Nice. We love Achenese cultures. (Bagus. Kami suka budaya-budaya orang Aceh),” komentar Mike Messick, pemimpin ekspedisi dari Zegrahm Expeditions itu, dengan menyeringai senyum dan mengacungi jempol.

Yang ketiga perlu dilakukan adalah, mungkin agak unik, yaitu mengadakan kontes rap dalam bahasa Aceh. Rap adalah satu jenis musik olah mulut, gerakan tangan dan tubuh, kecepatan otak, dan ketepatan kata-kata dalam menandingi syair-syair lawan. Bila orang Barat menggunakan bahasa daerahnya, maka kita menggunakan bahasa Aceh. Seperti yang saya lihat di film “8 Mile”, setiap bulan anak-anak muda di sebuah negara bagian Amerika Serikat mengadakan kontes rap. Para rapper umumnya berkulit hitam. Acaranya berbentuk turnamen. Berlangsung dua jam saja. Dan menggunakan sistem gugur. Peserta akan bertanding satu lawan satu hingga tersisa dua finalis. Setiap rapper diberi kesempatan 45 detik untuk menyampaikan syairnya yang berisi kritikan untuk lawan, kecuali final yang diberi waktu 1,5 menit. Pemenangnya diambil siapa yang syairnya paling bagus dan membuat lawan tak berkutik membalasnya karena si lawan miskin kosa kata. Nah, di Aceh bisa diterapkan jika mau sedikit modern tapi kaya unsur keacehan. Pantuner versus pantuner, Wak!

Keempat, Aceh lagi-lagi patut mencontohi Jepang dalam melestarikan bahasanya. Di Jepang, penduduk aslinya tak mau berbicara bahasa Inggris. Di baliho-baliho atau bangunan-bangunan, berdasarkan orang yang sudah pernah ke sana, sangat sulit ditemui tulisan berbahasa Inggris. Jika orang asing datang ke Jepang, ia harus belajar bahasa Jepang. Bukan seperti di Aceh, sangat bangga ketika berbicara dalam bahasa Inggris ketika menjumpai orang asing. Memang sih, di satu sisi berbahasa Inggris sangat dianjurkan untuk menguasainya karena itu bahasa resmi internasional. Tapi kuasai dulu bahasa Aceh, supaya kita bisa menjadikannya salah satu bahasa resmi internasional juga. Semoga!

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry asal Pidie dan pegiat di Rumoh Aceh Community

(Opini HA 7/6/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s